Welcome...Selamat Datang...

Rabu, 31 Juli 2019

Sang Ratu Penyihir


Pada suatu malam sepulang aku dari kota, aku mendapatkan istriku, Helen, sedang mengendap-endap di dapur dengan seekor kucing kuning besar di tumitnya.

“Hei, siapa ini?” tanyaku dengan senang.

"Ini kucing baru kita," kata Helen, memeluk dan menciumku untuk menyambut kedatanganku. “Dia baru saja muncul di pintu dapur dan ingin masuk. Tidak ada tetangga yang tahu dari mana dia berasal, jadi aku pikir lebih baik kita pelihara . Akan menyenangkan memiliki teman peliharaan di rumah. "

Aku membungkuk dan menyentuh kucing kuning itu di bawah dagu. Dia mengeong dan menggeliat
.
“Ya, aku pikir kebutuhan kita akan bertambah untuk makan bertiga,” kataku sedikit bercanda.

Anak kami laki-laki telah mengambil alih bisnis minimarketku di kota dan selanjutnya aku dengan istriku memilih menikmati masa tua yang santai. Aku suka tetap sibuk, jadi aku menghabiskan beberapa jam setiap hari mencari rumput untuk makan beberapa ekor sapi perah kami. Kami memiliki usaha pemerahan susu yang relatif kecil dan sederhana di desa.

Aku beranjak keluar untuk memeriksa pintu kandang, dan ketika aku masuk rumah kembali, Helen memberi kucing itu krim susu di piring.

Kami duduk di teras setelah makan malam, dan kucing itu duduk bersama kami.
"Kamu kucing yang sangat baik," kataku padanya. Dia mengeong keras.

"Tom," kata Helen. Suaranya terdengar seperti cemas. Aku menoleh untuk memandangnya. “Tetangga bersikap agak aneh ketika aku memberi tahu mereka tentang kucing itu. Mereka sepertinya mengira dia adalah hantu atau sejenis penyihir yang berubah menjadi kucing. Mereka menyuruh aku untuk menyingkirkannya. ”

"Seorang penyihir?" tanyaku dan aku tertawa terbahak-bahak. "Apakah kamu penyihir, kucing kecil?"

Kucing itu menguap dan menggeliat. Dengan enggan, Helen mulai tertawa bersamaku, sikapnya terlihat lucu. Kami duduk  menikmati awal malam yang indah, dan kemudian membawa diri ke tempat tidur.

=====

Kucing kuning itu dengan cepat menjadi bagian penting dari rumah tangga kami. Dia akan mengeong menyapa kami setiap pagi, dan meminta krim susu saat aku memerah pagi hari. Dia mengikuti Helen berkeliling mengawasi pekerjaannya di siang hari dan akan duduk di dekat kursi di malam hari sementara kami membaca.
     
Suatu malam di bulan November, aku sedang dalam perjalanan pulang dari kota. Ini merupakan kegiatan rutinku setiap akhir bulan untuk menengok anak kami dan pekerjaannya. Aku mulai menyusuri jalan pulang dengan sepeda motor tua kesayanganku, berharap sampai rumah sebelum hari gelap karena mataku mulai bermasalah kalau mengendarai motor pada malam hari. 

Saat aku melewati sebuah tikungan,  aku melihat sekelompok kucing hitam berdiri di tengah jalan. Mereka hampir tidak terlihat di kegelapan yang menjelang. Untuk menghindari menabarak mereka, aku pun melambatkan laju motorku.

Ketika aku semakin dekat, aku melihat bahwa mereka membawa tandu di antara mereka. Aku berhenti dan mengusap mata saya. Itu tidak mungkin. Ketika aku melihat lagi, tandu itu masih ada di sana, dan ada seekor kucing mati yang tergeletak di atasnya.

Aku tercengang. Itu pasti tipuan cahaya, pikirku. Aku pun mematikan motorku, menjalankannya untuk melewati kawanan kucing itu, agar mereka tidak terganggu dan marah.  Kemudian salah satu kucing berseru, "Tuan, tolong beri tahu bibi Cathy bahwa Melly sudah mati."

Mulutku ternganga kaget. Aku menggeleng keras, tidak percaya dengan telingaku. Konyol sekali, pikirku. Mana mungkin kucing bisa berbicara.
      
Aku bergegas melewati kucing-kucing itu, dengan hati-hati melihat ke arah lain. Aku harus sedikit mengalami kerepotan. Tetapi aku tidak bisa tidak dalam hati bertanya-tanya, siapa bibi Cathy? Dan mengapa kucing itu ingin aku memberitahunya bahwa Melly sudah mati? Apakah Melly si kucing di atas tandu?
     
Tiba-tiba, di depan motorku ada seekor kucing hitam kecil. Dia berdiri tepat di depanku. Aku berhenti dan memandanginya. Dia menatapku dengan mata hijau besar yang tampak bersinar dalam cahaya yang memudar.

"Saya punya pesan untuk bibi Cathy," kata kucing itu. "Katakan padanya bahwa Melly sudah mati."
       
Kucing itu berjalan menyingkir melewati aku dan pergi untuk bergabung dengan kucing lain yang berkelompok di sekitar tandu.
      
Aku benar-benar kebingungan. Ini menjadi sangat menakutkan. Kucing yang berbicara dan Polly yang sudah mati. Dan siapa bibi Cathy? Aku bergegas pergi secepat aku bisa melajukan motorku. Di sekelilingku, hutan pinus semakin gelap dan gelap. Aku tidak ingin tinggal di hutan itu dengan sekelompok kucing yang bisa berbicara. 

Bukannya aku benar-benar percaya kucing itu berbicara. Itu semua seakan mimpi yang aneh dan terbangun karena semakin tidak nyaman.
     
Di belakangku, kucing-kucing itu menjerit aneh dan berseru: “Pak Tua! Katakan pada bibi Cathy bahwa Melly sudah mati! ”

Aku geber motorku ke rumah secepat mungkin, dan tidak berhenti sampai aku mencapai depan rumah  dengan aman. Aku terdiam berdebar untuk mengatur napas. Aku tidak ingin menjelaskan kepada Helen bahwa aku melihat dan mendengar hal-hal yang tidak mungkin. Dia akan mengira aku sudah gila atau pikun.      

Ketika aku merasa cukup tenang, aku masuk ke rumah dan mencoba untuk bersikap biasa saja. Seharusnya aku tahu itu tidak akan berhasil. Kami telah menikah selama tiga puluh tahun, dan dia tahu aku di dalam dan luar. Dia tidak mengatakan apa-apa sampai setelah kami menyelesaikan kesibukan. Kemudian dia mengajakku duduk di meja makan dan membawakan aku makan malam. Setelah mengunyah beberapa saat dan mulai santai, dia berkata, "Ceritakan semuanya, Tom."

“Aku tidak ingin membuatmu cemas,” kataku, enggan membicarakan apa yang telah aku lihat dan dengar dalam perjalanan pulang.

Kucing kuning itu berbaring di dekat almari makan. Dia mendongak ketika dia mendengar suaraku, dan mendekat untuk duduk di kursi sebelahku. Aku memberinya sepotong daging dan langsung dia makan.

"Aku akan lebih cemas jika kamu tidak memberi tahu aku," kata Helen.
     
"Aku pikir mungkin ada yang salah dengan otakku," kataku perlahan. “Ketika aku sedang berjalan pulang tadi, aku pikir aku melihat sekelompok kucing hitam membawa tandu dengan kucing mati di atasnya. Lalu aku pikir aku mendengar kucing berbicara kepadaku. Mereka meminta aku untuk memberi tahu bibi Cathy bahwa Melly sudah mati. "
      
Kucing kuning itu melompat ke ambang jendela. "Melly sudah mati?" Serunya. "Kalau begitu aku sekarang Sang Ratu Penyihir!"
      
Dia menggerakkan ekornya dan jendela itu terbuka dengan keras. Kucing kuning itu melewatinya dan menghilang di kegelapan malam, tidak pernah kembali.
      
Helen harus mengguyurkan segayung air di atas kepalaku untuk memulihkan aku dari pingsanku.
      
"Kabar baiknya adalah," katanya kepadaku ketika aku sudah duduk, sungguh guyuran airnya sedingin es, "bahwa kamu tidak ada yang salah dengan otakmu. Kabar buruknya adalah bahwa kucing kita baru saja meninggalkan kita untuk menjadi ratu para penyihir. Kita harus mendapatkan kucing lain sebagai penggantinya."
      
"Oh, tidaaaak," kataku segera setengah berteriak. “Aku tidak mau memelihara kucing lagi.”

***
Solo, Kamis, 29 November 2018
'salam hangat penuh cinta'
Suko Waspodo
Ilust: news.artnet


 

0 comments:

Posting Komentar