Welcome...Selamat Datang...

Padi organik petani hasil pendampingan kami

Padi Rojolele organik

Lokomotif tua di kota kecil Cepu, Blora

Lokomotif tua yang sekarang kadang-kadang digunakan untuk kereta wisata di lingkunagn perhutani Cepu-Blora.

SATE BUNTEL KHAS SOLO

Lezat dan bikin kita ketagihan.

Jajanan khas Jawa

Jajanan khas Jawa ini sekarang sering disajikan dalam acara formal maupun informal. Lengkap, rasanya bervariasi dan sehat.

Para peserta LDK di Tawangmangu

Latihan Dasar Kepemimpinan diikuti oleh sekitar 30 mahasiswa Surakarta di Tawangmangu pada tahun 2011.

Di Tanah Lot Bali

Refreshing di Bali pada tahun 2010, bersama teman-teman dosen.

Selasa, 19 Agustus 2014

Haruskah Kita Berijasah Pasca Sarjana?

Pertanyaan ini muncul karena saat ini ada kecenderungan seseorang akan menyelesaikan pendidikannya hingga jenjang pasca sarjana (Strata-2), artinya tidak hanya sekedar sampai sarjana (Strata-1) saja. Hal ini tentu menarik untuk kita cermati.

Karir sebagai Akademisi

Apabila kita akan berkarir sebagai akademisi maka pendidikan sampai Strata-2 (S2) merupakan keharusan. Saat ini untuk menjadi dosen, mutlak harus memiliki ijasah S2. Sejak tahun 1998 untuk menjadi dosen seseorang diwajibkan sudah menyelesaikan pasca sarjana sedangkan sebelumnya cukup dengan ijasah Strata-1 (S1) dan jenjang pasca sarjana bisa dipenuhi sambil yang bersangkutan bertugas sebagai dosen.

Seseorang yang sudah cukup lama menjadi dosen sebelum tahun 1998 dan sampai saat ini masih menekuni karirnya, tetap diperbolehkan mengajar namun dibatasi. Mereka, yang disebabkan berbagai kendala tidak mampu menempuh kuliah pasca sarjana, hak mengajar mereka dibatasi hanya untuk mahasiswa sampai jenjang Diploma-3 saja.

Perlu kita ketahui juga bahwa untuk meraih jenjang doktor (Strata-3) pun sekarang bukan hal yang sulit. Semakin banyak perguruan tinggi dalam negeri yang membuka program pendidikan Strata-3 dan pemerintah pun menyediakan beasiswa yang cukup besar bagi para dosen yang membutuhkannya.

Karir di Bidang Lain

Sesungguhnya tidak perlu ijasah S2 bagi kita yang ingin berkarir di luar sebagai akademisi. Sebagian besar pasar kerja di luar dunia perguruan tinggi tidak mengharuskan kita berijasah S2. Bahkan ada kesan ijasah S2 hanya menjadi penghambat  dalam memulai masuk dunia kerja. Ada kecenderungan seseorang yang berijasah S2 menuntut gaji langsung tinggi di tempat kerja yang akan dimasukinya. Tentu saja perusahaaan atau instansi kerja akan menolak pelamar kerja yang seperti itu.

Kenyataan menunjukkan bahwa bidang pekerjaan di luar sebagai akademisi cukup diisi dengan lulusan S1 atau bahkan hanya lulusan SMA atau SMK. Maka wajar kalau perusahaan atau instansi banyak yang menolak pelamar kerja lulusan S2 kecuali mereka bersedia bekerja dengan gaji setara lulusan S1 atau bahkan jenjang pendidikan di bawahnya.

Karir sebagai Wiraswasta

Untuk bidang ini sudah pasti tidak ada tuntutan harus selesai pendidikan pasca sarjana. Banyak wiraswastawan yang sukses bahkan hanya berpendidikan formal yang rendah. Ketekunan dan keuletan mereka yang justru membuat mereka sukses dalam berwiraswasta.

Demikianlah hal-hal yang perlu kita cermati terkait trend pendidikan pasca sarjana di negeri ini. Haruskah kita menempuh pendidikan hingga jenjang S2 atau bahkan S3? Jawabannya tergantung pada bidang karir yang anda pilih. Selamat menjalani karir anda dan semoga sukses.

Salam damai penuh cinta.

***
Solo, Selasa, 12 Agustus 2014
Suko Waspodo

Pelukan Mesra Kasih-Mu



















angin pagi menyusup bilah kaca jendela
mentari menggeliat semangat awali hari
kubuka mataku menatap malam berlalu
nyanyi kukila hantar aku bersihkan raga

kumasuki ruang doaku
kunyalakan lilin jingga
kubersimpuh
kupejamkan mata
kukosongkan diri
kubuka hatiku
kusapa Engkau manja
Engkau peluk aku mesra

aku bersyukur atas perlindungan-Mu
Engkau senantiasa setia menyayangiku

kugenggam jemari-Mu erat
kurasakan kasih-Mu mengalir hangat

kubuka mataku kembali
semesta-Mu kian kukagumi

aku bersyukur atas karunia-Mu
aku berjanji memeliharanya selalu

***
Solo, Selasa, 12 Agustus 2014. 05:13 am
‘salam hangat penuh cinta’
Suko Waspodo

Sendiri Meregang Mati



















jangan pernah pergi jauh
kekasihku
meski hanya untuk sehari
sehari adalah waktu yang begitu lama
dan aku akan menunggumu di sini
yang telah kosong dan sepi
ketika tiada seorang pun yang peduli

jangan tinggalkan aku
meski hanya satu jam
karena sejak itu
tetes-tetes kecil kesedihan
akan berpacu bersama asap
yang mengembara mencari  persinggahan
yang  terseret hanyut dalam diriku
mencekik hatiku yang sekarat

barangkali siluetmu
tak pernah larut di bening air
barangkali kelopak matamu
tidak pernah berdenyar
di bentang jarak yang hampa

jangan pernah tinggalkan aku sedetik pun
sayangku
karena jika itu terjadi
engkau akan semakin jauh tak tersentuh
lalu aku akan sendiri bersimbah pedih

bila engkau tinggalkan aku
akankah aku mampu meraih awan
menitip tanya ke seluruh penjuru bumi
apakah engkau akan kembali
apakah engkau akan meninggalkan aku
sendiri meregang mati

***
Solo, Senin, 11 Agustus 2014. 1:39 pm
‘salam hangat penuh cinta’
Suko Waspodo

Minggu, 10 Agustus 2014

Silahkan Memilih Berjilbab atau Ber-‘jilboobs’

Akhir-akhir ini terjadi perdebatan yang seru di pemberitaan, media sosial maupun di masyarakat tentang  bagaimana seharusnya cara berjilbab yang benar. Begitu sensitifnya masalah berpakaian ini sehingga mengundang MUI untuk  mengeluarkan fatwa haram bagi para wanita yang ber-jilboobs alias memakai jilbab namun pakaiannya ketat dan masih menonjolkan aurat.

Seharusnya hal ini tidak perlu dipermasalahkan  begitu sengit karena jilboobs sesungguhnya hanyalah fenomena mode yang lagi trend layaknya gaya berpakaian yang lain. Tidak perlu terlalu diperdebatkan karena masih banyak problem sosial yang lain yang lebih membutuhkan perhatian dan perdebatan kita.

Untuk memecahkan permasalahan antara jilbab atau jilboobs sebenarnya cukup sederhana. Biarlah kedua cara berpakaian itu berlangsung sebagaimana mestinya, artinya  yang ingin berjilbab silahkan berjilbab sesuai Syari’at Islam sementara yang ingin ber-jilboobs silahkan memakainya sesuai keinginan pemakainya sepanjang tidak mengganggu ketertiban umum.

Ber-jilboobs yang selama ini menjadi trend di Indonesia sebenarnya masih dalam taraf yang wajar dan tidak mengganggu ketertiban umum. Masih hanya sebatas para pemakainya memadukan jilbab dengan pakaian mereka yang kadang super ketat dan terkesan menonjolkan aurat. Belum pernah kita jumpai wanita memakai jilbab tetapi memadukannya dengan rok mini atau atau celana ketat sangat pendek. Tetapi kalau hal ini dirasa oleh umat Islam tidak sesuai dengan Syari’at Islam, ya memang tidak sesuai syariat. Maka penyelesaiannya sederhana saja, mereka yang berjilbab tidak sesuai dengan Syari’at Islam dianggap saja sebagai bukan muslimah dan tidak beriman atau bahkan kafir. Mudah kan?  Karena mode ber-jilboobs juga bagian dari selera dan hak individu yang bersangkutan, layaknya mode berpakaian mini, sedikit terbuka atau mode pakaian yang lain.
Mengenai mereka yang tidak ingin ber-jilboobs dan ingin berjilbab silahkan berjilbab sesuai dengan Syari’at Islam. Berikut ini sebagian gambar tentang bagaimana berjilbab menurut Syari’at Islam.
Demikianlah tulisan sederhana ini hanya sebagai ungkapan sedikit berbagi gagasan tentang dua cara berpakaian ini. Bagi anda silahkan memilih berjilbab sesuai Syariat Islam atau ber-jilboobs atau berpakaian dengan mode pakaian yang lain sesuai selera anda. Gitu aja koq repot!

Salam kritis penuh cinta.

***
Solo, Minggu, 10 Agustus 2014

Kukagumi Ayumu di Lembut Senyummu























kukagumi ayumu di lembut senyummu
namun tersirat keresahan pada tatapmu
ijinkan aku tuk membasuh kepedihanmu
hadirkan paduan kasih hapuskan sendu

biarkan masa lalu kelabu kian menghilang
jemput hari baru penuhi wangi kembang
kuingin menghiburmu nyanyikan tembang
kidung kasmaran senantiasa kita dendang

selalu ada kerinduan kita tuk saling sapa
meski hanya perjumpaan di bening maya
merajut mimpi dalam indah kata mesra
berharap  hangat asmara menjadi nyata

kadang ada gamang menyelimuti asa ini
menyadari paduan kita terpisah jarak diri
tetapi kita senantiasa yakin telah satu hati
menyatu di peraduan cinta suatu saat nanti

***
Solo, Sabtu, 9 Agustus 2014. 08:38 am
‘salam hangat penuh cinta’
Suko Waspodo

Breaking News: Prabowo Menarik Gugatannya

Baru saja  muncul kabar mengejutkan pada Breaking News di salah satu stasiun TV swasta. Diberitakan bahwa Prabowo Subianto akan mengendurkan permintaannya dan bahkan kemungkinan besar menarik gugatannya ke MK terkait kekalahannya di pilpres baru-baru ini.

Menurut sumber yang layak dipercaya, hal ini terjadi karena Prabowo lebih memikirkan keselamatan Palomo. Dikabarkan bahwa dia baru saja menerima sepucuk surat kaleng yang mengatakan bahwa Palomo akan diculik.

Seperti kita ketahui, Prabowo Subianto selama ini dikenal sebagai pecinta kuda. Beberapa kali ia mempertontonkan diri menunggang kuda di depan publik. Palomo adalah nama kuda putih kesayangan Prabowo. Kuda dengan tinggi kurang lebih 160-an cm berasal dari Argentina ini, menurut informasi harganya sekitar 3 miliar rupiah.

Demikian sekilas info.

Salam canda penuh cinta.

***
Solo, Sabtu, 9 Agustus 2014
Suko Waspodo

Rapopo vs Ratrimo















kamu katakan aku keturunan Tionghoa
kamu katakan aku bukan muslim
kamu katakan aku PKI
aku rapopo

aku memang tidak pandai berpidato
aku memang hanya tukang mebel
aku memang politisi baru
aku rapopo

kamu pernah menculik para aktifis 1998
kamu pernah merencanakan kudeta
banyak saksi mengatakannya
kamu ratrimo

kamu sangat licik saat kampanye pilpres
kamu curang saat pelaksanaan pilpres
kamu nyata kalah dalam pilpres
kamu ratrimo

kamu tetap ngotot menuntut menang
aku tenang sebagai pemenang
kamu ratrimo
aku rapopo

Catatan:
rapopo = tidak ada masalah, no problem
ratrimo = tidak ada kompromi, no compromise

***
Solo, Sabtu, 9 Agustus 2014. 06:49 am
‘salam kritis penuh cinta’
Suko Waspodo