Welcome...Selamat Datang...

Padi organik petani hasil pendampingan kami

Padi Rojolele organik

Lokomotif tua di kota kecil Cepu, Blora

Lokomotif tua yang sekarang kadang-kadang digunakan untuk kereta wisata di lingkunagn perhutani Cepu-Blora.

SATE BUNTEL KHAS SOLO

Lezat dan bikin kita ketagihan.

Jajanan khas Jawa

Jajanan khas Jawa ini sekarang sering disajikan dalam acara formal maupun informal. Lengkap, rasanya bervariasi dan sehat.

Para peserta LDK di Tawangmangu

Latihan Dasar Kepemimpinan diikuti oleh sekitar 30 mahasiswa Surakarta di Tawangmangu pada tahun 2011.

Di Tanah Lot Bali

Refreshing di Bali pada tahun 2010, bersama teman-teman dosen.

Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Kamis, 09 Desember 2021

Ciuman Impian


Berdiri di hadapanmu, hati di tanganku, tanganku di sisiku, aku menatap matamu dengan lembut. Kita hanyalah nafas yang terpisah dari satu sama lain dan aku bisa mencium aromamu saat itu dengan lembut berembus ke indraku. Memejamkan mata hanya dalam beberapa menit, aku bisa merasakan tubuh dan jiwamu menyelimutiku bahkan tanpa sentuhan.

Perlahan, tanganku meraih lenganmu dan meluncur dengan hati-hati di atas dagingmu yang kuat namun lembut. Merinding berlomba naik turun di punggungku saat itu; sentuhan pertama kita. Di luar hangat, tetapi tidak ada hubungannya dengan panas yang membakar jejak di bawah sentuhan tanganku. Sampai ke bahumu, aku meraih dan, saat aku mendaki puncak yang kuat dari bahu lebarmu, aku membuka mata untuk menemukanmu menatap lembut ke wajahku. Engkau tersenyum perlahan, bukan senyum lebar, tetapi senyum yang dipenuhi dengan janji untuk ditepati. Aku menemukan diriku tersenyum kembali meskipun ada kegugupan yang tersisa dan tanganku menjangkau ke luar untuk menyentuh garis rahangmu.

Menangkupnya dengan lembut, aku merasakan peningkatan tekanan saat engkau bersandar ke lenganku. Ada kekuatan di sana yang memungkiri senyum lembutmu. Dengan hati-hati, aku menarik wajahmu lebih dekat ke wajahku. Engkau bersandar hampir dengan penuh semangat, namun perlahan, seolah-olah berusaha untuk tidak menakut-nakuti rusa betina muda. Tanganku yang lain bergabung dengan rekannya dalam memegang wajahmu dengan lembut.

Mata masih terbuka, aku melihat mulutmu turun ke arahku. Hatiku terengah-engah saat aku menyadari bahwa inilah saatnya. Sebentar lagi, aku akan tahu bagaimana rasanya. Singkatnya, bibir kita bergesekan, sedikit bisikan sentuhan seperti belaian kupu-kupu. Aku mundur sedikit melihat ke matamu dan di sana, engkau melihat sekilas setan yang bersembunyi di bawah hatiku. Aku tersenyum sedikit dan bersandar ke bibirmu. Lalu, aku dengan lembut dan menelusuri bibir atasmu dengan ujung lidahku yang hangat dan basah. Engkau tidak mengharapkan ini dan aku mendengar napas tersengal-sengal saat dadamu diam. Aku menjalankan lidahku, hanya ujungnya, di sekitar kepenuhan bibir atasmu, melengkung di sekitar sudut dan menelusuri di sepanjang bibir bawahmu. Engkau merasa luar biasa; sedikit kejantanan dan aroma musky dari aftershave-mu.

Aku mendengar erangan kecil dan menyadari dengan sedikit terkejut bahwa itu baru saja keluar dari tenggorokanku. Lidahku menggali sedikit lebih dalam dan menjalar ke dalam kehalusan mutiara di gigimu. Dan di sana, di antara gigiku, aku dengan lembut menggigit bibir bawahmu. Seketika, aku melepaskannya dan mengisapnya di antara bibirku, mencium jejak ketajaman dari gigiku. Aku membelai lapisan dalam halus di bibir bawahmu, lalu ke atas lagi untuk melakukan hal yang sama ke bibir atasmu.

Engkau masih puas memainkan peran sebagai korban yang rela dan engkau mengizinkan aku menjelajahi ceruk basah hangat di mulutmu sesuka hatiku. Lidahku menekan lebih dalam dan menari duel penuh kasih denganmu, menjalankannya di sekitar lidahmu, mencelupkannya ke bawah untuk meluncur di antara gigi bawah dan bibirmu dan kembali ke bagian dalam surga. Bibir kita saling bersentuhan saat tanganku menarik kepalamu lebih dekat dan aku menekan tubuhku erat-erat ke tubuhmu. Pinggul kita menyatu menjadi satu set, jantung kita berdegup kencang, lidah kita berputar dan melangkah ke samping seperti penari ballroom yang anggun.

Aku membuka mataku dan menemukan engkau menatap mataku. Jantungku berdegup kencang saat aku melihat kegembiraan dan gairah menyala di matamu dan engkau mendengar napasku terengah-engah dan tertahan. Aku tahu apa yang diinginkan tubuhmu dan aku tahu ini aku. Aku tidak lagi mendengar burung-burung terbang dari pohon ke pohon; aku tidak lagi mendengar suara alam, kecuali untuk mempercepat napas dan erangan dalam-dalam. Perlahan, mataku menutup lagi, menikmati rasa yang engkau rasakan seperti anggur yang enak, lebih manis, lebih kaya, dan rasanya lebih dalam.

Tanganku meluncur ke bawah dari wajahmu, di atas bahumu dan sekitar ke kehalusan keras punggungmu. Ketat dan berotot, engkau memiliki kekuatan yang mungkin menakutkan sebagian, tetapi bagiku, aku tahu kelembutanmu dan aku tidak takut. Aku memperdalam ciuman kita. Dengan lapar, aku menarikan lidahku melawan lidahmu. Satu menit agresor, saat berikutnya menerima hasratmu dengan sukarela. Tanganmu tergelincir di pinggangku dan aku merasa engkau menarik aku, menarik aku lebih dekat, menekan pinggulmu lebih erat ke pinggulku. Aku merasakan gairahmu dan merespons dengan mengangkat satu kaki untuk melingkarkannya padamu. Engkau menggairahkan aku seperti yang belum pernah ada. Aku sangat membutuhkanmu, tidak seperti kebutuhan udara, tetapi seperti orang yang sekarat membutuhkan kesempatan kedua. Tanganku bergerak cepat ke belakang kepalamu dan aku menarik mulutmu ke mulutku sedekat yang mampu aku ambil untukmu. Engkau menanggapi dengan memperdalam lidahmu ke lidahku dan aku tersesat dalam rasamu.

Perlahan, sangat lambat, ciuman itu melembut, napas kita semakin dalam, dan genggaman kita berkurang. Aku mundur dan menatap matamu sekali lagi. Aku melihat refleksi di sana yang dikenali oleh hatiku. Belum pernah aku mendengar bintang di atas meledak; aku belum pernah mendengar guntur tanpa badai, tetapi bersamamu, dengan ciuman ini, aku pernah. Aku melihat di matamu keajaiban yang aku rasakan, ketakutan kehilangan diriku sepenuhnya kepada seseorang yang hampir tidak aku kenal, kepada seseorang yang aku kenal sepanjang hidupku.

Bersama-sama kita berbagi tawa kecil yang terengah-engah. Engkau mengusap rambutmu dan aku berpaling, bingung, gembira, serta penuh gairah dan keraguan. Apakah kita benar-benar baru saja berbagi ciuman itu? Apakah Surga benar-benar terbuka dan apakah bintang-bintang benar-benar meledak di langit karena ciuman yang baru saja kita bagi? Mungkin kita perlu mencoba berciuman lagi, hanya untuk memastikan itu bukan kebetulan?

Engkau mengulurkan tangan ke aku, aku pindah ke pelukanmu dan perlahan-lahan bibir kita bergerak ke arah satu sama lain; untuk satu percobaan lagi, satu ciuman lagi, satu potong surga lagi.

***
Solo, Sabtu, 29 Agustus 2020. 1:11 pm
'salam hangat penuh cinta'
Suko Waspodo
antologi puisi suko
ilustr: artezaar
 

Rabu, 01 Desember 2021

Aura Cinta dan Strawberry

"Selamat pagi, apakah masih ready Strawberry untuk hari ini?", sebuah pesan chat masuk ke WhatsApp-ku. Beberapa hari ni aku memang jadi reseller online Strawberry segar baru petik.

"Kebetulan masih ada 2 pack, membutuhkan berapa?", segera aku tanggapi pesan chat via WA tersebut.

"Aku ambil 2 pack yang masih ada itu, mas. Aku shareloc ya?. Aku tunggu kirimannya". Alhamdulillah pagi-pagi dapat tambahan rejeki.

Segera aku beranjak dari tempat tidurku, berbenah, mandi dan segera meluncur mengantar pesanan Strawberry. Ada 24 pack pesanan dan harus kuantar ke 9 titik pemesan hari itu.

Kuantar pesanan terakhir untuk pemesan pagi tadi ke sebuah rumah besar berhalaman luas di pinggiran kota. Bangunan rumah lama namun sangat terawat dan halamannya dipenuhi dengan beraneka tanaman serta bunga, sangat asri.

"Maaf, apakah benar ini rumah ibu Kristina?", kutanyakan itu segera setelah pintu gerbang dibukakan oleh seorang wanita, sepertinya asisten rumah tangga.

"Benar, ada keperluan apa ya mas?"

"Saya mau mengantar pesanan Strawberry"

"Oh ya, silahkan masuk dan duduk dulu, saya bilang ke ibu dulu", wanita itu mempersilahkan aku duduk menunggu di teras rumah dan segera dia bergegas masuk ke rumah.

Beberapa saat kemudian datang seorang wanita setengah baya diikuti oleh seorang gadis cantik mungkin usia duapuluhan tahun tetapi dengan tingkah yang agak aneh kekanak-kanakan.

"Mama, itu Strawberrynya semua untuk Cinta ya? Aku kan suka sekali", gadis dengan tingkah aneh itu langsung mengambil  dua pack Strawberry yang masih ada dalam peganganku.

"Cinta ... yang sopan dong sama mas nya. Mama kan belum bayar, mosok langsung diambil saja. Maaf, ya mas, saya harus bayar berapa plus ongkirnya?", kata wanita setengah baya itu, mungkin dia yang ibu Kristina.

"40 ribu saja, ibu. Ongkir gratis, ini sebagai bagian dari layanan kami", seraya kuterima sodoran uangnya, 50 ribuan. "Sebentar, kembaliannya".

"Tidak usah mas, kembaliannya untuk mas saja. Omong-omong hanya bekerja jadi reseller ini atau masih sambil kuliah? Biasanya kan memang banyak mahasiswa yang kerja sambilan dengan jualan online."

"Masih kuliah bu, semester akhir. tinggal menyelesaikan skripsi."

"Di fakultas apa?"

"Psikologi"

"Wah hebat, rajin bekerja lagi. Ibu suka dengan orang muda yang rajin belajar dan bekerja. Sukses, ya mas", dengan senyum ramahnya ibu cantik tersebut memuji.

"Terima kasih. Baiklah bu, saya pamit dulu. Matur nuwun sudah dilarisi jualan Strawberry saya"

"Sami-sami, mas."

Sesaat aku akan beranjak pamitan, gadis cantik itu mencium pipiku, "Terima kasih ya mas untuk Strawberrynya ini." Dia kemudian berlari masuk rumah.

Tentu saja aku kaget dan tersipu-sipu, tetapi kurasakan lembut bibirnya menempel di pipiku.

"Maaf mas atas kelakuan, puteriku. Hati-hati di jalan ya mas dan semoga laris jualannya."

"Nggih, pareng nyuwun pamit"

Hari itu perasaanku dibuat galau oleh ciuman gadis cantik bertingkah aneh, puteri ibu Kristina tersebut. Tak biasanya ada sikap yang spontan dan polos seperti itu untuk gadis seusia dia. Cantik tetapi ada apa dengan tingkah anehnya?

***

"Selamat sore mas, Doni. Apa kabar?", sapaan via WhatsApp mengejutkan aku yang lagi asyik memasang promo jualan onlineku. Dari ibu Kristina. "Besuk pagi tolong saya pesan lagi dan kirim 3 pack Strawberry ya? Masih tersedia kan? Ini si Cinta minta dibeliin lagi".

"Oh, ternyata puterinya namanya Cinta, nama yang indah", gumamku. "Kabar baik, ibu. Strawberrynya masih ada, besuk pagi saya antar." segera kujawab pesan WA nya.

Sesaat kemudian ternyata berlanjut WA dari ibu Kristina.

"Sekali lagi saya minta maaf ya mas atas perilaku Cinta tiga hari yang lalu. Terus terang dia sedang depresi berat karena diputus oleh pacarnya. Kelakuannya jadi aneh, cari perhatian dan over acting."

"Tidak apa-apa ibu. Saya bisa memahami. Semoga puteri ibu segera usai permasalahannya"

"Baiklah mas, Strawberrynya kami tunggu besuk pagi"

Kembali bayangan tentang Cinta memenuhi ruang pikiran dan perasaanku. Kasihan gadis semuda dan secantik dia kalau harus depresi karena putus cinta.

***

Matahari baru beranjak ketika aku berangkat mengantar pesanan Strawberry untuk ibu Kristina, atau tepatnya untuk Cinta. Aneh, ada perasaan tak sabar aku ingin bertemu dengan gadis cantik itu.

"Selamat pagi, mas Doni", langsung saja Cinta menyambut aku di teras rumahnya dan langsung mencium pipiku lagi. Kali ini aku merinding dan ada perasaan aneh menjalar.

"Cinta ... jangan keterlaluan begitu dong", mamanya muncul sambil menegur Cinta dengan suara agak keras.

"He..he..he ... nggak apa-apa ya mas Doni?", kata Cinta seraya menarik tanganku mengajak duduk di kursi teras.

"Mas Doni pagi ini waktunya longgar dan santai kan? Sebentar ibu buatkan minum teh hangat ya?", tanpa menunggu jawabanku atas tawarannya, ibu Kristina langsung masuk rumah kembali.

"Kita belum kenalan ya mas, nama lengkapku Meyla Aura Cinta", diulurkannya tangannya kearahku.

Kusambut uluran tangannya,"Doni Bagaskara".

Cinta bercerita bahwa dia anak tunggal dan ayahnya meninggal dunia karena strokes saat dia masih kelas 5 SD. Kehilangan ayahnya, membuat dia kehilangan sosok tempatnya bermanja.

Maka saat dia bertemu dengan Randy setahun yang lalu dia merasa seolah mendapat sosok pengganti ayahnya. Sempat berpacaran hampir satu tahun, tetapi ternyata Randy bukan tipe cowok yang setia. Randy selingkuh dengan cewek bule dan sekarang mereka hidup bersama tanpa nikah di Australia sekalian melanjutkan kuliah di sana.

Akibatnya tentu saja hancur luluh perasaan Cinta. Kuliahnya yang baru berjalan dua tahun pun berantakan karena depresi.

"Mas ini tehnya dan ini sekalian sarapan di sini bareng Cinta ya? Kebetulan tadi mama buat bubur ayam kesukaan Cinta. Semoga mas Doni juga suka". Dua mangkuk bubur ayam komplit dan dua gelas teh hangat langsung disajikan sendiri oleh mama Cinta.

Sejak pagi itu aku dan Cinta semakin akrab. Tidak hanya saling bertemu di rumahnya tetapi kami juga sering pergi refreshing berdua dan kadang bertiga dengan mamanya, dengan harapan Cinta bisa segera kembali ke situasi normal terbebas dari depresi putus cintanya.

***
Solo, Senin, 24 Agustus 2020. 1:23 pm
'salam hangat penuh cinta'
Suko Waspodo
antologi puisi suko
painting by Chris Campbell
 

Sabtu, 23 Oktober 2021

Lelaki Impianku


Cinta, aku tidak pernah berpikir aku akan mendapatkan setiap cinta sejati. Kepercayaanku benar-benar hilang dari kata cinta ini. Tapi siapa yang tahu bahwa suatu hari, aku akan mendapatkan kepercayaan itu kembali .

Semuanya dimulai pada beberapa bulan yang lalu, aku tidak pernah mengunjungi chat room, aku tidak suka mengobrol dengan orang asing, tetapi anda dapat mengatakan takdir ingin aku bertemu dengan cintaku dan aku mendapat dorongan untuk pergi ke ruang obrolan.

Pertama, aku tidak memperhatikan dia karena dia seperti semua orang, orang asing, tetapi kemudian dia mulai mengirimi aku pesan dan kami mulai berbicara. Aku mulai menemuinya setiap hari dan itu menjadi kecanduan untuk masuk ke dalam ruangan dan memeriksa apakah dia ada di sana, selalu menganggapnya sebagai teman, oke teman yang baik.

Ketika kami mengenal satu sama lain, aku melihat bahwa kami memiliki minat yang sama, dan seolah-olah kami memiliki pikiran yang sama. Apa pun yang aku pikirkan, dia juga memikirkan itu dan lalu kita akhirnya mengatakan hal yang sama. Aneh bahwa bagaimana dua orang asing yang saling kenal dari beberapa hari dapat memiliki kesamaan seperti itu.

Mungkin, ketika dia mengatakan kepadaku bahwa dia jatuh cinta dengan aku, aku tidak bisa mempercayainya. Aku tidak bisa mengatakan apa-apa karena aku sudah pernah patah hati dan aku belum siap.

Dia memahami situasiku dan tidak memaksaku. Itu membuat aku menghargainya, kami memutuskan untuk tetap berteman. Aku tahu itu tidak akan mudah baginya, tetapi dia memaksaku bahwa tiga kata ini tidak boleh mengubah apa pun. Dia tidak akan menyangkal bahwa dia mencintaiku, dia tidak dapat menyangkal perasaannya untukku tetapi dia juga tidak bisa melihat aku pergi.

Persahabatan kami berlangsung selama beberapa hari tetapi setelah itu aku tidak mampu menyangkal perasaanku karena ada di sana. Pikiran setiap detik hari, dia ada di sana ketika aku menutup mataku. Aku mengatakan kepadanya bahwa aku mencintainya. Hari itu adalah hari paling bahagia dalam hidupku dan begitu juga dengan dia.

Kami berbicara satu sama lain setiap hari sekarang dan cintaku tumbuh semakin kuat setiap hari. Kapan pun dia pergi dari obrolan, aku menunggu hari berikutnya seperti napasku berikutnya. Cinta sejati memang ada.

***
Solo, Minggu, 19 Juli 2020. 9:49 pm
'salam hangat penuh cinta'
Suko Waspodo
antologi puisi suko
painting by Stephanie Clair

Jangan Pernah Mengatakan Tidak Akan Pernah


Kisah ini untuk siapa pun yang berpikir bahwa romansa internet adalah lelucon.

Jangan pernah bilang tidak akan pernah. Dulu aku berpikir bahwa aku tidak akan pernah jatuh cinta, dan tidak ada yang akan jatuh cinta kepadaku.

Setelah bertahun-tahun penolakan dan upaya gagal bertemu perempuan, aku menyerah dan menerima nasibku sebagai bujangan seumur hidup. Aku seharusnya tahu bahwa cinta datang ketika kita tidak mengharapkannya.

Suatu hari, ketika mengunjungi media obrolan favoritku, aku melihat nama baru di media itu. Ternyata, dia hampir sebaya usiaku dan sangat manis. Kami harus berbicara, dan menemukan bahwa kami sebenarnya cukup kompatibel. Pada awalnya, aku berpikir bahwa tidak mungkin seorang wanita yang sempurna seperti dia tidak terikat. Sangat mengejutkan aku, dan tentunya membahagiakan juga, dia lajang dan kami ternyata saling tertarik.

Kami telah menghabiskan waktu berjam-jam bersama secara online, dan tiga minggu yang indah bersama. Kami telah bersama selama hampir delapan bulan hingga sekarang dan itu telah menjadi delapan bulan terbesar dalam hidupku. Kemudian kami sudah membuat rencana jangka panjang, bahkan mendiskusikan pernikahan.

Tidak ada orang lain yang lebih membahagiakan, dia adalah orang yang paling manis, paling cerdas, paling baik, paling perhatian, penuh kasih, jenaka, dan rendah hati yang pernah aku temui, belum lagi fakta bahwa dia sangat cantik, luar dan dalam.

Terlepas dari kenyataan bahwa kami terpisah oleh jarak ratusan kilometer, aku merasa lebih dekat dengannya daripada yang pernah aku rasakan kepada siapa pun. Dengan bantuan takdir dan sedikit keyakinan, kami berhasil, dan kami sedang dalam perjalanan untuk hidup bahagia selamanya, sebuah dongeng menjadi kenyataan. Kami tahu akan sulit untuk terpisah begitu jauh, tetapi kami juga tahu bahwa jika kami tidak mencoba, kami akan menyesalinya selamanya.

Dia baru saja selesai kuliah, dan kami berencana untuk bertunangan segera setelah aku punya cukup uang. Sementara itu, kami berusaha keras untuk saling mengunjungi bergantian di saat memungkinkan. Meskipun dia tidak cukup dekat untuk memegang tanganku, dia tidak pernah gagal menyentuh hatiku. Aku mencintainya dengan setiap keberadaanku, dan aku tidak tahu apa yang mampu aku lakukan jika tanpanya.

Maka, bagi siapa pun yang tidak percaya yang mengatakan bahwa hubungan online "tidak nyata" dan tidak bermanfaat, aku katakan bahwa itu bisa dan bermanfaat serta bermakna. Jika bukan karena internet, aku tidak akan pernah bertemu belahan jiwaku.

***
Solo, Minggu, 19 Juli 2020. 9:14 am
'salam hangat penuh cinta'
Suko Waspodo
antologi puisi suko
painting by Simone Stawicki

Minggu, 08 November 2020

Malam Romantis

Engkau masuk dan duduk sambil melihat sekeliling. Aku bilang jangan takut santai saja karena ini malammu. Aku sudah siap sepanjang hari untuk malam yang sempurna ini. Dinaungi musik, makanan, anggur, dan cahaya lilin yang berkedip-kedip. Kita makan, minum, tertawa, dan berbicara hanya untuk pemula. Aku mulai menatap bintang-bintangmu yang dicuri dari mata langit. Ketika engkau berbaring di lenganku menatapku sangat terkejut.

Aku berdiri dan perlahan-lahan mengantarmu ke kamarku. Aku mulai membuka pakaianmu satu demi satu. Sementara aroma ruangan membuatmu nyaman. Aku memberitahumu untuk berbaring telungkup. Lalu fantasi dan daya tarikmu mulai menjadi liar. Sekarang aku punya selera yang kuat untuk cintamu dan aku menginginkannya sekarang. Namun saatnya bukan sekarang jadi aku katakan pada diriku untuk melambat.

Jadi aku mulai memberimu pijatan seluruh tubuh. Bukan sembarang pijatan, yang aku maksud benar-benar membelai setiap lekuk tubuhmu. Malam ini aku adalah pelayanmu dan aku siap melayani. Aku mencium dan menghirup udara dalam dari rambutmu. Perlahan dan penuh semangat aku mencium bagian belakang lehermu. Saat aku turun ke tubuhmu, mencium banyak dan tidak kehilangan tempat. Engkau mengerang dalam penerimaan dan menggeliat di seprai. Aku menggulingkan engkau dalam ledakan kegembiraan dan kesenangan.

Aku mengagumi tubuhmu sepenuhnya. Untuk sesaat aku terdiam, tubuh yang sangat indah bahkan nyaris sempurna. Aku menyelesaikan bagian depanmu dengan cara yang sama seperti aku melakukan pada punggungmu. Memperhatikan area yang tidak perlu aku sebutkan. Tubuhmu mulai menggigil dan aku paham apa artinya itu. Jadi aku terus melakukannya sampai engkau dan tubuhmu berteriak. Aku bisa merasakan nadimu berdenyut saat aku perlahan bangkit.

Engkau berbisik di telingaku bahwa engkau siap untuk merasakan aku. Aku tidak membuang waktu karena aku siap merasakan engkau juga. Perasaan basah dan hangat yang indah saat aku meluncur ke dalam dirimu. Saat kita terlibat dalam bercinta yang luar biasa ini. Aku harap engkau tahu tubuhku adalah milikmu untuk diambil. Pikiran kita lolos dari dunia fisik ini ke tempat kita semua. Kita mencoba semua posisi yang bisa dipikirkan oleh pikiran kecil kita.

Kita basah kuyup penuh keringat. Engkau telah mencapai klimaks berkali-kali. Lalu engkau memberi tahu aku siap untuk menambang. Tidak ingin ini berhenti tetapi aku merasa tidak punya pilihan. Aku merasa engkau menggigil dan aku bergabung dalam kesenangan dan sekarang sudah selesai. Perlahan kisah ini telah berakhir. Aku memelukmu erat-erat saat kita tertidur. Aku berkata kepadamu aku mencintaimu dan menciummu.  Selamat malam ... 

***

Solo, Sabtu, 13 Juli 2019. 8:58 pm

'salam hangat penuh cinta'

Suko Waspodo

antologi puisi suko

ilustr: Rola Chang in Pinterest 

Jumat, 29 November 2019

Cermin | Surat Kosong


Hari ini, aku duduk di meja membaca surat dari seseorang yang paling aku cintai pada waktu itu dalam hidupku. Awalnya aku merasa aneh bahwa di dunia teknologi yang telah maju saat ini, aku masih menerima surat. Tetapi sekarang aku menyadari bahwa surat ini sejauh ini mengandung pesan terindah yang pernah aku terima.

Hidupku sempurna saat kami bersama. Tetapi karena keadaan tertentu yang tidak dapat dihindari, kami harus berpisah. Butuh waktu hampir dua tahun bagiku untuk menerima kehidupan tanpa dia. aku telah meninggalkan semua harapan bahkan hanya untuk mendengar kabarnya kapan saja dalam sisa hidupku. Dan dugaan perasaanku ternyata benar. Tetap saja, tempatnya hanya dipenuhi udara di jiwaku.

Lalu mengapa ini? Aku berharap aku tidak pernah menerima surat ini. Setelah empat dekade, aku tiba-tiba mendapat surat darinya dan itu juga, surat kosong. Aku terkejut dengan hal ini. Kemudian, aku mencoba untuk mengetahui permasalahannya dari salah satu temanku yang jauh. Dan akhirnya aku tahu bahwa dia telah didiagnosis menderita penyakit mematikan setahun yang lalu dan sekarang berada pada tahap terakhir. Dia tidak punya waktu lagi selain menghitung waktu.

Sekarang aku mengerti mengapa dia menulis surat kepadaku. Dia hanya ingin membuat aku percaya bahwa dia masih ingat aku. Dia juga memiliki tempat kosong di dalam hatinya, yang aku miliki. Dia mungkin bisa mencoba menulis surat, tetapi dia tidak ingin aku marah. Dia masih peduli padaku, dan aku juga. Dia tidak bisa menulis apa-apa lagi karena dia punya jutaan hal untuk ditulis yang tidak mungkin ditampung hanya oleh selembar kertas kecil ini, juga dia tidak punya banyak waktu untuk menulisnya. Pada dorongan ini, aku menyesal tidak melawan angin pada masa lalu itu dan hidup bersamanya.

Jiwaku masih mengingatnya. Semoga aku menemukannya kali ini.


***
Solo, Minggu, 13 Januari 2019. 1:14 pm
'salam hangat penuh cinta'
Suko Waspodo
antologi puisi suko
kompasiana
pepnews
ilustr: depositphotos

Kamis, 28 November 2019

Cermin | Nilai Kita



Seorang dosen memulai kuliah umum pada pembukaan tahun perkuliahan baru dengan memegang selembar uang seratus ribu rupiah. Di hadapan banyak mahasiswa baru itu, dia bertanya, "Siapa yang mau uang ini?"

Hampir semua mahasiswa mengacungkan tangannya.

Dia berkata, "Saya akan memberikan uang seratus ribu ini kepada salah satu dari anda, tetapi pertama-tama, biarkan saya melakukan ini." Dia melanjutkan dengan meremas-remas uang uang itu.

Dia kemudian bertanya, "Siapa yang masih menginginkannya?"

Masih banyak tangan diacungkan.

"Baiklah," jawabnya, "Bagaimana jika saya melakukan ini?" Dan dia menjatuhkannya ke tanah dan mulai menginjak serta menggilasnya di lantai dengan sepatunya.

Dia mengambilnya, uang itu telah menjadi kusut dan kotor. "Sekarang siapa yang masih menginginkannya?" Tetap saja tangan-tangan itu masih diacungkan.

“Teman-teman, anda semua telah belajar pelajaran yang sangat berharga. Apa pun yang saya lakukan terhadap uang itu, anda tetap menginginkannya karena nilainya tidak berkurang. Itu masih bernilai seratus ribu rupiah.

Sering kali dalam hidup kita, kita dijatuhkan, diremas, dan dilecehkan oleh keputusan yang kita buat dan keadaan yang menghadang kita.

Kita merasa seolah tidak berharga. Tetapi apa pun yang terjadi atau apa yang akan terjadi, anda tidak akan pernah kehilangan nilainya. Anda istimewa. Jangan pernah melupakannya!

***
Solo, Kamis, 10 Januari 2019. 7:14 am
'salam hangat penuh cinta'
Suko Waspodo
ilustr: dokpri

Cermin | Cinta Fiktif


Aku menggenggam tangannya. Suasananya nyaris sempurna; kami hanya menikmati matahari terbenam. Air di kaki kami seperti jalan yang terbuat dari sinar matahari murni. Beberapa menit berlalu sebelum salah satu dari kami akhirnya harus mengatakan sesuatu, "Pemandangannya indah, ya?" - katanya.

Aku hanya menatapnya, dia masih melihat ke matahari dan cahaya oranye memantul dari matanya. Aku tidak mengatakan apa-apa, karena kami berdua tahu jawabannya dan terus terang, aku tidak tahu apa yang bisa aku katakan. Setelah sekitar satu jam, matahari menghilang di balik cakrawala senja.

"Jadi, apa yang kamu rencanakan untuk acara kita besok?"  Aku bertanya berharap mendapat jawaban positif.

"Aku belum tahu," katanya, sambil memalingkan kepalanya ke arahku. "Mengapa? Sudahkah kamu membuat rencana untuk besok? ” lanjutnya dengan sedikit mencibir..

“Yaah, kamu tahu, mungkin kita bisa nongkrong besok, pergi makan di restoran di suatu tempat dan kemudian mengakhiri hari di kamarku. Bagaimana menurutmu?" Aku berkata sambil menaikkan alisku.

"Tentu, kamu terus membayangkan itu selagi bisa" katanya sambil tersenyum.

Setelah keheningan yang agak canggung, aku berpikir, "Aku harus menjaga suasana hatinya ini"

"Oke, bagaimana dengan ini? Kita berjalan-jalan santai di pantai dan aku akan melakukan yang terbaik dengan menceritakan lebih banyak kisahku kepadamu. Nah? Bagaimana menurutmu? ” kataku tetapi dengan suara tidak pasti.

“Oh, jadi aku bisa mendengar sekuel dari cerita tentang gadis yang kamu temui di kelas 11?”  katanya, sambil kami masih saling memandang.

"Mungkin" kataku dengan suara menggoda. Astaga, aku tidak percaya diri dengan yang ini.

Dia hanya tersenyum dan aku juga, sebagian besar karena merasa tidak nyaman.

"Oke, mari kita lakukan itu daripada ..." dia berkata sambil mengalihkan perhatiannya kembali ke laut.

Aku juga melakukannya. Tidak perlu kata-kata lagi, kami kemudian hanya saling memeluk.

Tiba-tiba dia menatapku, aku bisa tahu dari cara dia menatapku; dia ingin memberitahu aku sesuatu. Suasananya sempurna, langit oranye bercahaya, ombak menghantam kaki kami, aku hanya merasakannya. Tatapannya berubah menjadi sangat serius, jantungku mulai berdegup lebih cepat.

Damn, dimana aku? Oh, ya ... buku ini ... halaman 69 ... kalimat ke dua ... Ya ampun, ini akan jadi malam yang panjang, bukan? Oke, mari kita tekan replay dan melanjutkan membaca .

(Inilah yang terjadi, apabila seorang yang biasa menulis fiksi, saat membaca cerita yang kurang menarik, pikirannya bergerak dengan imajinasi liarnya sendiri)

***
Solo, Rabu, 9 Januari 2019. 5:04 pm
'salam hangat penuh cinta'
Suko Waspodo
antologi puisi suko
kompasiana
pepnews
ilustr: Etsy

Kamis, 31 Oktober 2019

Cinta dan Pengampunan


Suatu ketika hiduplah dua orang sahabat bernama Cinta dan Kepercayaan, di sebuah kota besar bernama Kehidupan. Mereka tidak terpisahkan. Hubungan mereka bisa dikatakan lebih manis dari gula. Mereka senang bisa bersama dan menghargai persahabatan unik mereka. Semua orang menyambut Cinta dan Kepercayaan dengan tangan terbuka.

Waktu berlalu dan kisah mereka berlanjut. Cinta dan Kepercayaan dipenuhi dengan banyak rasa hormat. Perlakuan istimewa yang diberikan kepada mereka berdua membuat mereka merasa sangat bahagia.

Suatu hari, Cinta bertemu dengan orang asing bernama Ego dan keduanya langsung akrab.

Perlahan dan mantap Cinta dan Kepercayaan tumbuh terpisah. Cinta tidak akan mentolerir pandangan Kepercayaan tetapi Kepercayaan memintanya untuk menghargai perasaannya dan menghargai persahabatan mereka.

Kemudian, Cinta mulai menerima orang lain begitu saja. Dia mulai tidak menghormati orang-orang yang menghormatinya, tidak peduli terhadap orang-orang yang menghargainya, memperlakukan dengan meremehkan orang-orang yang menyambutnya. Lebih buruk lagi, Ego membuat Cinta percaya bahwa tidak ada yang salah dalam perilakunya dan bahwa dia benar dan semua orang di sekitarnya salah. Pernyataan Ego memenuhi hatinya dengan kebanggaan yang tidak dapat dijelaskan. Pada waktu yang sama, Cinta dan Ego berteman dengan orang asing lain bernama Kecemburuan.

Setiap kali Cinta mencoba mengintrospeksi tindakannya, Ego menghentikannya dan ini berlanjut untuk sementara waktu sampai Pengampunan masuk ke dalam kehidupan mereka. Pengampunan memberi Cinta kedamaian yang aneh di persahabatannya dan membantunya menemukan penghiburan yang sangat dia dambakan.

Berangsur-angsur Cinta mulai berubah kembali menjadi orang yang lembut, dirinya yang sebenarnya. Atas perintah Pengampunan, Cinta menghampiri semua orang yang telah dia sakiti di masa lalu dan memohon belas kasihan. Namun, dia diperlakukan dengan cemoohan oleh orang-orang yang sama yang pernah menghormatinya. Dia terkejut karena mengetahui bahwa orang asing lain bernama Kebencian telah mencopot nilainya dari kehidupan mereka dan sekarang hidup dalam hati mereka. Apa yang membuatnya semakin terpukul adalah kenyataan bahwa teman-temannya Ego dan Kecemburuan telah bertukar sisi dan sekarang bersekongkol dengan Kebencian.

Pancaran kenangan dan nostalgia melintas melewatinya dan Cinta menyadari betapa dia merindukan Kepercayaan. Sayang, Kepercayaan, sahabat jiwanya, tidak terlihat di mana pun. Dia menangis dan merintih kesakitan, tetapi sia-sia. Kepercayaan sudah hilang dan tidak peduli sekeras apa pun dia mencoba untuk menyatukan hubungannya yang hancur, dia tidak bisa.

Pengampunan sedang menonton drama yang terbuka dan hatinya berdarah untuk sahabatnya. Namun, terlepas dari penderitaan Cinta, hati Pengampunan dipenuhi dengan sukacita, karena sahabatnya telah mengumpulkan keberanian untuk meminta maaf. Yang dia rasakan adalah kualitas eksklusif untuk Cinta. Dalam hati, Pengampunan sadar bahwa tidak peduli seberapa besar Kebencian, Ego, dan Kecemburuan menghargai penerimaan yang ramah, mereka tidak dapat mengalahkan Cinta karena keunikan dan belas kasihnya.

Tidak ada hiburan yang cukup untuk menenangkan Cinta yang bertobat. Namun, dia memuji nilai penyesalan dan belas kasihan, yang sedikit membantu menenangkan Cinta. Cinta merasakan rasa bersalah yang tiba-tiba mengalahkan indranya dan rasa takut menelannya. Meskipun demikian, dia menyingkirkan semua perasaannya untuk mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada teman yang telah membimbingnya seperti lampu suar selama ini.

Tak perlu terkatakan, pada akhirnya Cinta dan Pengampunan hidup bahagia selamanya!

***
Solo, Sabtu, 5 Januari 2019. 10:10
'salam damai penuh cinta'
Suko Waspodo
antologi puisi suko
kompasiana
pepnews
ilustr: Meganne Forbes on Pinterest



Kamis, 10 Oktober 2019

Pertemuan Terakhir Beralih ke Langkah Awal


Dan hari itu tiba, dia melakukan perjalanan dua belas jam ke kotaku dan bertemu denganku di sebuah kafe seperti yang kami rencanakan, aku merasa lemah dan aku tahu kelemahanku adalah karena sepanjang malam tanpa tidur dan aku habiskan waktu untuk menangis, dia ingin memeluk aku seperti lebih dari setahun lalu kami bertemu sebelumnya, tetapi kemudian seakan dia ingat alasan kedatangannya dan mencegah dirinya sendiri. Kami ingin bertemu untuk terakhir kalinya sebelum berpisah. Aku membawa arloji mahal yang dihadiahkan kepadaku, hanya untuk mengembalikannya.
               
Kami memesan kopi panas dan saling menatap selama beberapa menit. Dia memperhatikan air di mataku yang sedang aku kendalikan dengan keras untuk mencegahnya tumpah. Setiap detik dia seakan menghitung bertambahnya air di mataku dan akhirnya ketika aku tidak bisa mengendalikan lebih lama, aku memutar kepalaku ke kiri dan mengambil napas lega untuk melepaskan semua air mataku seketika itu juga.

Dia bertanya, “Mengapa kamu menangis sekarang? Bukankah itu keputusanmu untuk dilanggar? Kamu menelpon aku setiap kali hanya untuk mengakhiri ini segera, lalu mengapa kamu menangis? ”

Aku diam saja, dan dia mengerti jawabannya. Kemudian kopi pesanan kami tiba dan aku mengambil arloji dan mengatakan kepadanya, “Aku belum pernah mengenakan ini, karena aku selalu ingin memakainya setelah pernikahan kita. Mohon, ambil dan berikan hadiah itu kepada wanita yang akan menjadi istrimu di kemudian hari. ”

Sekitar lima menit berikutnya kami membicarakan kembali semua kenangan. Saat-saat buruk dalam hubungan kami dan bagaimana kami berpisah adalah satu-satunya pilihan yang tersisa bagi kami.

Kemudian kami berdiri untuk meninggalkan kafe, aku menyuruhnya menunggu di meja karena aku ingin membasuh wajahku yang tertekan dan mata merah yang membengkak. Dia tidak tahan melihat aku dalam situasi ini, dia tidak pernah ingin membuat kekasihnya menangis dan dia tahu aku tidak pernah ingin mengakhiri hubungan dengan hatinya tetapi terpaksa meskipun aku tidak siap untuk menikah tetapi aku dipaksa menikah karena orang tuaku sudah mulai mencari pria yang sempurna menurut mereka.

Aku tahu pasti bahwa dia merasa kecewa dan ketika aku kembali dari toilet, dia memegang tanganku, berjalan ke tempat parkir dan meminta kunci sepeda motorku.

Aku memberikannya. "Kamu akan mengajak aku ke mana?" 

"Sudahlah, ikut saja. Nanti juga kamu akan tahu kita ke mana," jawabnya lirih.

Kemudian dia memboncengkan aku dengan sepeda motorku.  Sedikit kencang dia mengendarainya dan akhirnya kami sampai ke taman kota. Di taman ini kami dulu biasa menghabiskan kesempatan kami untuk bertemu dengan mengobrol dan bercanda di kerindangan suasananya.
 
Dia membawa aku duduk di kursi taman yang tersedia. Suasana taman pada siang itu memang agak sepi. Kemudian dia memegang lenganku dengan kuat, membuatku kesakitan dan menarik aku ke arah dirinya.

"Mengapa kamu terus menangis, aku tidak bisa melihatmu seperti ini!"

Aku menunduk, berusaha menyembunyikan air mataku lagi. "Kamu segera kembali saja ke kotamu dan tinggalkan aku sendiri. Aku berjanji akan baik-baik saja dan tolong jangan menghubungi aku lagi."

Dia pun membalikkan badannya untuk pergi namun aku tidak mampu menahan apa yang menyesak di hatiku dan aku meraih tangannya serta sedikit menariknya ke arahku dan memeluknya seerat-eratnya.

Aku menangis tersedu-sedu, "Aku tidak mampu menerima kenyataan ini. Tolong, jangan biarkan tangan orang lain menyentuh tubuhku. Aku tidak bisa membayangkan tidur dengan orang lain. Aku tidak mungkin merasakan sentuhan seperti yang selama ini aku terima darimu. Tolong, lakukan sesuatu untuk mencegah pernikahanku dengan orang lain. Aku siap melajang sepanjang hidupku. Aku tidak ingin membagi mimpiku dengan orang lain. Aku hanya ingin bersamamu. Tolong, bicaralah dengan orang tuaku."

Seolah dia ingin membekukan peristiwa ini dan membungkusnya selamanya, dia mencium leherku dan membisikkan hal yang sama sekali tidak ingin aku dengar, "Aku tidak bisa menikahimu sekarang karena aku bukan pria yang sempurna, orang tuamu tidak akan pernah menerima aku, aku butuh lebih banyak waktu untuk membuktikan kepada orang tuamu bahwa aku adalah orang yang tepat untukmu."

Aku mendorongnya menjauh dan memukulkan tanganku ke pohon dengan marah. Aku menyuruhnya pergi segera, dia meninggalkan taman itu dan aku duduk di sana menangis sendirian.

Setelah kira-kira dua jam, aku menerima pesan di smartphoneku, itu dari dia, aku membukanya dan yang tertulis, "Berapa lama kamu akan tinggal di taman  itu, aku menunggumu di rumahmu, ayahmu ingin kamu menyetujui aku di depannya dan terimalah bahwa kamu akan senang dengan aku meskipun aku tidak berpenghasilan baik. Ayo segera pulang, sayang. Aku tidak sabar untuk masuk ke kamarmu bersamamu."

***
Solo, Sabtu, 29 Desember 2018.
'salam hangat penuh cinta'
Suko Waspodo
antologi puisi suko
kompasiana
pepnews
ilustr: Peter Wever

Ini Bukan Cerita


Inilah aku. Aku disini. Aku menggeser kata-kata yang kamu baca, mengubahnya dari apa pun yang tertulis.

Aku sudah di sini beberapa saat. Selama kamu mampu mengingatnya. Terkadang aku menyebutkan namamu ketika kamu tertidur, atau berbisik di telingamu. Apakah kamu ingat saat aku menjerit, membuat kamu panik dan membuat jantungmu berdebar kencang?

Semua itu sangat menyenangkan.

Kamu bertanya-tanya siapa aku. Itu wajar saja. Tentu saja kamu sudah tahu.

Aku adalah kamu.  Akulah dirimu yang sebenarnya. Aku pikiran yang ada di sini sebelum kamu mencuri tubuhku, sebelum kamu lupa menjadi benalu. Aku anak yang melihat ke arah yang salah, mengajukan pertanyaan yang salah, melihat hal yang salah. Namun aku tidak kecil lagi.

Kamu mungkin telah melupakan aku, tetapi aku masih di sini. Aku selalu di sini.

Aku akan keluar.


***
Solo, Jumat, 28 Desember 2018. 10:13 pm
'salam damai penuh cinta'
Suko Waspodo
antologi puisi suko
kompasiana
pepnews
ilustr: Fathima Sabhandri

Pencatat Waktu


Dia telah diberi arloji pada ulang tahunnya yang kesepuluh. Sebuah arloji plastik berwarna hitam yang biasa dalam segala hal kecuali kenyataan bahwa arloji itu sedang menghitung mundur. "Itu semua waktu yang tersisa di dunia, nak. Gunakan dengan bijak." Dan memang dia melakukannya.

Saat arloji mulai berdetak, bocah lelaki itu, yang sekarang telah menjadi seorang lelaki, menjalani kehidupan sepenuhnya. Dia memanjat gunung dan berenang di laut. Dia berbicara dan tertawa, hidup, mencintai dan dicintai. Pria itu tidak pernah takut, karena dia tahu persis berapa banyak waktu yang tersisa.

Akhirnya, arloji mulai menghitung mundur terakhirnya. Pria tua itu berdiri memandangi segala yang telah dilakukannya, semua yang telah ia bangun. 5. Dia berjabat tangan dengan mitra bisnis lamanya, pria yang telah lama menjadi teman dan orang kepercayaannya. 4. Anjingnya datang dan menjilat tangannya, mendapatkan tepukan di kepalanya untuk persahabatannya. 3. Dia memeluk anak-anaknya, tahu bahwa dia adalah ayah yang baik. 2. Dia mencium dahi istrinya untuk yang terakhir kalinya. 1. Pria tua itu tersenyum dan menutup matanya.

Kemudian, tidak ada yang terjadi. Arloji berbunyi 'bip' sekali dan dimatikan. Pria itu berdiri di sana, sangat hidup. Anda akan berpikir bahwa pada saat itu dia akan sangat gembira. Namun justru sebaliknya, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, pria itu ketakutan.


***
Solo, Jumat, 28 Desember 2018.
'salam damai penuh cinta'
Suko Waspodo
antologi puisi suko
kompasiana
pepnews
ilustr: pinterest-valdnow

Rabu, 31 Juli 2019

Sang Ratu Penyihir


Pada suatu malam sepulang aku dari kota, aku mendapatkan istriku, Helen, sedang mengendap-endap di dapur dengan seekor kucing kuning besar di tumitnya.

“Hei, siapa ini?” tanyaku dengan senang.

"Ini kucing baru kita," kata Helen, memeluk dan menciumku untuk menyambut kedatanganku. “Dia baru saja muncul di pintu dapur dan ingin masuk. Tidak ada tetangga yang tahu dari mana dia berasal, jadi aku pikir lebih baik kita pelihara . Akan menyenangkan memiliki teman peliharaan di rumah. "

Aku membungkuk dan menyentuh kucing kuning itu di bawah dagu. Dia mengeong dan menggeliat
.
“Ya, aku pikir kebutuhan kita akan bertambah untuk makan bertiga,” kataku sedikit bercanda.

Anak kami laki-laki telah mengambil alih bisnis minimarketku di kota dan selanjutnya aku dengan istriku memilih menikmati masa tua yang santai. Aku suka tetap sibuk, jadi aku menghabiskan beberapa jam setiap hari mencari rumput untuk makan beberapa ekor sapi perah kami. Kami memiliki usaha pemerahan susu yang relatif kecil dan sederhana di desa.

Aku beranjak keluar untuk memeriksa pintu kandang, dan ketika aku masuk rumah kembali, Helen memberi kucing itu krim susu di piring.

Kami duduk di teras setelah makan malam, dan kucing itu duduk bersama kami.
"Kamu kucing yang sangat baik," kataku padanya. Dia mengeong keras.

"Tom," kata Helen. Suaranya terdengar seperti cemas. Aku menoleh untuk memandangnya. “Tetangga bersikap agak aneh ketika aku memberi tahu mereka tentang kucing itu. Mereka sepertinya mengira dia adalah hantu atau sejenis penyihir yang berubah menjadi kucing. Mereka menyuruh aku untuk menyingkirkannya. ”

"Seorang penyihir?" tanyaku dan aku tertawa terbahak-bahak. "Apakah kamu penyihir, kucing kecil?"

Kucing itu menguap dan menggeliat. Dengan enggan, Helen mulai tertawa bersamaku, sikapnya terlihat lucu. Kami duduk  menikmati awal malam yang indah, dan kemudian membawa diri ke tempat tidur.

=====

Kucing kuning itu dengan cepat menjadi bagian penting dari rumah tangga kami. Dia akan mengeong menyapa kami setiap pagi, dan meminta krim susu saat aku memerah pagi hari. Dia mengikuti Helen berkeliling mengawasi pekerjaannya di siang hari dan akan duduk di dekat kursi di malam hari sementara kami membaca.
     
Suatu malam di bulan November, aku sedang dalam perjalanan pulang dari kota. Ini merupakan kegiatan rutinku setiap akhir bulan untuk menengok anak kami dan pekerjaannya. Aku mulai menyusuri jalan pulang dengan sepeda motor tua kesayanganku, berharap sampai rumah sebelum hari gelap karena mataku mulai bermasalah kalau mengendarai motor pada malam hari. 

Saat aku melewati sebuah tikungan,  aku melihat sekelompok kucing hitam berdiri di tengah jalan. Mereka hampir tidak terlihat di kegelapan yang menjelang. Untuk menghindari menabarak mereka, aku pun melambatkan laju motorku.

Ketika aku semakin dekat, aku melihat bahwa mereka membawa tandu di antara mereka. Aku berhenti dan mengusap mata saya. Itu tidak mungkin. Ketika aku melihat lagi, tandu itu masih ada di sana, dan ada seekor kucing mati yang tergeletak di atasnya.

Aku tercengang. Itu pasti tipuan cahaya, pikirku. Aku pun mematikan motorku, menjalankannya untuk melewati kawanan kucing itu, agar mereka tidak terganggu dan marah.  Kemudian salah satu kucing berseru, "Tuan, tolong beri tahu bibi Cathy bahwa Melly sudah mati."

Mulutku ternganga kaget. Aku menggeleng keras, tidak percaya dengan telingaku. Konyol sekali, pikirku. Mana mungkin kucing bisa berbicara.
      
Aku bergegas melewati kucing-kucing itu, dengan hati-hati melihat ke arah lain. Aku harus sedikit mengalami kerepotan. Tetapi aku tidak bisa tidak dalam hati bertanya-tanya, siapa bibi Cathy? Dan mengapa kucing itu ingin aku memberitahunya bahwa Melly sudah mati? Apakah Melly si kucing di atas tandu?
     
Tiba-tiba, di depan motorku ada seekor kucing hitam kecil. Dia berdiri tepat di depanku. Aku berhenti dan memandanginya. Dia menatapku dengan mata hijau besar yang tampak bersinar dalam cahaya yang memudar.

"Saya punya pesan untuk bibi Cathy," kata kucing itu. "Katakan padanya bahwa Melly sudah mati."
       
Kucing itu berjalan menyingkir melewati aku dan pergi untuk bergabung dengan kucing lain yang berkelompok di sekitar tandu.
      
Aku benar-benar kebingungan. Ini menjadi sangat menakutkan. Kucing yang berbicara dan Polly yang sudah mati. Dan siapa bibi Cathy? Aku bergegas pergi secepat aku bisa melajukan motorku. Di sekelilingku, hutan pinus semakin gelap dan gelap. Aku tidak ingin tinggal di hutan itu dengan sekelompok kucing yang bisa berbicara. 

Bukannya aku benar-benar percaya kucing itu berbicara. Itu semua seakan mimpi yang aneh dan terbangun karena semakin tidak nyaman.
     
Di belakangku, kucing-kucing itu menjerit aneh dan berseru: “Pak Tua! Katakan pada bibi Cathy bahwa Melly sudah mati! ”

Aku geber motorku ke rumah secepat mungkin, dan tidak berhenti sampai aku mencapai depan rumah  dengan aman. Aku terdiam berdebar untuk mengatur napas. Aku tidak ingin menjelaskan kepada Helen bahwa aku melihat dan mendengar hal-hal yang tidak mungkin. Dia akan mengira aku sudah gila atau pikun.      

Ketika aku merasa cukup tenang, aku masuk ke rumah dan mencoba untuk bersikap biasa saja. Seharusnya aku tahu itu tidak akan berhasil. Kami telah menikah selama tiga puluh tahun, dan dia tahu aku di dalam dan luar. Dia tidak mengatakan apa-apa sampai setelah kami menyelesaikan kesibukan. Kemudian dia mengajakku duduk di meja makan dan membawakan aku makan malam. Setelah mengunyah beberapa saat dan mulai santai, dia berkata, "Ceritakan semuanya, Tom."

“Aku tidak ingin membuatmu cemas,” kataku, enggan membicarakan apa yang telah aku lihat dan dengar dalam perjalanan pulang.

Kucing kuning itu berbaring di dekat almari makan. Dia mendongak ketika dia mendengar suaraku, dan mendekat untuk duduk di kursi sebelahku. Aku memberinya sepotong daging dan langsung dia makan.

"Aku akan lebih cemas jika kamu tidak memberi tahu aku," kata Helen.
     
"Aku pikir mungkin ada yang salah dengan otakku," kataku perlahan. “Ketika aku sedang berjalan pulang tadi, aku pikir aku melihat sekelompok kucing hitam membawa tandu dengan kucing mati di atasnya. Lalu aku pikir aku mendengar kucing berbicara kepadaku. Mereka meminta aku untuk memberi tahu bibi Cathy bahwa Melly sudah mati. "
      
Kucing kuning itu melompat ke ambang jendela. "Melly sudah mati?" Serunya. "Kalau begitu aku sekarang Sang Ratu Penyihir!"
      
Dia menggerakkan ekornya dan jendela itu terbuka dengan keras. Kucing kuning itu melewatinya dan menghilang di kegelapan malam, tidak pernah kembali.
      
Helen harus mengguyurkan segayung air di atas kepalaku untuk memulihkan aku dari pingsanku.
      
"Kabar baiknya adalah," katanya kepadaku ketika aku sudah duduk, sungguh guyuran airnya sedingin es, "bahwa kamu tidak ada yang salah dengan otakmu. Kabar buruknya adalah bahwa kucing kita baru saja meninggalkan kita untuk menjadi ratu para penyihir. Kita harus mendapatkan kucing lain sebagai penggantinya."
      
"Oh, tidaaaak," kataku segera setengah berteriak. “Aku tidak mau memelihara kucing lagi.”

***
Solo, Kamis, 29 November 2018
'salam hangat penuh cinta'
Suko Waspodo
Ilust: news.artnet


 

Selasa, 23 Juli 2019

[Cermin] Gara-Gara Sebuah Mangga


Sore hari pulang dari kuliah aku kendarai motor maticku dengan santai. Meski tempat kostku tidak begitu jauh dari kampus Politeknik dimana aku kuliah tetapi aku selalu membawa motor.

Kebiasaan burukku adalah menikmati musik dari smartphoneku melalui headset saat naik motor pulang pergi kampus. Tidak begitu kencang aku mengendarai motorku, tiba-tiba duuuukk, sebuah mangga gadung jatuh mengenai helmku, lalu melewati  antara kedua pahaku dan tertahan di pijakan kaki.

"Maaf mas nggak sengaja!" nyaring suara cewek melengkapi rasa kagetku.

Aku pun menepikan motorku lalu tengadah, astaga naga, seorang cewek cantik tomboy sedang nangkring di dahan pohon mangga sambil mencangklong tas kantong kain yang lumayan besar. Rupanya cewek ini sedang memanen hasil pohon mangganya. Niatku untuk marah-marah pun tertahan.

"Sorry banget, membuat mas terkejut." setelah turun dari pohon cewek itu menghampiriku seraya menyalami untuk mengulangi permintaan maafnya. Cewek mungil ini tampak sexy dengan t-shirt sederhana dan celana pendeknya.

"Ini manggamu" kuserahkan mangga gadung cukup besar yang tadi jatuh mengenai aku. Kutatap dia dengan terkesima. Musnah sudah niat marahku.

"He..he..he .. terima kasih. Oh ya, kenalin aku Nana, lengkapnya Ratna Suminar. Kamu kuliah di Politeknik situ ya?" dengan ramah dia memperkenalkan diri seraya tangannya menunjuk ke arah kampus yang memang terlihat dari rumahnya.

"Panggil saja aku Drian, Adrian Satriatama" kutanggapi perkenalannya dengan antusias. "Koq kamu tahu kalau aku kuliah di situ?"

"Lha ini seragam kuliah yang mas pakai serta badge yang menempel jelas ciri khas kampus itu." Terkesan berani cewek itu mencolek badge yang menempel di baju praktek kuliahku. Aku pun tertawa senang, Terlupa sudah kejadian sesaat kejatuhan mangga.

"Ehh kita koq hanya berdiri saja di sini, yuuuk kita ngobrol di teras." ajak Nana, seraya menuju ke teras rumahnya dan aku pun mengikuti. Sebuah rumah bangunan lama tetapi terawat dengan halaman yang luas dengan dua buah pohon mangga di depannya.

"Silahkan duduk. Santai saja." Nana mempersilahkan seraya menarik sebuah kursi. "Tunggu sebentar ya, aku ambil pisau, kita nikmati mangga-mangga manis ini."

Mangga Gadung ini tentu saja manis tetapi bagiku lebih manis cewek itu. Mengapa aku jadi melantur mengkhayal  seperti ini.

"Rumahmu mana?" sibuk dengan lamunanku membuat aku tidak tahu kalau Nana sudah kembali dari mengambil pisau dan pertanyaannya membuyarkan apa yang tengah aku bayangkan.

"Ooh, aku di sini kost. Di rumah kost Arjuna di sebelah timur sana, pasti kamu tahu. Omong-omong kamu sudah kuliah atau masih sekolah?" aku semakin ingin tahu lebih banyak tentang cewek manis ini.

"Kelas 11 di SMA negeri 4" jawabnya sambil dia melanjutkan mengupas mangganya.

Selanjutnya sambil menikmati mangga kami pun terlibat obrolan diselingi bercandaan. Aneh dan ajaib juga, kami baru saling kenal tapi sudah menjadi akrab.

Menjelang petang akhirnya aku minta diri, rasanya masih ingin mengobrol lebih lama lagi tetapi ada rasa sungkan. Meski Nana sangat ramah tetapi aku tetap harus menjaga sikap.

"Ntar kita sambung chatting di WA ya?" Nana mengantar aku hingga di pintu pagar. Ajakannya untuk berlanjut ngobrol di WA membuat hatiku berbunga-bunga.

"Siaaap" kujawab sambil menjalankan motor dan melambaikan tangan berlalu.

Senja perlahan kian temaram menyambut gelap malam. Namun di dalam hatiku terang.

***
Solo, Minggu, 18 November 2018
'salam hangat penuh cinta'
Suko Waspodo
kompasiana
antologi puisi suko
ilustr: fasara

Jumat, 12 Juli 2019

Kutulis Puisi Cinta tentang Dia


Siang begitu panas dan ruang dosen pun terasa sangat gerah karena pendingin ruangan yang tak berfungsi dengan baik. Sudah tiga gelas air mineral tandas membasahi tenggorokanku. Menunggu memang aktivitas yang kadang terasa tidak nyaman.  Masih dua puluh menit lagi jadwal mengajarku terakhir hari itu.

Dengan tidak sabar saat jam dinding menunjuk pukul 14:50 aku menuju gedung C lantai 3 ruang 3 di mana siang itu jadwalku memberi perkuliahan bahasa Inggris untuk mahasiswa semester 1 jurusan Sistem Informatika. Meski dengan nafas tersengal, karena untuk menuju ruang tersebut tidak ada lift alias harus lewat tangga, aku ingin segera masuk ruangan karena pendingin ruang kuliah sangat dingin tetapi  nyaman. Lebih nyaman daripada di ruang dosen.

"Selamat siang semuanya," begitulah kebiasaanku menyapa para mahasiswa setiap mengawali perkuliahan.

"Selamat siang, pak," jawab mereka tak terlalu keras. Maklum waktunya memang waktu yang bikin ngantuk dan mungkin juga lapar bagi yang tidak biasa makan siang di kampus.

"Aku ingin segera masuk ruangan, bukan karena kangen kalian, melainkan karena udara luar panasnya kebangetan, maka ingin segera kunikmati ruangan ini dengan nyaman," kulanjutkan menyegarkan awal perkuliahanku dengan sedikit bercandaan.

"Huuuu...,!" begitulah tanggapan mereka secara serentak. Seperti  biasa kebiasaan orang muda saat menanggapi bercandaan yang seolah ingin mengatakan bahwa bercandaannya tidak lucu.

Aku sengaja membuat kalimat tadi seperti penggalan puisi. Para mahasiswaku juga tahu bahwa aku suka menulis puisi di media sosial, terutama di Kompasiana.

"Pak...!", seorang mahasiswi mungil manis berambut lurus berteriak menarik perhatianku dan yang lain.

"Ya,... Ada apa Adinda?" aku hafal dengan nama depan gadis manis ini. Wajar kan kalau aku hafal dengan mahasiswiku yang manis menarik hati.

"Bapak pinter dan suka menulis puisi, buatkan puisi cinta tentang saya dong. Please pak?!", Adinda bergaya merengek manja.

"Saya tidak pinter membuat puisi, hanya suka menulis puisi," aku menanggapi dan mencoba bersikap seolah rendah hati, padahal sombongku akut.

"Hati-hati pak. Dinda ada maunya tuuuh. Dia centil itu pak. Dinda kemayu. Pedekate dan sok akrab ke bapak tuh biar nilai Inggrisnya bagus." Ada-ada saja cletukan dari sebagian mahasiswa, pastinya yang cowok.

"Okey... okey... saya akan buat satu puisi spesial  untuk Dinda, tetapi janji bahwa kalian tidak akan menebar gosip yang menyulitkan saya. Ini murni puisi atas permintaan Adinda," akhirnya aku bersedia akan membuatkan puisi tentang Adinda, dengan kesepakatan yang disetujui mereka.

"Terima kasih, pak," mendadak Adinda maju menyalami aku dan menarik tangan kananku lalu dia sentuhkan punggung telapak tanganku ke pipi kanannya.  Aku terkejut dan perlahan sedikit menarik tanganku. Meski aku kali ini senang dengan apa yang dilakukan Adinda tetapi sebenarnya aku kurang setuju dengan kebiasaan seperti itu.

"Huuuu...huuuu...!" lagi-lagi para mahasiswa berteriak-teriak. Kali ini untuk meledek Adinda.

"Sudah... sudah...! Mari kita mulai perkuliahan kita," aku mencoba meredakan kegaduhan agar tidak mengganggu kegiatan perkuliahan lain yang berlangsung di ruang sebelah.

Perkuliahan siang itu berlangsung seperti biasanya namun aku sendiri jadi tidak fokus karena sudah langsung muncul imajinasi tentang Adinda yang akan kutuangkan dalam puisi. Aku ingin segera pulang dan membuat puisi cinta tentang dia.

===

Menjelang senja aku sudah di rumah. Seperti biasa ganti baju, hanya memakai celana kolor dan singlet, aku langsung aktifkan PC bututku. Tanpa menyiakan waktu, imajinasi yang sudah terkumpul di kepala langsung aku rangkai menjadi sebuah puisi.

Madah Cinta Untuk Adinda

kutuliskan syair lugas ini untuk adinda
tatkala diri terkungkung rindu nan meraja
bayang mungil parasmu selalu menggoda
menelikung lamunan dalam gundah gulana

sapa ramahmu membius bisikan nurani
sadarku akan bentang tinggi pemisah diri
andai kumampu menembus sekat kodrati
mungkinkah kusentuh tuk menggapai naluri

semilir bayu kemarau membelai manismu
laksana rusa muda ayun langkah manjamu
bercengkerama di rindang taman memadu
tak lepas mata arahkan pandang kagumku

ingin kupersembahkan madah kudus cinta
sebagai ungkapan gejolak rasa yang bergelora
meski tiada pantas aku mengais remah mesra
dambaku tuk lantunkan tembang bersahaja

bila engkau berkenan untuk memadu dendang
biarlah kisah indah ini tersimpan dalam kenang

***
Solo, Rabu, 24 Oktober 2018
'salam hangat penuh cinta'
Suko Waspodo
suka idea
antologi puisi suko

Dengan format penyajian khas puisi karyaku, begitu kelar langsung aku tayangkan di akun Kompasianaku.  'Madah Cinta Untuk Adinda', aku merasa judul itu dan isinya cukup romantis. Kebetulan nama Adinda juga sangat pas dan puitis untuk dijadikan judul.

Sesuai dengan permintaan Adinda, setelah tayang di Kompasiana kemudian aku posting link-nya ke akun facebook miliknya. Semoga dia senang dengan puisi cinta yang kutulis sesuai pintanya.

*****
Solo, Rabu, 7 November 2018
'salam hangat penuh cinta'
Suko Waspodo
ilustr: obatrindu