Welcome...Selamat Datang...

Sabtu, 27 September 2014

Mengenal Tembang Macapat

Macapat adalah tembang atau puisi tradisional Jawa. Setiap bait macapat mempunyai baris kalimat yang disebut gatra, dan setiap gatra mempunyai sejumlah suku kata (guru wilangan) tertentu, dan berakhir pada bunyi sajak akhir yang disebut guru lagu. Macapat dengan nama lain juga bisa ditemukan dalam kebudayaan Bali, Sasak, Madura, dan Sunda. Kecuali itu macapat juga pernah ditemukan di Palembang dan Banjarmasin. Biasanya macapat diartikan sebagai maca papat-papat (membaca empat-empat), yaitu maksudnya cara membaca terjalin tiap empat suku kata. Namun ini bukan satu-satunya arti, ada juga penafsiran lainnya. Macapat diperkirakan muncul pada akhir kerajaan Majapahit dan dimulainya pengaruh Walisanga, namun hal ini hanya bisa dikatakan untuk situasi di Jawa Tengah. Karena, di Jawa Timur dan Bali macapat telah dikenal sebelum datangnya agama Islam.

Karya-karya kesusastraan klasik Jawa dari masa Mataram Baru, pada umumnya ditulis menggunakan media macapat. Sebuah tulisan dalam bentuk prosa atau gancaran pada umumnya tidak dianggap sebagai hasil karya sastra namun hanya semacam 'daftar isi' saja. Beberapa contoh karya sastra Jawa yang ditulis dalam tembang macapat termasuk Serat Wedhatama, Serat Wulangreh, dan Serat Kalatidha.

Puisi tradisional Jawa atau tembang biasanya dibagi menjadi tiga kategori: tembang cilik, tembang tengahan dan tembang gedhé. Macapat digolongkan pada kategori tembang cilik dan juga tembang tengahan, sementara tembang gedhé berdasarkan kakawin atau puisi tradisional Jawa Kuna, namun dalam penggunaannya pada masa Mataram Baru, tidak diterapkan perbedaan antara suku kata panjang ataupun pendek. Di sisi lain tembang tengahan juga bisa merujuk kepada kidung, puisi tradisional dalam bahasa Jawa Pertengahan.

Kalau dibandingkan dengan kakawin, aturan-aturan dalam macapat berbeda dan lebih mudah diterapkan menggunakan bahasa Jawa karena berbeda dengan kakawin yang didasarkan pada bahasa Sanskerta, dalam macapat perbedaan antara suku kata panjang dan pendek diabaikan.

Berikut ini kita akan mencoba mengenal 11 macam tembang macapat yang ada. Perlu dipahami bahwa urutan yang ada dari tembang macapat Mijil hingga Pocung merupakan urutan peristiwa kehidupan dari lahir hingga kematian.

1. Mijil

Mijil artinya lahir. Hasil dari olah jiwa dan raga laki-laki dan perempuan menghasilkan si jabang bayi. Setelah 9 bulan lamanya berada di rahim sang ibu, sudah menjadi kehendak Hyang Widhi (Tuhan) si jabang bayi lahir ke bumi. Disambut tangisan keras saat pertama merasakan betapa tidak nyamannya berada di alam mercapadha (kehidupan fana). Sang bayi terlanjur nyaman hidup di jaman dwaparayuga, namun harus netepi titah Gusti (melaksanakan kehendak Tuhan) untuk lahir ke bumi. Sang bayi mengenal bahasa universal pertama kali dengan tangisan memilukan hati. Tangisan yang polos, tulus, dan alamiah bagaikan kekuatan getaran mantra tanpa tinulis (tidak tertulis). Kini orang tua bergembira hati, setelah sembilan bulan lamanya menjaga sikap dan laku prihatin agar sang rena (ibu) dan si ponang (bayi) lahir dengan selamat. Puja-puji selalu dipanjat agar mendapat rahmat Tuhan Yang Maha Pemberi Rahmat atas lahirnya si jabang bayi idaman hati.

Tembang Mijil ngemu (memiliki) sifat: prihatin, ngemurasa, lega

Tembang macapat mijil laras pelog pathet barang  dengan titilaras dan cakepan dapat di-download atau dinikmati pada link berikut ini:


2. Maskumambang

Sesudah lahir si jabang bayi, membuat hati orangtua sangat bahagia. Setiap hari suka ngudang melihat tingkah polah sang bayi yang lucu dan menggemaskan. Senyum si jabang bayi membuat riang bergembira yang memandang. Setiap saat sang bapa melantunkan tembang pertanda hati senang dan jiwanya terang. Takjub memandang kehidupan baru yang sangat menantang. Namun selalu waspada jangan sampai si ponang menangis dan demam hingga kejang. Orang tua takut kehilangan si ponang, dijaganya malam dan siang agar jangan sampai meregang. Buah hati bagaikan emas segantang. Menjadi tumpuan dan harapan kedua orangtuanya mengukir masa depan. Kelak jika sudah dewasa jadilah anak berbakti kepada orang tua, nusa dan bangsa.

Tembang Maskumambang ngemu sifat : ngeres, nelangsa.

Tembang  macapat Maskumambang laras pelog pathet barang  dengan titilaras dan cakepan dapat di-download atau dinikmati pada link berikut ini :


3. Kinanthi

Awalnya berujud jabang bayi merah merekah, lalu berkembang menjadi anak yang selalu dikanthi-kanthi kinantenan orangtuanya sebagai anugerah dan berkah. Buah hati menjadi tumpuan dan harapan. Agar segala asa dan harapan tercipta, orang tua selalu membimbing dan mendampingi buah hati tercintanya. Buah hati bagaikan jembatan, yang dapat menyambung dan mempererat cinta kasih suami istri. Buah hati menjadi anugerah Ilahi yang harus dijaga siang malam. Dikanthi-kanthi (diarahkan dan dibimbing) agar menjadi manusia sejati. Yang selalu menjaga bumi pertiwi.

Tembang Kinanthi ngemu sifat : tresna, asih, seneng.

Tembang  macapat Kinanthi laras slendro pathet manyura  dengan titilaras dan cakepan dapat di-download atau dinikmati pada link berikut ini :


4. Sinom

Sinom isih enom. Jabang bayi berkembang menjadi remaja sang pujaan dan dambaan orang tua dan keluarga. Manusia yang masih muda usia. Orang tua menjadi gelisah, siang malam selalu berdoa dan menjaga agar pergaulannya tidak salah arah. Meskipun badan sudah besar namun remaja belajar hidup masih susah. Pengalamannya belum banyak, batinnya belum matang, masih sering salah menentukan arah dan langkah. Maka segala tindak tanduk menjadi pertanyaan sang bapa dan ibu. Dasar manusia masih enom (muda) hidupnya sering salah kaprah.

Tembang Sinom ngemu sifat : grapyak.

Tembang  macapat Sinom laras pelog pathet 6  dengan titilaras dan cakepan dapat di-download atau dinikmati pada link berikut ini :


5. Dhandhanggula

Remaja beranjak menjadi dewasa. Segala lamunan berubah ingin berkelana. Mencoba hal-hal yang belum pernah dirasa. Biarpun dilarang agama, budaya dan orang tua, anak dewasa tetap ingin mencobanya. Angan dan asa gemar melamun dalam keindahan dunia fana. Tak sadar jiwa dan raga menjadi tersiksa. Bagi anak baru dewasa, yang manis adalah gemerlap dunia dan menuruti nafsu angkara, jika perlu malahan berani melawan orang tua. Anak baru dewasa, remaja belum dewasa, masih sering terperdaya bujukan nafsu angkara dan nikmat dunia. Sering pula ditakut-takuti api neraka, namun tak akan membuat sikapnya  menjadi jera. Tak mau mengikuti kareping rahsa, yang ada selalu nguja hawa. Anak dewasa merasa rugi bila tak mengecap manisnya dunia. Tak peduli orang tua terlunta, yang penting hati senang gembira. Tak sadar tindak-tanduknya membuat celaka, bagi diri sendiri, orang tua dan keluarga. Cita-citanya setinggi langit, sebentar-sebentar minta duit, tak mau hidup irit. Jika tersinggung langsung sengit. Enggan berusaha yang penting apa-apa harus tersedia. Jiwanya masih muda, mudah sekali tergoda api asmara. Anak belum dewasa sering membuat orang tua ngelus dada. Bagaimanapun juga mereka buah hati yang dicinta. Itulah sebabnya orang tua tak punya rasa benci kepada pujaan hati. Hati-hati membimbing anak muda yang belum mampu membuka panca indera, salah-salah justru bisa celaka semuanya

Tembang Dhandhanggula ngemu sifat : luwes, ngresepake.

Tembang  macapat Dhandhanggula laras pelog pathet 6  dengan titilaras dan cakepan dapat di-download atau dinikmati pada link berikut ini :


6. Asmarandana

Asmarandana atau asmara dahana yakni api asmara yang membakar jiwa dan raga. Kehidupannya digerakkan oleh motifasi harapan dan asa asmara. Seolah dunia ini miliknya saja. Membayangkan dirinya bagaikan sang pujangga atau pangeran muda. Apa yang dicitakan haruslah terlaksana, tak pandang bulu apa akibatnya. Hidup menjadi terasa semakin hidup lantaran gema asmara membahana dari dalam dada. Biarlah asmara membakar semangat hidupnya, yang penting jangan sampai terlena. Jika tidak, akan menderita dikejar-kejar tanggungjawab salah pergaulan kebebasan sex. Sebaliknya akan hidup mulia dan tergapai cita-citanya. Maka sudah menjadi tugas orang tua membimbing mengarahkan agar tidak salah memilih idola. Sebab sebentar lagi akan memasuki gerbang kehidupan baru yang mungkin akan banyak mengharu biru. Seyogyanya suka meniru tindak tanduk sang gurulaku, yang sabar membimbing setiap waktu dan tak pernah menggerutu. Jangan suka berpangku namun pandailah  memanfaatkan waktu. Agar cita-cita dapat dituju. Asmarandana adalah saat-saat yang menjadi penentu, apakah dirimu akan menjadi orang bermutu, atau gagal menata kehidupan.

Tembang Asmarandana ngemu sifat : kesengsem.

Tembang  macapat Asmarandana laras slendro barang miring  dengan titilaras dan cakepan dapat di-download atau dinikmati pada link berikut ini :


7. Gambuh

Gambuh atau Gampang Nambuh, sikap angkuh serta acuh tak acuh, seolah sudah menjadi orang yang teguh, ampuh dan keluarganya tak akan runtuh. Belum pandai sudah berlagak pintar. Padahal otaknya buyar matanya nanar merasa cita-citanya sudah bersinar. Menjadikannya tak pandai melihat mana yang salah dan benar. Di mana-mana ingin diakui bak pejuang, walau hatinya tak lapang. Pahlawan bukanlah orang yang berani mati, sebaliknya berani hidup menjadi manusia sejati. Sulitnya mencari jati diri kemana-mana terus berlari tanpa henti.  Memperoleh sedikit sudah dirasakan banyak, membuat sikapnya mentang-mentang bagaikan sang pemenang. Sulit mawas diri, mengukur diri terlalu tinggi. Ilmu yang didapatkannya seolah menjadi senjata ampuh tiada tertandingi lagi. Padahal pemahamannya sebatas kata orang. Alias belum bisa menjalani dan menghayati. Bila merasa ada  yang kurang, menjadikannya sakit hati dan rendah diri. Jika tak tahan ia akan berlari menjauh mengasingkan diri. Menjadi pemuda-pemudi yang jauh dari anugrah Ilahi. Maka, belajarlah dengan teliti dan hati-hati. Jangan menjadi orang yang mudah gumunan dan kagetan. Bila sudah paham hayatilah dalam setiap perbuatan. Agar ditemukan dirimu yang sejati sebelum raga yang dibangga-banggakan itu menjadi mati.

Tembang Gambuh ngemu sifat : semanak, lucu, guyon.

Tembang  macapat Gambuh laras pelog pathet 6  dengan titilaras dan cakepan dapat di-download atau dinikmati pada link berikut ini :


8. Durma

Durma atau munduring tata krama. Dalam cerita wayang purwa (wayang kulit) dikenal  banyak tokoh dari kalangan ‘hitam’ yang jahat. Sebut saja misalnya Dursasana, Durmagati, Duryudana. Dalam terminologi Jawa dikenal berbagai istilah menggunakan suku kata dur/dura (nglengkara) yang mewakili makna negatif (awon). Sebut saja misalnya : duratmoko, duroko, dursila, dura sengkara, duracara (bicara buruk), durajaya,dursahasya, durmala, durniti, durta, durtama, udur, dan sebagainya.  Tembang Durma, diciptakan untuk mengingatkan sekaligus  menggambarkan keadaan manusia yang cenderung berbuat buruk atau jahat. Manusia gemar udur atau cekcok, cari menang dan benarnya sendiri, tak mau memahami perasaan orang lain. Sementara manusia cenderung mengikuti hawa nafsu yang dirasakan sendiri (nuruti rasaning karep). Walaupun merugikan orang lain tidak peduli lagi. Nasehat bapa-ibu sudah tidak digubris dan dihiraukan lagi. Lupa diri selalu merasa iri hati. Manusia walaupun tidak mau disakiti, namun gemar menyakiti hati. Suka berdalih niatnya baik, namun tak peduli caranya yang kurang baik. Begitulah keadaan manusia di planet bumi, suka bertengkar, emosi, tak terkendali, mencelakai, dan menyakiti. Maka hati-hatilah, yang selalu eling dan waspadha.

Tembang Durma ngemu sifat : galak, nesu.

Tembang  macapat Durma laras pelog pathet barang  dengan titilaras dan cakepan dapat di-download atau dinikmati pada link berikut ini:


9. Pangkur

Apabila usia telah uzur, datanglah penyesalan. Manusia menoleh kebelakang (mungkur) merenungkan apa yang dilakukan pada masa lalu. Manusia terlambat mengoreksi diri, kadang kaget atas apa yang pernah ia lakukan, hingga kini yang ada  tinggalah menyesali diri. Kenapa dulu tidak begini atau tidak begitu. Merasa diri menjadi manusia renta yang hina dina sudah tidak berguna.  Anak cucu kadang menggoda, masih meminta-minta sementara sudah tidak punya lagi sesuatu yang berharga. Hidup merana yang dia punya tinggalah penyakit tua. Siang malam selalu berdoa saja, sedangkan raga tak mampu berbuat apa-apa.  Hidup enggan mati pun sungkan. Lantas bingung mau berbuat apa. Tabungan menghilang sementara penyakit kian meradang. Lebih banyak waktu untuk terlentang di atas ranjang. Tak mampu lagi berteriak lantang, yang ada hanyalah mengerang terasa nyawa hendak melayang. Sanak kadhang enggan datang, karena ingat ulahnya di masa lalu yang gemar mentang-mentang.

Tembang Pangkur ngemu sifat : nepsu kang prihatin.

Tembang  macapat Pangkur laras pelog pathet 6 dengan titilaras dan cakepan dapat di-download atau dinikmati pada link berikut ini:


10. Megatruh

Megat ruh, artinya putusnya nyawa dari raga. Jika pegat tanpa aruh-aruh. Datangnya ajal akan tiba sekonyong-konyong. Tanpa kompromi sehingga manusia banyak yang disesali.  Sudah terlambat untuk memperbaiki diri. Terlanjur tidak paham jati diri. Selama ini menyembah Tuhan penuh dengan pamrih dalam hati, karena takut neraka dan berharap-harap pahala surga. Kaget setengah mati saat mengerti kehidupan yang sejati. Betapa kebaikan di dunia menjadi penentu yang sangat berarti. Untuk menggapai kemuliaan yang sejati dalam kehidupan yang azali abadi. ‘Duh Gusti, jadi begini, kenapa diri ini sewaktu masih muda hidup di dunia fana, sewaktu masih kuat dan bertenaga, namun tidak melakukan kebaikan kepada sesama’. Menyesali diri ingat dulu kala telah menjadi durjana. Sembahyangnya rajin namun tak sadar sering mencelakai dan menyakiti hati sesama manusia. Kini setelah tiba saatnya menebus segala dosa, sedih sekali ingat tak berbekal pahala. Harapan akan masuk surga, telah sirna tertutup bayangan neraka menganga di depan mata. Di saat ini manusia baru menjadi saksi mati, betapa penyakit hati menjadi penentu dalam meraih kemuliaan hidup yang sejati. Manusia tak sadar diri sering merasa benci, iri hati, dan dengki. Seolah menjadi yang paling benar, apapun tindakanya ia merasa paling pintar,  namun segala keburukannya dianggapnya demi membela diri.  Kini dalam kehidupan yang sejati, sungguh baru bisa dimengerti, penyakit hati sangat merugikan diri sendiri.

Tembang Megatruh ngemu sifat : getun, nglangut.

Tembang macapat Megatruh laras pelog pathet barang dengan titilaras dan cakepan dapat di-download pada link berikut ini:


11. Pocung

Pocung atau pocong adalah orang yang telah mati lalu dibungkus kain kafan. Itulah batas antara kehidupan mercapadha yang panas dan rusak dengan kehidupan yang sejati dan abadi. Bagi orang yang baik kematian justru menyenangkan sebagai kelahirannya kembali, dan merasa kapok hidup di dunia yang penuh derita. Saat nyawa meregang, rasa bahagia bagai lenyapkan dahaga mereguk embun pagi. Bahagia sekali disambut dan dijemput para leluhurnya sendiri. Berkumpul lagi di alam yang abadi. Kehidupan baru setelah raganya mati.

Tembang Pocung ngemu sifat: mawas diri, reflektif

Tembang macapat Pocung laras slendro pathet manyura dengan titilaras dan cakepan dapat di down load pada link di bawah ini:


Begitulah yang dapat kita pahami, maknai dan resapi tentang tembang macapat yang ternyata selain sangat indah juga mengandung pitutur (nasehat) yang sangat luhur dan bernilai. Semoga menambah wawasan serta kecintaan kita kepada warisan budaya yang sungguh bermanfaat dalam membangun kualitas hidup kita.

Salam budaya penuh cinta.

***
Solo, Sabtu, 20 September 2014
Suko Waspodo


Ilustrasi: www.antaranews.com

0 comments:

Posting Komentar