Welcome...Selamat Datang...

Padi organik petani hasil pendampingan kami

Padi Rojolele organik

Lokomotif tua di kota kecil Cepu, Blora

Lokomotif tua yang sekarang kadang-kadang digunakan untuk kereta wisata di lingkunagn perhutani Cepu-Blora.

SATE BUNTEL KHAS SOLO

Lezat dan bikin kita ketagihan.

Jajanan khas Jawa

Jajanan khas Jawa ini sekarang sering disajikan dalam acara formal maupun informal. Lengkap, rasanya bervariasi dan sehat.

Para peserta LDK di Tawangmangu

Latihan Dasar Kepemimpinan diikuti oleh sekitar 30 mahasiswa Surakarta di Tawangmangu pada tahun 2011.

Di Tanah Lot Bali

Refreshing di Bali pada tahun 2010, bersama teman-teman dosen.

Tampilkan postingan dengan label Filsafat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Filsafat. Tampilkan semua postingan

Jumat, 22 April 2022

Cara Orang-Orang Menjadi Ateis


Menguji Tiga Teori Agama Non-Kepercayaan

Poin-Poin Penting

  • Keyakinan agama tampaknya hampir universal pada manusia.
  • Jika agama bersifat universal, tantangannya adalah menjelaskan mengapa sekitar seperempat populasi dunia menjadi ateis.
  • Beberapa orang menolak keyakinan agama mereka saat dewasa, tetapi kebanyakan ateis dibesarkan dengan cara itu.

Agama adalah universal manusia. Setiap masyarakat yang pernah ada memiliki beberapa bentuk agama terorganisir yang mendominasi budayanya dan seringkali juga pemerintahannya. Karena alasan ini, banyak psikolog percaya bahwa kita memiliki kecenderungan bawaan pada keyakinan agama.

Namun di setiap masyarakat, ada juga yang menolak ajaran agama asuhannya. Terkadang mereka vokal tentang ketidakpercayaan mereka, dan di lain waktu mereka diam-diam untuk menghindari pengucilan atau yang lebih buruk. Dalam beberapa tahun terakhir, diperkirakan hingga seperempat populasi dunia adalah ateis.

Jika religiusitas — kecenderungan ke arah keyakinan religius — adalah bawaan, seperti yang diperkirakan banyak psikolog, lalu bagaimana kita bisa menjelaskan begitu banyak orang yang tidak beriman? Ini adalah pertanyaan yang dieksplorasi oleh psikolog Inggris Will Gervais dan rekan-rekannya dalam sebuah penelitian yang baru-baru ini mereka terbitkan di jurnal Social Psychological and Personality Science.

Mengapa Agama Hampir Universal?

Menurut Gervais dan koleganya, ada tiga teori utama yang menjelaskan tentang universalitas kepercayaan beragama. Masing-masing juga memiliki penjelasan tentang bagaimana beberapa orang menjadi ateis.

Teori sekularisasi menyatakan bahwa agama adalah produk dari praktik dan transmisi budaya. Menurut pandangan ini, agama muncul untuk melayani kebutuhan sosial baru seiring dengan perkembangan peradaban manusia. Misalnya, itu membantu menegakkan moralitas dengan menciptakan dewa yang selalu menonton yang menghukum perilaku buruk di kehidupan selanjutnya jika bukan yang ini. Itu juga memberikan legitimasi kepada pemerintah melalui sanksi ilahi. Akhirnya, ini memberikan cara untuk meredakan kekhawatiran eksistensial dari orang-orang biasa — yaitu, kekhawatiran yang kita semua miliki tentang kesehatan dan kebahagiaan diri kita sendiri dan orang yang kita cintai. Sungguh menghibur mengetahui bahwa tuhan menjaga kepentingan terbaik kita.

Teori sekularisasi juga merumuskan prediksi tentang bagaimana orang menjadi ateis dengan mengkaji apa yang disebut tren “pasca-Kristen” di Eropa Barat sejak paruh terakhir abad kedua puluh. Karena negara-negara ini telah mengembangkan jaring pengaman sosial yang kuat, perawatan kesehatan universal, dan kelas menengah yang stabil, kehadiran dan afiliasi keagamaan turun drastis. Menurut pandangan ini, pemerintahan yang menafkahi kemaslahatan rakyat tidak membutuhkan sanksi ilahi. Dan karena orang-orang tidak lagi memiliki kepedulian terhadap eksistensi, mereka juga tidak membutuhkan agama.

Teori produk sampingan kognitif berpendapat bahwa agama muncul dari proses pemikiran bawaan yang muncul untuk melayani fungsi lain. Manusia sangat pandai memahami pikiran dan emosi orang lain, dan kemampuan "membaca pikiran" inilah yang membuat kita begitu sukses sebagai spesies sosial yang kooperatif. Tetapi kemampuan ini "hiperaktif", mengarahkan kita untuk juga "membaca pikiran" benda mati atau aktor gaib hipotetis.

Dengan catatan ini, setiap laporan diri tentang ateisme hanya masuk "sedalam-dalamnya", di mana orang-orang yang tidak percaya harus secara aktif menekan perasaan religius bawaan mereka setiap saat. Seperti yang sering dikatakan selama perang, "Tidak ada ateis di lubang perlindungan." Sikap demikian didasarkan pada anggapan bahwa religiusitas adalah bawaan lahir.

Teori produk sampingan kognitif memprediksi bahwa beberapa orang menjadi ateis karena mereka memiliki keterampilan berpikir analitis yang kuat, yang mereka gunakan untuk mengevaluasi secara kritis keyakinan agama mereka.

Teori pewarisan ganda menyatakan bahwa kepercayaan agama berasal dari kombinasi pengaruh genetik dan budaya, oleh karena itu dinamakan demikian. Menurut pandangan ini, kita mungkin memiliki kecenderungan bawaan terhadap keyakinan agama, tetapi keyakinan khusus harus ditanamkan selama masa kanak-kanak. Teori ini menjelaskan agama yang hampir universal serta beragam pengalaman religius yang kita amati lintas budaya.

Sementara teori pewarisan ganda mengakui keberadaan intuisi keagamaan bawaan, ia juga menyatakan bahwa intuisi tersebut perlu dipicu oleh pengalaman religius yang sebenarnya. Jadi, ia mengusulkan agar orang-orang menjadi ateis ketika mereka tidak dihadapkan pada kepercayaan atau praktik agama saat masih anak-anak.

Jika Agama Itu Universal, Mengapa Ada Ateis?

Untuk menguji teori mana yang paling baik memprediksi bagaimana orang menjadi ateis, Gervais dan rekannya mengumpulkan data dari lebih dari 1400 orang dewasa yang menyusun sampel representatif dari populasi Amerika. Para peserta ini menanggapi pertanyaan yang dimaksudkan untuk mengukur tingkat keyakinan agama mereka serta berbagai jalur yang diusulkan menuju ketidakpercayaan beragama. Ini termasuk perasaan aman eksistensial (teori sekularisasi), kemampuan berpikir analitis (teori produk sampingan kognitif), dan paparan praktik keagamaan di masa kanak-kanak (teori pewarisan ganda).

Hasilnya menunjukkan bahwa hanya satu dari tiga jalur yang diusulkan yang secara kuat memprediksi ateisme. Hampir semua ateis dalam sampel ini menunjukkan bahwa mereka dibesarkan di rumah tanpa agama.

Jika dipikir-pikir, temuan ini tidak mengejutkan. Bagaimanapun, umat Katolik suka mengatakan bahwa jika mereka memiliki anak hingga usia tujuh tahun, mereka akan memilikinya seumur hidup. Dan meskipun tidak jarang orang beralih dari agama masa kanak-kanak mereka ke keyakinan yang berbeda di masa dewasa, sangat jarang orang yang dibesarkan tanpa agama untuk mengadopsinya di kemudian hari.

Mereka yang meninggalkan agama mereka di kemudian hari selalu menunjukkan kemampuan berpikir analitis yang kuat. Namun demikian, banyak orang beragama yang menunjukkan kemampuan ini juga. Dengan kata lain, hanya karena Anda pandai berpikir logis, bukan berarti Anda harus meninggalkan keyakinan agama Anda.

Yang paling mengejutkan para peneliti adalah bahwa mereka tidak menemukan dukungan untuk teori sekularisasi. Kecenderungan pasca-Kristen di Eropa Barat telah lama dijadikan model bagaimana tidak hanya individu tetapi seluruh masyarakat dapat menjadi ateis. Tetapi data dari studi ini menunjukkan bahwa proses sekularisasi mungkin lebih kompleks dari yang diperkirakan sebelumnya.

Proses Dua Langkah untuk Kehilangan Keyakinan Anda

Gervais dan rekannya mengusulkan model dua langkah dalam kasus Eropa Barat. Dalam kehancuran setelah Perang Dunia II, generasi pasca perang kehilangan kepercayaan pada legitimasi Gereja sebagai pembela moralitas dan pelindung rakyat. Karena mereka berhenti secara aktif mengamalkan iman mereka, anak-anak mereka tumbuh tanpa agama dan menjadi ateis, seperti yang diprediksikan oleh model pewarisan ganda.

Saya menduga ada alasan lain mengapa studi khusus ini gagal menemukan dukungan untuk teori sekularisasi. Teori tersebut berpendapat bahwa tujuan agama adalah untuk meredakan kekhawatiran yang ada, tetapi ketika pemerintah menyediakan jaring pengaman sosial dari rahim ke makam, agama tidak lagi diperlukan.

Semua responden dalam penelitian ini adalah orang Amerika. Di Amerika Serikat, sistem jaminan sosial lemah, dan perawatan kesehatan universal tidak ada. Hampir semua orang Amerika, terlepas dari pendapatan mereka, khawatir kehilangan asuransi kesehatan jika kehilangan pekerjaan, dan khawatir kehilangan rumah dan tabungan hidup jika memiliki masalah kesehatan yang serius. Dengan kata lain, orang Amerika percaya pada agama mereka karena mereka tidak percaya pada pemerintah mereka untuk menjaga mereka.

Singkatnya, manusia mungkin memiliki kecenderungan bawaan terhadap agama, tetapi ini tidak berarti bahwa orang akan mengembangkan keyakinan religiusnya sendiri jika tidak terpapar pada mereka di masa kanak-kanak. Agama memberikan kenyamanan bagi orang-orang di dunia yang tidak pasti dan menakutkan, namun kita juga melihat bahwa ketika pemerintah menyediakan kesejahteraan rakyat, mereka tidak lagi membutuhkan agama. Mengingat rekam jejak di Eropa Barat selama setengah abad terakhir, jelas bahwa pemerintah dapat menenangkan kekhawatiran eksistensial massa jauh lebih efektif daripada yang pernah dilakukan Gereja.

***
Solo, Sabtu, 24 April 2021. 8:39 am
'salam sehat penuh cinta'
Suko Waspodo
antologi puisi suko
ilustr: Homegrown

Rabu, 23 Maret 2022

Jika Kelak Semua Pekerjaan Dilakukan Robot, Masihkah Hidup Memiliki Arti?


Jika teknologi membuat pekerjaan tidak diperlukan, apakah hidup kita akan menjadi tidak berarti?

Misalkan suatu saat di masa depan teknologi akan berkembang sedemikian rupa sehingga orang tidak perlu bekerja sama sekali. Komputer, robot, dan mesin lain akan begitu berkembang sehingga mereka akan melakukan semua pekerjaan yang dilakukan orang sekarang. Beberapa futurolog berpendapat bahwa hal ini sangat mungkin terjadi.

Mungkinkah hidup masih bermakna di masa depan tanpa pekerjaan? John Danaher membahas pertanyaan ini dalam makalahnya “Akankah Hidup Layak untuk Hidup di Dunia Tanpa Pekerjaan?”

Salah satu argumen yang dikemukakan Danaher tentang pandangan bahwa hidup akan bermakna di dunia yang tidak bekerja menekankan bahwa saat ini, kebanyakan pekerjaan merongrong makna. Pekerjaan kebanyakan orang di dunia ini berulang, tidak menarik, merendahkan emosi, membosankan secara intelektual, dan membuat mereka terintimidasi oleh supervisor dan rekan kerja. Banyak orang meninggalkan pekerjaan di penghujung hari dengan perasaan terkuras secara emosional dan fisik. Dan kebanyakan tidak secara mandiri memilih untuk bekerja; mereka bekerja karena mereka harus, dan mereka tidak akan bekerja jika mereka memiliki sarana untuk menghindarinya. Dalam semua hal ini, pekerjaan tampaknya mengurangi makna hidup bagi banyak orang, dan membebaskan mereka darinya mungkin juga membebaskan mereka untuk memiliki kehidupan yang lebih bermakna.

Argumen lain yang dikemukakan Danaher untuk pandangan bahwa hidup di dunia yang tidak bekerja akan bermakna didasarkan pada klaim Bertrand Russell bahwa orang-orang yang bertanggung jawab atas perkembangan ilmiah, budaya, dan politik yang membuat hidup mereka bermakna secara tradisional adalah dari "kelas rekreasi" yang tidak harus bekerja untuk mencari nafkah. Russell menyimpulkan bahwa membebaskan lebih banyak orang ke "kelas rekreasi" akan memungkinkan lebih banyak orang memiliki kehidupan yang bermakna. Klaimnya menunjukkan bahwa di dunia tanpa pekerjaan, di mana semua akan menjadi anggota sejenis "kelas rekreasi", hidup bisa menjadi sangat berarti.

Namun, klaim Russell tampaknya tidak benar secara historis. Rembrandt, Mozart, Newton, Kant, Shakespeare, Einstein, dan hampir semua pilar budaya dan sains lainnya tidak termasuk dalam "kelas rekreasi". Mereka bekerja untuk mencari nafkah, dan tidak jelas apakah mereka akan mengembangkan apa yang mereka lakukan jika mereka tidak harus bekerja.

Di atas adalah dua argumen yang dikemukakan Danaher tentang pandangan bahwa hidup di dunia tanpa pekerjaan akan bermakna. Namun Danaher juga mempertimbangkan beberapa argumen untuk pandangan yang berlawanan, yaitu sulit atau tidak mungkin untuk mempertahankan makna hidup di dunia yang tidak bekerja. Salah satu argumen untuk pandangan kedua ini menunjukkan bahwa pekerjaan adalah apa yang memungkinkan banyak orang untuk mengembangkan keterampilan mereka, mencapai keunggulan, menjadi efektif, berkontribusi, menjadi bagian dari komunitas profesional, dan membuat perbedaan di dunia. Semua ini adalah aspek kehidupan yang bermakna, dan dunia yang tidak bekerja mungkin akan membuat orang-orang menderita dari sumber-sumber makna kehidupan ini.

Namun, Danaher menjawab bahwa mungkin banyak dari sumber makna ini juga dapat dipertahankan di dunia yang tidak bekerja. Orang juga dapat menjadi efektif, membuat perbedaan, dan mencapai keunggulan, keterampilan, dan komunitas saat terlibat dalam aktivitas rekreasi (seperti olahraga atau seni). Sekali lagi, tidak jelas apakah, bebas dari kebutuhan untuk bekerja, orang akan menggunakan waktunya untuk terlibat dalam kegiatan waktu senggang yang meningkatkan makna atau hanya akan membuang-buang waktu mereka.

Argumen menarik lainnya yang dikemukakan Danaher untuk klaim bahwa akan sulit atau tidak mungkin mempertahankan makna dalam kehidupan di dunia yang tidak bekerja berkaitan dengan klaim Thaddeus Metz bahwa kebermaknaan diwariskan dalam tiga domain utama. Metz membahas ranah kebaikan (yang banyak berkaitan dengan moralitas), ranah kebenaran (berkaitan dengan upaya dan pencapaian intelektual), dan keindahan (yang banyak berkaitan dengan seni atau estetika).

Danaher berargumen bahwa di dunia super-teknologis dan tanpa pekerjaan ini akan lebih sulit, atau tidak mungkin, untuk menemukan makna dalam domain kebaikan. Misalnya, orang yang lapar tidak perlu bersedekah. Demikian pula, robot akan merawat orang sakit dengan sangat baik. Dan donasi ginjal tidak diperlukan lagi berkat manipulasi sel induk dan printer 3D.

Hal yang sama berlaku untuk domain kebenaran. Dalam masa depan teknologi yang sangat maju, komputer yang sangat maju dengan database yang besar juga akan membuat banyak pekerjaan intelektual yang membuat hidup bermakna, seperti dalam sains. Teknologi komputer kemungkinan besar akan begitu berkembang sehingga mereka akan memelihara, meningkatkan dan mengembangkan diri mereka sendiri, dan akan menyelesaikan lebih baik daripada kebanyakan masalah intelektual yang bisa orang lain.

Dengan demikian, tampaknya setidaknya dalam dua domain utama makna kehidupan, banyak pekerjaan yang sekarang kita lakukan dan memberikan kehidupan dengan makna tidak akan ada. Ini bisa menjadi masalah nyata bagi makna hidup. Mungkin makna masih bisa didapat dalam domain keindahan.

Artikel Danaher tentu saja lebih rumit daripada yang disarankan oleh beberapa argumen yang disajikan di sini. Secara keseluruhan, bagaimanapun, meskipun dia mengakui keuntungan besar dalam membebaskan umat manusia dari jenis-jenis pekerjaan yang lazim saat ini dan merusak makna, dia agak pesimis tentang makna hidup di dunia tanpa pekerjaan.

Saya sedikit lebih optimis di sini daripada Danaher. Saya pikir di dunia yang super-teknologi dan tidak bekerja seperti itu, orang dapat menemukan banyak makna tidak hanya dalam bidang keindahan (menciptakan dan menikmati seni dan keindahan) tetapi juga dalam agama dan hubungan antarpribadi seperti cinta atau persahabatan. Tetapi saya menyarankan agar orang juga dapat menemukan makna dalam mengembangkan diri mereka dalamranah  intelektual kebenaran, meskipun bukan untuk kepentingan pekerjaan dan meskipun komputer bisa "berpikir" lebih baik, sama seperti saat ini orang menemukan makna menjadi pecatur yang ulung sekalipun komputer bisa "bermain" catur lebih baik dari manusia. Lebih jauh, dunia super-teknologi ini, di mana kebaikan tidak lagi diperlukan, juga akan terbebas dari kesulitan seperti depresi dan kecemasan yang, saat ini, menghilangkan makna dalam kehidupan banyak orang.

Oleh karena itu, jika dunia super-teknologis, tanpa pekerjaan yang dibahas Danaher akan terwujud, saya menduga bahwa makna dalam kehidupan orang-orang rata-rata akan lebih tinggi daripada sekarang.

***
Solo, Rabu, 24 Februari 2021. 2:43 pm
'salam damai penuh cinta'
Suko Waspodo
antologi puisi suko
ilustr: Human Resource

 

Jumat, 30 Juli 2021

Alam Semesta Terbuat Dari Matematika

Max Tegmark adalah kosmolog Swedia-Amerika yang saat ini mengajar di MIT. Dia telah membuat kontribusi penting untuk fisika, seperti mengukur materi gelap dan memahami bagaimana cahaya dari alam semesta awal menginformasikan model Big Bang tentang asal usul alam semesta. Dia juga telah mengusulkan Theory of Everything. Theory of Everything-nya dikenal sebagai Ultimate Ensemble atau dengan nama yang lebih menarik perhatian, Mathematical Universe Hypothesis (Hipotesis Universe Matematika). Hipotesis ini dapat diringkas dalam satu frasa: "Realitas fisik eksternal kita adalah struktur matematika." Dalam kasus ini, 'struktur matematika' berarti seperangkat entitas abstrak, seperti angka, dan hubungan matematika di antara mereka. Jadi Hipotesis Universe Matematika menyatakan bahwa matematika bukan hanya alat yang berguna yang telah kita ciptakan untuk menggambarkan alam semesta. Alih-alih, matematika sendiri mendefinisikan dan menyusun alam semesta. Dengan kata lain, alam semesta fisik adalah matematika. Ini adalah pernyataan yang sangat aneh dan berani, dan pada pandangan pertama itu tidak mudah untuk membungkus kepala kita di sekitarnya, tetapi mari kita coba.

Tegmark dan Plato

Hipotesis Universe Matematika memiliki sifat yang sangat filosofis. Ini dapat dianggap sebagai bentuk Platonisme, filosofi Plato, yang berpendapat bahwa gagasan abstrak tertentu memiliki eksistensi independen yang nyata di luar pikiran kita. Demikian pula, hipotesis Tegmark berpendapat bahwa entitas matematika seperti angka ada secara independen dari kita - entitas abstrak ini bukan hanya imajiner; mereka ada sebagai bagian dari realitas pikiran-independen. Dalam arti tertentu, hipotesis Tegmark jauh melampaui Platonisme, karena Tegmark mengklaim bahwa pada akhirnya hanya objek matematika yang ada dan tidak ada yang melakukannya! Dalam kata-katanya sendiri, “hanya ada matematika; hanya itu yang ada ”(Majalah Discover, Juli 2008). Posisi ini dikenal sebagai matematika monisme.

Beberapa orang mungkin memandang monisme matematika Tegmark sebagai posisi yang ekstrem dan tidak masuk akal, karena fakta bahwa kita tidak pernah melihat benda-benda matematika ini, sedangkan kita memandang dunia fisik, penuh dengan objek fisik. Berdasarkan pengalaman kita, akan terlihat bahwa tidak ada bukti untuk keberadaan objek matematika, sedangkan tidak ada bukti yang tidak dapat dihindari untuk dunia fisik. Namun, dalam makalahnya 'The Mathematical Universe' dalam Foundations of Physics (2007), Tegmark berpendapat bahwa, “di dunia yang cukup kompleks untuk mengandung substruktur sadar diri mereka secara subyektif akan menganggap diri mereka ada dalam realitas fisik ' 'dunia. " Jadi kita tidak perlu terkejut menemukan bahwa kita mempersepsikan dunia fisik, karena persepsi ini adalah hasil yang tak terhindarkan dari alam semesta matematika yang cukup kompleks. Pada akhirnya, kemudian, persepsi kita tentang dunia fisik adalah karena sifat kesadaran kita, dan bukan karena sifat sejati alam semesta itu sendiri.

Dalam satu hal ini mirip dengan kepercayaan Plato bahwa pikiran biasa tidak dapat mengerti atau bahkan memahami sifat sebenarnya dari berbagai hal. Sifat sejati dari segala sesuatu, menurut Plato, dapat ditelusuri ke apa yang ia sebut Formulir atau Ide, yang abstrak, abadi, pola dasar, entitas non-fisik. Untuk melampaui penampilan ilusi, kita perlu menggunakan alasan untuk mengungkap sifat asli mereka, bukan persepsi visual atau lainnya. Ini, menurutnya, hanya mereka yang terlatih dalam filsafat yang bisa melakukannya.

Demikian pula, Tegmark berpendapat bahwa ada dua cara yang mungkin untuk melihat kenyataan; dari dalam struktur matematika, dan dari luar itu. Kita melihatnya dari dalamnya, dan melihat realitas fisik yang ada dalam waktu. Dari sudut pandang (murni hipotetis), Tegmark berpikir bahwa hanya ada struktur matematika yang ada di luar waktu. Beberapa orang mungkin menanggapi hal ini dengan mengatakan bahwa gagasan 'di luar waktu' dan 'keabadian' semakin mendekati mistik.

Penalaran dan Sains Matematika

Memang, Tegmark mengakui bahwa ia adalah sebagian kecil dari ilmuwan yang meyakini Hipotesis Matematika Semesta. Butuh beberapa saat sebelum ide-idenya dipublikasikan di jurnal ilmiah, dan dia diperingatkan bahwa HMS-nya akan merusak reputasi dan kariernya. Tetapi ada beberapa alasan mengapa orang percaya. Fisikawan Eugene Wigner menulis sebuah esai berjudul 'Efektivitas Tidak Masuk Akal Matematika dalam Ilmu Pengetahuan Alam' (Communications in Pure and Applied Mathematics, vol. 13, No.1, 1960), yang menanyakan mengapa alam begitu akurat dijelaskan oleh matematika. Tegmark menjawab bahwa keefektifan matematika yang tidak masuk akal dalam menggambarkan realitas menyiratkan bahwa matematika adalah fondasi realitas yang sebenarnya.

Pemikir Yunani kuno, Pythagoras dan para pengikutnya juga percaya bahwa alam semesta dibangun di atas atau dari matematika; sementara Galileo mengatakan bahwa alam adalah "buku besar" yang ditulis dalam "bahasa matematika." Tetapi ada baiknya juga mengingatkan diri kita sendiri bahwa ada orang-orang yang berpikir matematika adalah murni penemuan manusia, meskipun sangat bermanfaat. Sebagai contoh, dalam buku mereka Where Mathematics Comes From (2001), George Lakoff dan Rafael Nunez menyatakan bahwa matematika muncul dari otak kita, pengalaman kita sehari-hari, dan dari kebutuhan masyarakat manusia, dan bahwa matematika hanyalah hasil dari kemampuan kognitif manusia normal, terutama kapasitas untuk metafora konseptual - memahami satu ide dalam hal yang lain. Matematika efektif karena merupakan hasil evolusi, bukan karena memiliki dasar dalam realitas objektif: angka atau prinsip matematika bukanlah kebenaran independen. (Namun, para penulis ini memuji penemuan matematika sebagai salah satu penemuan terbesar dan paling cerdik yang pernah dibuat). Versi ekstrem dari gagasan evolusi ini adalah fiksi matematika yang dikemukakan oleh Hartry Field dalam bukunya, Science Without Numbers (1980) . Field mengatakan bahwa matematika tidak sesuai dengan sesuatu yang nyata. Sebaliknya dia percaya bahwa matematika adalah semacam fiksi yang berguna: bahwa pernyataan seperti ‘2 + 2 = 4 'sama fiktif dengan pernyataan seperti‘ Harry Potter tinggal di Hogwarts ’. Kita tahu apa artinya, tetapi pernyataan mereka tidak sesuai dengan apa pun yang nyata.

Tegmark di Multiverse

Menariknya, Hipotesis Matematika Semesta Tegmark juga berkaitan dengan hipotesis multiverse, di mana ia berpendapat bahwa semua struktur yang ada secara matematis juga ada secara fisik. Ini berarti bahwa segala sesuatu yang dapat dijelaskan oleh matematika benar-benar ada. Oleh karena itu, ada bahwa alam semesta lain di mana saya tidak ada, sedangkan ada saya dalam jumlah tak terbatas di alam semesta lain.

Tegmark juga menulis dalam makalahnya 'Parallel Universes' dalam Science and Ultimate Reality (JD Barrow, PCW Davies, & CL Harper, eds, 2003), bahwa Hipotesis Ultimate Ensemble / Matematika Universe mencakup semua tingkatan multiverse, di mana ia mengatakan bahwa ada empat tipe atau level. Jenis multiverse pertama adalah alam semesta yang tak terbatas dalam ruang di mana ada wilayah yang tidak dapat kita amati, tetapi yang mungkin mirip (atau bahkan identik) dengan wilayah yang bisa diamati. Untuk jenis multiverse ini, konstanta fisik dan hukum adalah sama di mana-mana.

Tipe kedua adalah multiverse di mana beberapa wilayah ruang membentuk alam semesta gelembung yang tidak berinteraksi, seperti kantong gas dalam sepotong roti yang naik. Gelembung yang berbeda mungkin memiliki konstanta fisik dasar yang berbeda, seperti kekuatan gravitasi, berat elektron, dan sebagainya.

Jenis atau tingkat multiverse ketiga, adalah di mana semua tindakan yang mungkin terjadi benar-benar terjadi di alam semesta yang terpisah atau paralel. Jika, misalnya, saya memutuskan untuk naik bus ke tempat kerja alih-alih kereta, kenyataan akan terpecah pada titik keputusan saya sehingga akan ada alam semesta lain, yang sama nyatanya, di mana saya naik kereta untuk bekerja dan tidak bus. Gagasan ini awalnya merupakan interpretasi mekanika kuantum banyak-dunia Hugh Everett, dan itu cukup umum dalam komunitas fisika. Multiverse Tingkat III dapat dianggap sebagai pohon dengan jumlah cabang yang tak terbatas, di mana setiap peristiwa kuantum yang memungkinkan menciptakan alam semesta baru dan karenanya menandakan pertumbuhan cabang baru.

Tegmark menulis, "Satu-satunya perbedaan antara Level I dan Level III adalah di mana doppelgänger anda berada." Dalam konsep Level I multiverse, doppelgänger saya (salinan) hidup ada di tempat lain di alam semesta yang sama dengan saya; sedangkan di Level III mereka ada di alam semesta yang berbeda sama sekali.

Tipe multiverse Level IV adalah Ultimate Ensemble, dan berisi semua level multiverse lainnya, atau menjelaskan semua level lainnya. Inilah sebabnya mengapa Ensemble Tertinggi dianggap sebagai Teori Segalanya - karena itu dapat menjelaskan setiap alam semesta yang mungkin ada. Bagi Tegmark, setiap alam semesta yang berbeda pada akhirnya adalah struktur matematika yang berbeda.

(Materials provided by Philosophy Now)

***
Solo, Jumat, 15 Mei 2020. 1:41 pm
'salam hangat penuh cinta'
Suko Waspodo
antologi puisi suko
ilustr: World of Mathematics © Ken Laidlaw 2016
 

Kamis, 13 Agustus 2020

Tuhan dan Jati Diri Manusia


Penciptaan manusia oleh Tuhan menimbulkan beberapa pertanyaan. Salah satunya adalah, apakah berhadapan dengan Tuhan Sang Pencipta manusia dapat mempertahankan jati diri serta kebebasannya?

Dalam pertanyaan tersebut termuat kekhawatiran bahwa manusia tidak bebas lagi dan lebih mendalam bahwa dengan adanya Tuhan manusia mesti terasing dari dirinya sendiri. Mengapa demikian? Karena lalu Tuhanlah yang mengerjakan segala-galanya, Tuhan tujuan segala-galanya, segala-galanya diarahkan kepada Tuhan, jadi bukan pada manusia.

Tetapi, kekhawatiran ini mengabaikan sesuatu yang sangat penting: transendensi dan imanensi Tuhan. Keduanya berarti bahwa Tuhan tidak bersaing dengan kita. Tuhan tidak berkarya di dataran yang sama dengan kita. Lain hal hubungan antar manusia atau manusia dengan mobil. Kalau satu pribadi adalah the boss, yang lain-lain harus tunduk terhadapnya, senang atau tidak senang. Maka, seorang bawahan memang berada dalam bahaya terasing dari aspirasi, kesenangan dan keyakinannya sendiri.

Begitu pula pengemudi mobil mewah dapat memilih sendiri apakah mau memakai persneling otomatis atau menentukan sendiri giginya. Apabila ia memilih yang seratus persen otomatis, tinggal ia tekan pedal gas. Adalah mesin yang memilih persneling mana paling efektif untuk naik sebuah tanjakan. Jika ia ingin tetap in control, ia mengubah persneling secara manual. Pokoknya, semakin kuasa manusia, semakin tidak berperan mesin dan sebaliknya.

Namun lain hal hubungan Sang Pencipta dengan ciptaan-Nya. Disitu berlaku bahwa ciptaan semakin mandiri semakin ciptaan tergantung dari Sang Pencipta. dalam arti apa? Dalam arti bahwa "tergantung dari Sang Pencipta" berarti menerima eksistensi daripada-Nya. Semakin tinggi eksistensinya, maka semakin ciptaan itu tergantung dari Pencipta-Nya, semakin ia memiliki eksistensi yang lebih kuat, lebih mampu untuk bertidak sendiri.

Contoh untuk itu adalah 'cinta'. Secara ideal, dalam cinta sempurna dua orang sama sekali tergantung satu dari yang lain, dalam arti, yang satu seakan-akan tidak dapat hidup tanpa yang lain. Akan tetapi, ketergantungan itu justru tidak memperlemah, melainkan memperkuat identitas dan kemandirian keduanya masing-masing.

Pribadi yang terikat cinta yang benar adalah paling mampu untuk mengembangkan diri, untuk menyumbangkan sesuatu bagi pribadi lain, dan dalam itu ia tetap bahagia. Ketergantungan dalam cinta tidak melumpuhkan atau membuat pasif melainkan memobilisasikan wawasan-wawasan dan energi-energi baru.

Manakala pribadi menyerahkan diri ke tangan Tuhan, tidak perlu khawatir kehilangan jati diri serta kebebasannya atau menjadi seperti wayang tak bernyawa yang hanya dimainkan. Ia justru akan mengalami pemuncakan otonominya, sebuah otonomi yang memang bukan sewenang-wenang, melainkan bersedia untuk menerima tanggungjawabnya.

***
Solo, Minggu, 12 Mei 2019. 9:29 am
'salam damai penuh cinta'
Suko Waspodo
antologi puisi suko
kompasiana
pepnews
ilustr: tribunnews

Selasa, 16 Oktober 2018

Saling Ketergantungan



'No man is an island' itulah pepatah populer untuk mengungkapkan ketergantunganku terhadap orang lain.  Namun kenyataan menunjukkan masih sering aku tidak mau atau melupakan makna ketergantungan itu.

Pernahkah aku bersyukur atas peran siapa eksistensiku. Pastilah orangtuaku, pertama tentu ibu dan selanjutnya tentu bidan atau dokter atau siapa pun yang membantu persalinan ibu.

Keberadaanku hingga saat ini atas peran orang lain. Apa jadinya jika aku tidak dilahirkan? Apa jadinya jika telah lahir namun kemudian aku dibunuh, entah oleh siapa pun? Aku dan kehidupanku saat ini tetap ada karena aku masih dikehendaki. Aku masih diterima oleh yang lain.

Jika aku tidak dibantu orang lain dalam latihan berbicara mungkin tidak akan bisa banyak bicara. Kosa kataku terbatas atau malahan hanya bisa menirukan suara binatang atau suara-suara lain di sekelilingku.

Apa jadinya seandainya sejak bayi aku dibiarkan di hutan belantara, terlantar dan akhirnya ditemukan oleh seekor monyet besar seperti 'ibu' Tarzan dalam cerita fiksi? Aku hanya akan memiliki peradaban layaknya seekor monyet.

Seandainya tidak ada para penemu kemajuan, apa jadinya kehidupanku? Aku hanya  makan bahan-bahan mentah, karena tidak ada yang menemukan menu makanan. Aku hanya berpakaian daun-daunan karena tak ada kain tercipta. Aku hanya tinggal di atas pohon atau di dalam gua, karena tak ada para penemu bentuk rumah.

Aku akan hidup di zaman primitif dan bahkan liar sekedar survive, tak ada bedanya dengan binatang dan tumbuhan. Tak ada bedanya manusia dengan ciptaan yang lain.

Dalam kondisi ini pun aku sangat tergantung dengan seluruh ciptaan. Tergantung pada tumbuhan atau binatang yang aku makan tergantung pada lingkungan dimana aku tinggal. Cuaca yang mengkondisikan.

Namun inilah manusia yang dikaruniai akal budi, pikiran dan kehendak bebas. Keinginan untuk hidup lebih nyaman melahirkan inovasi-inovasi. Aku membutuhkan aku aku yang lain alias kamu kamu dan kamu serta seluruh ciptaan yang ada.

Ketergantungan adalah sebuah keniscayaan. Aku baru layak  serta bermakna menjadi manusia manakala bersama dengan manusia yang lain. Inilah aku yang senantiasa tidak mungkin mampu memenuhi diri sendiri.

(sebuah renungan tentang kehidupan)

***
Solo, Minggu, 23 September 2018
'salam damai penuh cinta'
Suko Waspodo
kompasiana
antologi puisi suko
ilustrasi: jokowarino 

Senin, 30 Juli 2018

Berbicara dalam Diam


Dalam buku The World of Silence (Dunia Keheningan), Picard mengamati bahwa dalam keheningan kita terhubung dengan generasi masa lalu dan generasi masa depan. Mungkin kita juga paham dengan peribahasa 'diam adalah emas'. Ada pula yang mengatakan bahwa diam adalah nilai keutamaan manusia yang penting. Dan menurut masyarakat Afrika, salah satu hal penting yang perlu diupayakan manusia adalah kemampuan untuk berbicara secukupnya agar terbukalah kesempatan bagi keheningan yang berguna bagi semua orang.

Diam, bagi orang Afrika asli bukanlah sesuatu yang pasif atau vakum, juga bukan suatu keadaan tanpa kata dan pembicaraan, melainkan suatu suara yang aktif dan positif yang mendorong pemikiran dan refleksi yang dapat meningkatkan mutu pembicaraan selanjutnya. Dalam diamlah, refleksi konstruktif tentang diri sendiri, nilai dan makna hidup dimungkinkan.

Sementara itu, suara dianggap sebagai kebalikan. Suara membuat kita mengabaikan kesulitan yang sedang kita hadapi dan milik kita yang paling berharga, yaitu waktu dan diri kita yang sejati. Memang, menghadapi ini kebenaran diri sendiri dan menjadi jujur terhadap diri sendiri itu seringkali menyakitkan. Itulah sebabnya kita kemudian mencari pelarian pada suara-suara untuk keluar dari ketakutan menemukan kedalaman dari kekosongan kita. Singkatnya, kita takut akan keheningan. Kita begitu takut untuk hanya bersama diri sendiri dan merasuk pada diri yang terdalam.

Dalam kebijaksanaan Aborigin Afrika, ada beberapa tingkatan nilai keheningan. Pertama, disposisi untuk tetap diam menunjukkan kemampuan seseorang untuk mengendalikan mulutnya dan kecenderungannya berbicara. Seseorang yang telah dewasa haruslah mampu mengendalikan mulutnya, terutama ketika sedang marah dan emosi. 

Misalnya, kita haruslah diam ketika teman kita sedang berbicara dalam kemarahan dan tak terkendali. Saatnya untuk diam juga ketika kita sedang marah dan emosi tidak stabil. Secara singkat, kebijaksanaan ini mengajak semua orang mengembangkan kemampuan untuk tetap diam pada saat yang tepat. Ada saatnya untuk berbicara dan ada saatnya untuk diam.

Kedua, diam pada tingkatan yang lain adalah suatu kondisi yang sangat baik untuk mendengarkan dengan seksama. Seorang pendengar yang baik adalah harta karun. Di zaman sekarang, kemauan untuk mendengarkan dengan sungguh-sungguh jarang kita temukan. Padahal, ini adalah nilai yang sangat penting bagi kita. 

Kata-kata yang diucapkan membutuhkan telinga yang mendengarkan, sama seperti kata-kata yang tertulis membutuhkan mata yang membacanya. Mendengarkan dalam keheningan sangat penting bagi hubungan antarmanusia. Pembicara yang baik adalah ia yang menyediakan waktu hening juga ketika berbicara. Jeda hening inilah yang mengandung kesempatan untuk berfikir dan berefleksi.

Lebih lanjut, hening adalah unsur penting dari semua praktik agama. Dalam pencarian akan Dia yang Mahabesar, pencapaian spiritual yang sejati hanya bisa dicapai melalui introspeksi, yang dilakukan dalam hening. Hanya dalam keheningan, hati seseorang bisa berhadap-hadapan dengan dirinya dan berefleksi tentang pertanyaan-pertanyaan penting, seperti Siapakah aku? 

Maharai, seorang komentator mistik abad ke-16, menjelaskan bahwa kegiatan berbicara itu adalah aspek fisik manusia. Karena itulah, ketika berbicara, aspek fisik lah yang mengendalikan kita. Diam, memungkinkan dimensi spiritual kita mengambil alih kendali itu kembali.

Dari sini kita mengambil kesimpulan bahwa kehidupan spiritual kita lebih didorong oleh keheningan daripada pembicaraan. Oleh karena itu, tidak ada hal yang lebih baik bagi tubuh kita selain keheningan.

Orang-orang yang mau bertekun dalam kehidupan spiritual perlu melihat nilai keheningan sebagai gladi bagi jiwa kita. Kendaraan kebijaksanaan adalah keheningan, seperti yang dikatakan oleh Salomo, "Di dalam banyak bicara pasti ada pelanggaran, tetapi siapa yang menahan bibirnya, berakal budi."

Selain itu, Socrates juga mengingatkan kita, kehidupan yang tidak direfleksikan tidaklah berarti untuk dijalani. Menyediakan waktu khusus untuk bersama diri sendiri dan pikiran akan membantu kita untuk menjajaki dunia diri kita yang terdalam. Inilah saat kita menembus diri kita yang lebih dalam dan menempatkannya pada perspektif yang benar. Dikatakan bahwa doa yang benar bukanlah ketika seseorang banyak berbicara kepada Tuhan tetapi seseorang banyak mendengarkan Tuhan.

***
Solo, Jumat, 27 April 2018
'salam damai penuh cinta'
Suko Waspodo
ilustrasi: Lucie Ernestova 

Kamis, 19 Juli 2018

Tuhan dan Jati Diri Manusia


Penciptaan manusia oleh Tuhan menimbulkan beberapa pertanyaan. Salah satunya adalah, apakah berhadapan dengan Tuhan Sang Pencipta manusia dapat mempertahankan jati diri serta kebebasannya?

Dalam pertanyaan tersebut termuat kekhawatiran bahwa manusia tidak bebas lagi dan lebih mendalam bahwa dengan adanya Tuhan manusia mesti terasing dari dirinya sendiri. Mengapa demikian? Karena lalu Tuhanlah yang mengerjakan segala-galanya, Tuhan tujuan segala-galanya, segala-galanya diarahkan kepada Tuhan, jadi bukan pada manusia.

Tetapi, kekhawatiran ini mengabaikan sesuatu yang sangat penting: transendensi dan imanensi Tuhan. Keduanya berarti bahwa Tuhan tidak bersaing dengan kita. Tuhan tidak berkarya di dataran yang sama dengan kita. Lain hal hubungan antar manusia atau manusia dengan mobil. Kalau satu pribadi adalah the boss, yang lain-lain harus tunduk terhadapnya, senang atau tidak senang. Maka, seorang bawahan memang berada dalam bahaya terasing dari aspirasi, kesenangan dan keyakinannya sendiri.

Begitu pula pengemudi mobil mewah dapat memilih sendiri apakah mau memakai persneling otomatis atau menentukan sendiri giginya. Apabila ia memilih yang seratus persen otomatis, tinggal ia tekan pedal gas. Adalah mesin yang memilih persneling mana paling efektif untuk naik sebuah tanjakan. Jika ia ingin tetap in control, ia mengubah persneling secara manual. Pokoknya, semakin kuasa manusia, semakin tidak berperan mesin dan sebaliknya.

Namun lain hal hubungan Sang Pencipta dengan ciptaan-Nya. Disitu berlaku bahwa ciptaan semakin mandiri semakin ciptaan tergantung dari Sang Pencipta. dalam arti apa? Dalam arti bahwa "tergantung dari Sang Pencipta" berarti menerima eksistensi daripada-Nya. Semakin tinggi eksistensinya, maka semakin ciptaan itu tergantung dari Pencipta-Nya, semakin ia memiliki eksistensi yang lebih kuat, lebih mampu untuk bertidak sendiri.

Contoh untuk itu adalah 'cinta'. Secara ideal, dalam cinta sempurna dua orang sama sekali tergantung satu dari yang lain, dalam arti, yang satu seakan-akan tidak dapat hidup tanpa yang lain. Akan tetapi, ketergantungan itu justru tidak memperlemah, melainkan memperkuat identitas dan kemandirian keduanya masing-masing. Pribadi yang terikat cinta yang benar adalah paling mampu untuk mengembangkan diri, untuk menyumbangkan sesuatu bagi pribadi lain, dan dalam itu ia tetap bahagia. Ketergantungan dalam cinta tidak melumpuhkan atau membuat pasif melainkan memobilisasikan wawasan-wawasan dan energi-energi baru.

Manakala pribadi menyerahkan diri ke tangan Tuhan, tidak perlu khawatir kehilangan jati diri serta kebebasannya atau menjadi seperti wayang tak bernyawa yang hanya dimainkan. Ia justru akan mengalami pemuncakan otonominya, sebuah otonomi yang memang bukan sewenang-wenang, melainkan bersedia untuk menerima tanggungjawabnya.

Salam damai penuh cinta. 
                     
***
Solo, Selasa, 16 Januari 2018
Suko Waspodo
ilustrasi: tribunnews doc.

Senin, 23 September 2013

Happy B’day


Apakah anda pernah merasa diri seolah “hilang”? Pasti pernah. Tatkala anda masih kecil ketika akan diberi obat pahit sama ibu karena anda terkena flu, anda mungkin pernah “hilang”, bersembunyi di bawah kolong meja atau kolong tempat tidur. Atau saat anda diberi kado ulang tahun dengan bungkus yang indah, ternyata ketika anda buka isinya hanya angin alias “kosong”.

Sungguh, mengalami “hilang” dan “kosong” itu selalu tidak nyaman, menyebalkan dan sedapat mungkin dihindari oleh banyak orang. Anda juga pasti ingin menghindarinya bukan?

Namun jika anda pikirkan baik-baik, sesungguhnya anda juga berasal dari apa yang disebut dengan ketiadaan, atau kehampaan alias kekosongan. Cobalah anda bayangkan, kalau sekarang usia anda tujuh belas tahun, dimanakah anda sembilan belas tahun yang lalu? Bagaimana perwujudan anda? Nah, bingung kan? Apakah dunia ini waktu itu kacau balau, alias tidak berjalan dengan baik tanpa kehadiran anda di dalamnya? Pasti tidak, sama sekali tidak. Dunia tetap berputar pada porosnya. Masyarakat tetap berjalan seperti biasa. Tanpa kehadiran anda semuanya dapat berlangsung dengan wajar, tanpa kekurangan suatu apapun. Jadi? Kesimpulannya? Anda itu sebenarnya tidak perlu ada. Lho, kenapa begitu serem? Ya, memang. Coba anda pikirkan lagi dengan tenang. Nah, benar kan? Kalau begitu kehadiran anda di dunia ini suatu kesia-siaan? Mengapa demikian? Menakut-nakuti saja!

Bukan, bukan menakut-nakuti anda. Kehadiran anda di dunia ini bukanlah suatu kesia-siaan. Karena pada suatu waktu anda dipanggil oleh bisikan halus penuh cinta Tuhan Sang Pencipta nan Agung. Dari ketiadaan, anda dipanggil-Nya menjadi ada. Anda diletakkan dengan aman pada lindungan rahim ibu anda. Hangat, nyaman, aman terlindungi, terjamin. Dalam relung rahasia Illahi anda dijalin menjadi seorang pribadi, seorang manusia.

Jadi, anda yang sebenarnya tidak perlu ada dipanggil menjadi ada oleh Tuhan. Suatu bisikan nada cinta nan agung dan indah. Karena cinta Illahi maka anda ada, maka anda itu dicipta untuk dicinta.

Sehingga pada suatu saat anda dilahirkan-Nya ke dunia. Menjadi manusia yang sangat dikasihi-Nya. Disediakan-Nya orangtua, sanak saudara, teman-teman, pembimbing, alam semesta tempat anda hidup, dan sebagainya. Memang kejadian anda itu sungguh dahsyat dan ajaib.

Maka dari itu kalau anda sedang berulang tahun, pantaslah hari itu anda sambut dengan kegembiraan luar biasa (tetapi tidak perlu dengan perayaan atau pesta besar-besaran, sederhana saja), karena alasan kedahsyatan penciptaan anda itu. Dalam hal-hal yang sepele dan kelihatan tiada artinya, malah justru disitulah Ia Yang Maha Agung berkarya. Jadikanlah hari ulang tahun anda itu sebagai benar-benar suatu ‘Happy Birthday’, hari lahir yang membahagiakan. Jadikanlah hari yang penuh rasa syukur.

Sahabat, kalau anda menyanyikan lagu Selamat Ulang Tahun pada hari ulang tahun anda, atau hari ulang tahun teman anda, atau hari ulang tahun siapa saja, ingatlah yang satu ini, yakni bahwa anda dicipta karena cinta-Nya dan untuk dicintai-Nya. ‘Happy B’day’! Selamat Ulang Tahun ! Selamat ‘Hari Jadi’!

***
Solo, Senin, 9 September 2013
'salam damai penuh cinta'
Suko Waspodo

Minggu, 22 September 2013

Ateis Vs Percaya kepada Tuhan

Apakah bedanya seorang ateis dan seorang yang percaya kepada Tuhan?

Seorang ateis bak semak-semak yang tumbuh di tengah padang pasir, yang hanya bergantung pada diri sendiri. Tatkala kekuatan dalam dirinya pupus, ia menjadi kering dan layu tak berdaya. Sebaliknya, orang yang percaya kepada Tuhan, ibarat pohon yang ditanam di tepi sungai. Apa yang mereka berikan kepada dunia disirami suatu sumber di luar diri mereka sehingga mereka tidak akan pernah kekeringan.

Salam damai penuh cinta.
***
Solo, Sabtu, 3 Agustus 2013
Suko Waspodo

Kamis, 19 September 2013

Keberagaman itu Manusiawi


Saya tidak pernah belajar secara khusus tentang filsafat dan teologi apalagi ilmu agama namun seringkali merasa aneh dengan pendapat banyak pejabat dan beberapa politisi praktis negeri ini yang mengaku dirinya agamis. Saya juga sering mengikuti pendapat para pejabat maupun wakil rakyat yang tidak mengakui keberagaman. Para pemuka agama yang menjelekkan penganut agama atau kepercayaan lain.

Semestinya kita sadar bahwa negara dan bangsa Indonesia ini terbentuk oleh keanekaragaman suku, bangsa, budaya, norma-norma dan bahkan agama. Sungguh tidak manusiawi kalau setiap kali terjadi perbedaan pendapat, apalagi masalah keyakinan dan agama, lalu penyelesaiannya dengan kekerasan dan ketidakadilan. Bukankah dasar negara ini dengan jelas dan tegas menjamin keberagaman itu.

Lebih lanjut terlepas apakah negara ini menjamin keberagaman (pluralitas) atau tidak seharusnya kita sadar bahwa kita ini manusia yang diciptakan oleh Tuhan, dengan keunikan dan talentanya masing-masing. Tidak ada satu pun manusia yang diciptakan sama. Perbedaan itu sebanding dengan jumlah manusia yang ada. Perbedaan dan keberagaman adalah keniscayaan.

Sebagai manusia apalagi mengaku ber-Tuhan tetapi memusuhi perbedaan. Mengatakan mengimani Tuhan tapi membunuh manusia sesamanya. Menurut saya ini sungguh aneh. Saya mungkin bukan penganut agama yang baik, namun sungguh sering merasa sedih dan sekaligus cemas dengan pertikaian saling membunuh yang masih sering terjadi hanya karena perbedaan pendapat.

Masih sering terjadi yang dipersoalkan adalah masalah perbedaan keyakinan dan agama. Berbeda biarlah berbeda dan tidak akan mungkin bisa disamakan. Yang bisa kita samakan adalah cara pandang dan bagaimana kita menyikapi perilaku-perilaku yang tidak menghormati nilai-nilai manusia, apa pun agama dan keyakinannya.. Musuh bersama kita saat ini adalah palanggaran keadilan dan hak-hak asasi manusia. Tentu termasuk di dalamnya adalah korupsi yang akut di negeri ini.

Namun dibagian akhir tulisan pendapat singkat saya ini, saya ingin menegaskan juga bahwa pluralitas juga bukan berarti membenarkan kebebasan yang liar. Meskipun keberagaman kita harus diakui, kenyataan kita juga hidup dalam masyarakat yang memiliki kesepakatan tatanan. Kita masing-masing tidak hidup sendirian. Aku membutuhkan aku-aku yang lain dan aku-aku yang lain juga membutuhkan aku. Maka selama kita masih berada dalam masyarakat ini tatanan yang sudah disepakati mesti disadari dan ditaati.

Menyadari dan memahami pluralitas itu manusiawi.

Salam damai penuh cinta.
***
Solo, Jumat, 5 April 2013
Suko Waspodo