Welcome...Selamat Datang...

Padi organik petani hasil pendampingan kami

Padi Rojolele organik

Lokomotif tua di kota kecil Cepu, Blora

Lokomotif tua yang sekarang kadang-kadang digunakan untuk kereta wisata di lingkunagn perhutani Cepu-Blora.

SATE BUNTEL KHAS SOLO

Lezat dan bikin kita ketagihan.

Jajanan khas Jawa

Jajanan khas Jawa ini sekarang sering disajikan dalam acara formal maupun informal. Lengkap, rasanya bervariasi dan sehat.

Para peserta LDK di Tawangmangu

Latihan Dasar Kepemimpinan diikuti oleh sekitar 30 mahasiswa Surakarta di Tawangmangu pada tahun 2011.

Di Tanah Lot Bali

Refreshing di Bali pada tahun 2010, bersama teman-teman dosen.

Minggu, 10 Agustus 2014

Jokowi-JK Tetap Unggul

Lingkaran Survei Indonesia (LSI) merilis hasil survei terbarunya pasca pengumuman hasil KPU. Hasilnya tidak terlalu mengejutkan bagi kubu Jokowi-JK,  dukungan terhadap Prabowo-Hatta anjlok menjadi 34,75% dibanding hasil KPU 46,85%. Dilain pihak, dukungan kepada pasangan Jokowi-JK meningkat tajam hingga 65,25% dibandingkan dengan hasil penghitungan KPU sebanyak 53,15%.

Hasil survei disampaikan pada jumpa pers Head to Head Dukungan Prabowo-Jokowi Pasca Keputusan Resmi KPU di Kantor LSI, Jakarta, Kamis, 7 Agustus 2014. Menurut peneliti LSI, Ade Mulyana, alasan dukungan kepada Jokowi naik karena pendukung Prabowo terkesan ragu-ragu atau kerap beralih dukungan. Selain itu para pendukung Prabowo-Hatta banyak yang percaya dan menghormati hasil KPU.

Alasan lain, menurut Ade, banyaknya peralihan publik kepada Jokowi-JK pasca-pengumuman KPU 22 Juli 2014 karena kecewa kepada Prabowo yang terkesan tidak legowo terhadap hasil KPU. Sementara, katanya, Jokowi-JK dinilai publik lebih santun.

Kecuali itu hasil survei LSI juga memaparkan seandainya Pilpres 2014 digelar pada hari ini bertepatan dengan proses survei, maka dukungan terhadap Jokowi-JK memperoleh 57,06% dibanding Prabowo-Hatta 30,39%. Sementara, responden yang menyatakan rahasia atau tidak menjawab sebanyak 12,55%.

Survei dilakukan pada tanggal 4-6 Agustus 2014 menggunakan metode quickpoll dengan jumlah responden sebanyak 1.200 di seluruh provinsi Indonesia.

Nah, inilah informasi hasil survei terbaru yang mestinya juga sudah diketahui oleh kubu Prabowo-Hatta. Mereka seharusnya sadar serta mengakui kemenangan pasangan Jokowi-JK dan tidak terus mengumbar emosi dengan tuntutan yang  hanya akan sia-sia belaka.

Survei telah menunjukkan bahwa sejak sebelum masa kampanye hingga pasca pilpres saat ini pasangan Jokowi-JK tetap unggul. Kalau rakyat menghendaki tak akan ada yang mampu menghalangi.

Salam kritis penuh cinta.

***
Solo, Jumat, 8 Agustus 2014
Suko Waspodo

Cinta Kita Massive Terstruktur dan Sistematis



















ada kerinduan yang semakin menggebu
keinginan jumpa nyata tak sekedar semu
menggebu di relung kalbu hadirnya cinta
tak kuasa kita untuk menolak pesonanya

lalu kita rajut indahnya kehangatan asmara
semakin rekatkan paduan naluri sejati kita
wanginya memenuhi ruang kalbu merindu
saling menatap kita dalam diam membisu

berdua merangkai wangi gejolak birasa
kita padukan dengan tulus belaian manja
terjalin hangat dalam keindahan surgawi
semakin hasrat membuncah dan meninggi

dalam kesenyapan mesra pagi nan dingin
berdekap lekat meraih puncak kita ingin
terus menerus rasa kita melayang tinggi
bersama kita terbang nikmati hasrat diri

***
Solo_Kudus, Jumat, 8 Agustus 2014. 3:39 pm
‘salam hangat penuh cinta’
Suko Waspodo & Dinda Pertiwi

Jokowi dan ‘e-Blusukan’

Semakin bisa diprediksi bagaimana pola kepemimpinan calon presiden terpilih Joko Widodo dalam pemerintahan negeri ini yang akan datang. Salah satunya yang masih akan diterapkan adalah model pendekatan kepada rakyat kecil dengan blusukan, seperti yang selama ini pernah dilakukannya saat sebagai walikota Solo maupun gubernur DKI Jakarta. Tentu saja pola blusukan-nya akan sedikit berbeda.

Rakyat Indonesia yang mendiami negara kepulauan yang begitu luas ini tentu tidak memungkinkan untuk dijangkau oleh Jokowi dengan pendekatan blusukan seperti selama ini. Sangat mustahil untuk semuanya dijangkau dengan blusukan langsung meskipun dalam waktu lima tahun sekalipun. Oleh karena itu Jokowi akan menggunakan dua model blusukan, blusukan dengan menemui rakyat secara langsung dan e-Blusukan yaitu blusukan melalui komunikasi lewat media internet dan jejaring sosial.

Dalam blusukan langsung Jokowi masih akan menerapkan pola komunikasinya selama ini. Dia meyakini bahwa komunikasi aktif seperti ini merupakan cara yang sangat efektif dan berdayaguna untuk mengetahui secara nyata permasalahan maupun kesulitan rakyat. Dengan pola ini tidak akan terjadi cara pelaporan permasalahan yang fiktif serta asal bapak senang namun permasalahan rakyat tak terpecahkan. Jokowi akan menerapkan birokrasi yang lebih sederhana dan terbuka. Menurut dia birokrasi yang berbelit-belit hanya akan menghambat kemajuan bangsa.

Sementara itu melalui e-Blusukan, Jokowi akan mendekati rakyat kecil, yang sulit dijangkau karena masalah jarak maupun kesempatan, dengan media komunikasi internet. Komunikasi dengan video-call juga tidak akan menjadi masalah lagi di era kemajuan IT seperti saat ini. Media jejaring sosial semacam Facebook dan Twitter sudah bukan hal yang asing lagi bagi rakyat Indonesia. Jokowi yakin e-Blusukan tidak akan kalah efektifnya dengan blusukan langsung. Untuk menunjang komunikasi modern ini maka akan semakin diperluas jaringan keterjangkauan internet sampai seluruh pelosok Indonesia. Pendidikan kepada rakyat untuk semakin melek dan sadar akan pentingnya internet juga akan terus ditingkatkan. Internet murah akan segera disediakan bagi rakyat kecil.

Demikianlah sedikit informasi yang bisa kita ketahui tentang pola komunikasi Jokowi dengan rakyat kecil di pemerintahannya yang akan datang. Mari, kita pun secara aktif juga terus mengkritisi dan memberi masukan kepada presiden kita yang baru ini sehingga akan tercipta komunikasi yang efektif demi kemajuan kita berbangsa dan bernegara yang semakin sejahtera.

Salam damai penuh cinta.

***
Solo, Jumat, 8 Agustus 2014
Suko Waspodo

Kamis, 07 Agustus 2014

Penyakit Kejiwaan Prabowo Subianto

Mengamati perilaku Prabowo Subianto, yang semakin memuakkan dalam menyikapi hasil pilpres yang dimenangi oleh Jokowi, membuat diskusi saya dengan seorang kawan politisi senior dari jaman orde baru menjadi kian menarik. Menurut kawan saya yang sangat mengenal Prabowo ini, Prabowo ternyata memang orang yang sakit. Prabowo menderita penyakit kejiwaan yang disebut Delusi Megalomania.

Menurut dia seharusnya KPU sejak awal sudah tidak meloloskan Prabowo Subianto. Prabowo cenderung selalu membenarkan diri sendiri, egois dan tidak tahan stress. Selama dalam TNI-AD salah asuh, tidak ada yang menegur dan bertindak semaunya sendiri. Atasannya enggan mengingatkan karena sering terjadi konflik melawan atasan. Selama hampir 20 tahun dalam lingkungan militer sifat-sifat itu berkembang tanpa kontrol. Hal ini pasti sudah diketahui dalam test psikologi ketika seleksi capres-cawapres tetapi yang mengherankan mengapa KPU meloloskannya ? Inilah yang justru membuat KPU mengalami kesulitan sendiri pasca pilpres kali ini.

Penyakit kejiwaan yang diderita Prabowo ini  membuat dia menjadi merasa memiliki suatu bentuk fantasi tentang kekuatan, kekayaan dan ‘kemaha-besaran’ di dalam dirinya. Hal ini terkadang disebabkan oleh obsesinya  akan kebesaran dan kemuliaan, baik itu secara pemikiran atau perbuatan, yang tidak tercapai.

Para penderita Delusi Megalomania, seperti yang dialami Prabowo ini, memiliki kecenderungan akan tetap mempertahankan suatu keyakinan walau telah terbukti bertolak belakang dengan kenyataan, dengan tujuan memenuhi hasrat obsesi mereka dalam bentuk fantasi.  Pada taraf kritis, megalomania dapat membahayakan penderitanya disebabkan keyakinan dirinya untuk mampu melakukan sesuatu yang tidak dapat dilakukan oleh manusia normal.

Jenis penyakit kejiwaan ini, menurut Sigmund Freud, adalah akibat dari sebuah narsisisme kedua yang muncul pada seseorang yang mengidap penyakit mental. Berbeda dari narsisisme utama yang biasa muncul pada bentuk narsistis kebanyakan, narsistis ini bersifat patologis karena mengarahkan pada skizofrenia, dengan jalan mendorong harapan dan impian dari belakang libido sehingga terpisah dari obyeknya didunia nyata dan pada akhirnya menghasilkan megalomania. Narsisisme kedua yang ada pada bentuk penyakit mental menurut Freud berbentuk membesar-besarkan diri sendiri yang merupakan hasil dari manifestasi ekstrem dari narsisisme utama yang biasa terdapat dalam diri setiap individu.

Berdasarkan teori Freud yang tertulis di atas maka dapat kita ketahui bahwa akar dari megalomania adalah narsistik yang sakit. Di mana penderitanya memiliki keyakinan diri yang dibesar-besarkan, berbentuk delusi atau waham dan diyakini secara absolut. Sikap tidak mau menerima kritik walau salah sekalipun, dan tetap percaya terhadap apa yang sebenarnya telah terbukti salah merupakan sifat dari kepribadian megalomania. Hal ini terjadi karena keyakinan yang menganggap diri maha sempurna dan tidak mungkin melakukan kesalahan. Walau kecenderungan irasionalitas merupakan kenyataan, namun jika keadaan ini dimiliki oleh seseorang yang memiliki pengaruh dalam sosial-politik maka akan menimbulkan masalah yang besar.

Sekarang kita bisa memperkirakan apa yang akan terjadi apabila suatu bentuk pemerintahan dilandasi oleh keputusan megalomania yang ditetapkan oleh pemimpin yang sakit, hal tersebut akan mengarahkan roda pemerintahan pada arah kehancuran. Karena, keputusan yang diambil bertujuan hanya untuk memenuhi hasrat kebesaran yang dimiliki oleh sang pemimpin megalomania, tidak berpihak kepada yang diperintah, atau bahkan tidak berdasar pada kenyataan sama sekali.

Itulah penyakit kejiwaan yang diderita oleh Prabowo sejak dulu. Maka bisa kita bayangkan apabila Prabowo yang memenangi pilpres kali ini, akan seperti apa kondisi negeri ini. Pemerintahan pasti akan  kacau-balau dan negara menjadi hancur karena dipimpin oleh seorang presiden yang menderita penyakit kejiwaan.

Demikianlah tulisan ini hanya bermaksud untuk berbagi pengetahuan agar bisa membuka wawasan kita dalam menyikapi perilaku Prabowo. Selanjutnya kita selayaknya mengucap syukur bahwa pilpres kita tidak dimenangi oleh orang yang menderita penyakit kejiwaan Delusi Megalomania.

Salam kritis penuh cinta.

***
Solo, Kamis, 7 Agustus 2014
Suko Waspodo

Prabowo yang ‘Tersakiti’, Benarkah?

Dalam pernyataannya di Mahkamah Konstitusi (MK) pada Sidang Perdana Perselisihan Hasil Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden 2014, Rabu 6 Agustus 2014, Prabowo curhat, dimana salah satunya yang menarik bahwa dia merasa ‘tersakiti’ dalam pilpres kali ini. Sungguh ini pernyataan yang menggelikan dan sekaligus semakin membuat masyarakat muak dengan segala perilakunya.

Apabila kita membahas tentang siapa yang tersakiti dalam hal ini tentulah seharusnya Jokowi bukan Prabowo. Seluruh rakyat Indonesia dan bahkan mungkin seluruh dunia  yang mencermati pemberitaan tentang pesta demokrasi negeri ini tahun ini tahu, betapa massive-nya kampanye hitam yang ditimpakan kepada Jokowi. Mulai dari isu Tionghoa, Kristen dan bahkan PKI ditimpakan kepada dia namun semuanya tidak terbukti karena memang itu semua hanyalah perilaku busuk kubu Prabowo saja. Dan setiap kali Jokowi ditanya tentang kampanye hitam yang dikenakan kepadanya dia hanya selalu menjawab dengan santai aku rapopo alias no problem. Kemudian fakta yang membuktikan bahwa akhirnya Jokowi yang memenangi pilpres karena memang dia yang dikehendaki dan dicintai rakyat negeri ini.

Sementara kalau Prabowo merasa tersakiti tentang pemberitaan negatif perilaku dirinya di masa lalu, itu aneh. Dia selama ini hanya menyangkal saja tentang pelanggaran HAM dan rencana kudetanya pada tahun 1998 tetapi tidak mau diusut. Padahal sudah banyak saksi hidup para mantan jendral atasannya yang memberikan pernyataan tentang kebenaran perilaku negatifnya di masa lalu itu.

Kalau Prabowo merasa kecewa karena kalah dalam pilpres kali ini itu wajar tetapi tidak harus merasa tersakiti dan kemudian menuntut KPU melaui MK dengan bukti-bukti kecurangan pilpres yang belum tentu semuanya bisa dia buktikan kebenarannya. Sebagai seorang yang lebih tua dalam usia dan lebih banyak makan asam garam dalam kancah perpolitikan negeri ini dibandingkan dengan Jokowi, seharusnya Prabowo bisa bijaksana dan legowo menerima kekalahan. Bukannya malahan terus menuntut dengan sangat emosional seperti layaknya anak kecil yang kalah dalam suatu permainan. Prabowo seharusnya malu dengan pernyataan dari Jokowi yang mengatakan bahwa Prabowo adalah seorang negarawan padahal kenyayaannya justru kekanak-kanakan.

Berhentilah dengan tuntutan anda yang kekanak-kanakan itu, pak Prabowo. Sesungguhnya bukan anda yang tersakiti melainkan rakyat. Rakyat negeri ini sudah muak dengan semua perilaku anda.

Salam kritis penuh cinta.

***
Solo, Rabu, 6 Agustus 2014
Suko Waspodo

Pelukan Malam



















temaram senja jingga warnai cakrawala
bergegas unggas memasuki peraduannya
riuh belalang mengiringi berlalunya terang
bersendau gurau saat insan menunggu lelap

langit ratri tersaput mendung naungi bumi
seberkas haru larut terbalut kalut dan takut
terpaku ratap menatap bayang penuh rindu
hangatkan dahaga raga yang sendu merayu

kunang tak ingin membawa manja cahayanya
kala waktu enggan berkawan pada gelap hari
bintangpun bersembunyi sunyi sendiri sepi
terhapus awan gelap melahap habis langit

bulan memudar cantik menarik pada jiwa ini
hitam tatkala ini menang menyerang terang
tapi mekar fajar bersama mentari kan menari
bersama untaian senandung sabda alam pagi

***
Solo, Selasa, 5 Agustus 2014. 12:13 am
‘salam hangat penuh cinta’
Suko Waspodo

Agar Karya Kita di Kompasiana Nyaman Dinikmati

Sebagai perwujudan dari niat baik untuk saling asah, asih dan asuh, perkenankanlah pada kesempatan tulisan kali ini saya menyampaikan sedikit kritik dan saran agar tulisan kita, khususnya di Kompasiana, nyaman untuk dinikmati dan semakin bermanfaat. Karena saya belum pernah mendapat ‘anugerah’ HL dari admin Kompasiana maka janganlah saya dianggap menggurui dalam hal ini. Saya bukanlah penulis yang piawai namun sekedar ingin kita saling belajar dan mengajar.

Selama ini mungkin kita merasa baik-baik saja dengan tulisan kita dan merasa senang karena tulisan kita masuk HL atau TA dan dibaca ribuan orang. Namun apakah kita sudah menulis dengan kaidah penulisan ilmiah yang agak benar? Agak benar? Ya, cukup agak benar karena tulisan kita kan untuk Kompasiana saja bukan untuk penulisan skripsi atau lomba karya ilmiah.

Yang perlu kita cermati dalam karya tulisan kita (kecuali puisi) di kompasiana selain persyaratan yang telah ditetapkan oleh admin tentu juga penulisan menurut kaidah yang benar. Berikut ini saya sampaikan sebagian kaidah penulisan yang perlu diterapkan.

Penggunaaan huruf kapital pada huruf awal setiap kata di judul tulisan kita kecuali pada kata sambung.
Contoh penulisan judul: Surat Terbuka Rakyat Indonesia untuk Ibu Iriana Jokowi
Untuk penulisan judul ini biasanya sering juga dibenahi oleh admin tetapi kadang admin malahan melakukan kesalahan dengan mengubah huruf kecil pada huruf awal kata sambung dengan huruf besar. Saya berulang kali mengalami hal ini dan kemudian saya edit dengan mengembalikannya pada penulisan saya yang benar.
Ketentuan ini juga berlaku dalam penulisan sub judul di dalam artikel kita.

Penggunaan huruf kapital pada huruf pertama kata awal kalimat, nama, jabatan, sebutan dan nama daerah atau kota.

Penulisan dengan italic, huruf miring, diperlukan untuk penulisan kata dari bahasa asing dan bahasa daerah.

Penggunaan tanda baca yang tepat:  titik, koma, titik koma, titik dua, tanda tanya, tanda seru, tanda kutip dan sebagainya.
Ketentuan penggunaan tanda baca ini pasti sudah pernah kita pelajari dalam pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah. Bahkan seandainya (maaf) kita hanya lulus SD sekalipun.

Penggunaan tanda baca yang benar bukan untuk hiasan tetapi untuk memudahkan pembaca dalam memahami  maksud karya tulisan kita. Pasti sangat membingungkan bagi kita untuk memahami maksud penulis apabila suatu artikel, cerpen atau cermin ditulis dengan mengabaikan penggunaan huruf kapital dan tanda baca. Silahkan anda cermati masih banyak sekali artikel atau tulisan non-fiksi serta cerpen maupun cermin di Kompasiana yang mengabaikan kaidah penulisan ini.

Penerapan huruf kapital dan tanda baca ini mungkin bisa diabaikan dalam penulisan puisi. Silahkan dicermati cara penulisan puisi-puisi saya yang mengabaikan tanda baca. Kita semua tahu bahwa dalam penulisan puisi ada unsur kebebasan.

Kita tentu tidak bisa mengharapkan para admin  untuk mengoreksi karya tulisan kita. Ada baiknya kita sedikit belajar lagi tentang Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan. Kita menulis untuk berbagi informasi, pengetahuan dan menghibur orang lain, tentu seharusnya kita berusaha sebaik mungkin dalam menyajikannya.

Demikianlah sedikit ungkapan kritik dan saran saya. Bukan ingin sok pintar, namun sekali lagi, hanya ingin saling asah, asih dan asuh.

Salam kritis penuh cinta.

***
Solo, Senin, 4 Agustus 2014
Suko Waspodo