Welcome...Selamat Datang...

Padi organik petani hasil pendampingan kami

Padi Rojolele organik

Lokomotif tua di kota kecil Cepu, Blora

Lokomotif tua yang sekarang kadang-kadang digunakan untuk kereta wisata di lingkunagn perhutani Cepu-Blora.

SATE BUNTEL KHAS SOLO

Lezat dan bikin kita ketagihan.

Jajanan khas Jawa

Jajanan khas Jawa ini sekarang sering disajikan dalam acara formal maupun informal. Lengkap, rasanya bervariasi dan sehat.

Para peserta LDK di Tawangmangu

Latihan Dasar Kepemimpinan diikuti oleh sekitar 30 mahasiswa Surakarta di Tawangmangu pada tahun 2011.

Di Tanah Lot Bali

Refreshing di Bali pada tahun 2010, bersama teman-teman dosen.

Rabu, 30 Oktober 2013

Kanvas Asmara Kita













kutatap mesra kanvas asmara kita
ada goresan indah yang tertunda
kini kau hadirkan lagi warna cinta
untuk ciptakan lukisan paduan asa

terucap janji tuk terus warnai hari
saling melengkapi niatan suci hati
leburkan hasrat kita satukan naluri
tak jeri meski harus sulit dihadapi

kan kugenggam erat tulus cintamu
lalui hari indah selalu bersamamu
inginku senantiasa bahagiakanmu
lupakan masa lalu kita yang semu

tak ingin lagi kanvas sepi tiada arti
mesti kita warnai dengan tulus hati
goreskan keindahan gairah nurani
tercipta mosaik cinta kita nan abadi

***
Solo,  Rabu, 30 Oktober 2013. 10:45 am
'salam hangat penuh cinta'
Suko Waspodo
pepnews
Ilustrasi: arxangelo.info


Selasa, 22 Oktober 2013

Antara















ada desir kagum hangat mengalir
manakala kita saling menyapa mesra
jumpa pertama di dunia maya terukir
pendarkan aura cinta antara kita

dirimu dan diriku diantara rentang ruang
menggapai celah kita tuk meraih asa
bergandeng tangan kita dalam bayang
meniti ketulusan seberang jurang beda

kian mekar putik asmara dua hati
terbasahi embun gairah bening lembut
kumbang dan kembang memadu janji
suatu saat nanti rindu bersambut

tapi kasih masih terbesit rasa takut
saat rasa mulai lekat berpaut
dan hati saling mendekap pagut
bukankah masih terlalu pagi untuk menyebut

aku menerka juga menyeka setiap tanya
apa siapa kamu disana
aku mengeja setiap harinya
tapi entahlah aku belum mampu memaknai rasa

sebenarnya aku ingin
datang atau melompat kesana
sebelum titik mengakhiri tanda tanya

tentang ruang yang terbentang
mungkin kau menyebutnya jurang
tapi aku menyebutnya keindahan
tempat kita berdua menyimpan kerinduan

***
Solo_Surabaya, Selasa, 22 Oktober 2013
'salam hangat penuh cinta'
Suko Waspodo & Julie Chou
pepnews
ilustrasi: weheartit.com



Senin, 21 Oktober 2013

Jokowi bukan Pemimpin yang Istimewa


Faktanya memang begitu.  Perilaku kepemimpinan Jokowi sebagai pemimpin masyarakat yang dipilih rakyat memang tidak istimewa. Semua yang dijalankan olehnya selama ini biasa saja. Pemimpin masyarakat memang harus sepenuhnya melayani rakyat, memberi teladan, mengantisipasi permasalahan, tertib, disiplin, jujur, penuh pengorbanan dan berbelarasa. Berbelarasa artinya terlibat dalam suka dan duka rakyatnya. Mengabdi kepada rakyat yang telah memilihnya sebagai pemimpin.

Jokowi dalam memimpin warganya memenuhi semua kriteria sebagai pemimpin masyarakat yang dipilih oleh rakyat itu. Jadi memang sudah menjadi konsekwensinya telah bersedia sebagai pemimpin masyarakat menjalankan semua kewajibannya. Maka tidak ada yang istimewa.

Yang istimewa justru ada pada perilaku hampir semua pejabat negeri ini. Mereka tidak menjalankan fungsi kepemimpinan serta kewajiban mereka. Lebih parah lagi mereka justru berperilaku berlawanan dengan kewajibannya, korup dalam segala bidang, tidak disiplin, gila hormat dan mengabaikan rakyat. Bahkan banyak dari mereka yang dipilih oleh rakyat tetapi justru tidak pernah peduli dengan permasalahan rakyat melainkan hanya memperkaya diri sendiri. Inilah yang nampaknya menjadi hal-hal yang istimewa yang dilakukan oleh para penyelenggara negeri ini.

Keistimewaan Jokowi ada pada kepribadiannya. Dia seorang yang konsisten dalam menjalankan tugasnya. Sosok yang sederhana, penuh semangat pengabdian dan berbelarasa. Karena itulah Jokowi terlihat menonjol dan semakin dicintai rakyat. Dia hanya dibenci oleh mereka yang tidak jujur, tidak mau disiplin serta tidak mencintai rakyat kecil.

Tetaplah konsisten dengan pola kepemimpinanmu yang benar, Jokowi. Rakyat kecil senantiasa mencintaimu dan berharap banyak dengan kepribadianmu yang luarbiasa dalam melayani mereka. Merdeka!

Salam damai penuh cinta.

***
Solo, Senin, 21 Oktober 2013
Suko Waspodo

Minggu, 20 Oktober 2013

Senandung Dua Hati



















padang ilalang
padamu aku merayu
dimana jalan kau bentang
tunjukkan pada hati yang pilu

rumput bergoyang
ijinkan aku  tuk merajuk
ungkapkan rindu yang mengiang
serta setangkup mimpi ingin kupeluk

bunga indah berkembang
sudikah kau sampaikan getaran jiwaku
pada hati di seberang bayang-bayang
tawarkan cinta semanis madu

burung-burung yang bernyanyi
dendangkan smaraku nan merindu
mengalun merdu syahdu di ruang hati
bergema selalu di lubuk kalbu

duhai kupu-kupu cinta
sematkan tulus hangat rasaku
untuknya belahan jiwa  memesona 
nyatakan dua hati kami kian berpadu

hembusan sejuk sang bayu
temani aku panjatkan kuat pinta
peluk-Nya rekatkan asa kami kian satu
meniti  warna-warni pelangi cinta

***
Solo_Jember, Minggu, 20 Oktober 2013. 12:26 am
'salam hangat penuh cinta'
Suko Waspodo & Btari Ayu Larasati
pepnews
ilustrasi: paintingmotherhood

Makan Siang Bersama Jokowi

Diplomasi, membicarakan bisnis, politik atau menjelaskan suatu kebijakan dapat dilakukan dengan berbagai cara, baik secara formal maupun informal. Diplomasi politik biasanya lebih banyak dilakukan secara formal namun di era Orde Baru, presiden Soeharto sering juga menggunakan cara informal dengan mengajak tamunya di Tapos sambil melihat-lihat ternaknya. Soeharto juga biasa mengumpulkan para kepala daerah di Tapos untuk memberi pengarahan tentang kebijakan pemerintah waktu itu. Selain contoh tadi perbincangan juga bisa dilakukan sambil bermain Golf atau Tenis. Hal ini biasanya terjadi diantara kepala negara atau pimpinan perusahaan dalam jumlah terbatas. Jamuan makan juga sering digunakan untuk tujuan perbincangan penting atau penyampaian kebijakan.

Acara makan bersama terbukti merupakan cara yang sangat tepat untuk mengkomunikasikan suatu kebijakan. Apalagi antara rakyat kecil dengan pemimpin atau kepala daerahnya. Pada umumnya rakyat akan sangat merasa dihargai dalam situasi seperti ini. Kesempatan yang langka untuk bisa makan bersama dengan kepala daerahnya. Situasi seperti ini yang akhirnya mencairkan sekat antara rakyat dengan pemimpinnya sehingga komunikasi berlangsung lancar dan santai.

Joko Widodo merupakan salah satu dari sedikit pejabat negeri ini yang menggunakan diplomasi makan siang bersama ini. Sudah enam kali sejak setahun menjabat, Jokowi mengundang warga makan siang. Yang pertama, Februari 2013, warga korban banjir di Jakarta Utara. Kedua, warga Waduk Pluit dua kali dalam bulan April 2013. Makan siang bersama yang keempat dengan para pemilik bus metromini pada Agustus 2013. Kelima September 2013, makan siang bersama warga Waduk Ria Rio. Yang keenam makan siang dengan para pedagang kaki lima Blok G Tanah Abang, September yang lalu.

Efektifkah cara menjelaskan kebijakan dengan makan siang bersama? Ternyata sangat efektif. Hampir semuanya berhasil dijelaskan oleh gubernur Jokowi. Misalnya, warga di Waduk Pluit dan Waduk Ria Rio. Pertama, mereka menolak kebijakan pemerintah untuk memindahkan tempat tinggal mereka tetapi setelah diberi penjelasan bahwa di tempat yang baru hidup mereka akan lebih baik, diberi gratis TV, lemari, kulkas, akhirnya menurut evaluasi di lapangan, berhasil. Semua warga terkait bersedia dipindahkan.

Dengan diplomasi atau komunikasi dengan sarana makan siang bersama warga menunjukkan betapa cerdasnya Jokowi dalam merangkul rakyat. Pendekatan dengan prinsip nguwongke, memanusiakan, menyentuh hati rakyat dari sisi manusiawinya. Inilah salah satu strategi kepemimpinan Jokowi yang membuat tingkat kepuasan publik begitu tinggi dalam satu tahun dia memimpin DKI Jakarta.

Alangkah indahnya kalau para pemimpin negeri ini juga mendekat ke rakyat seperti yang dilakukan oleh Jokowi. Semoga ulasan lewat tulisan ini bisa semakin membuka mata hati kita tentang pentingnya saling menghargai, khususnya antara pemimpin dengan rakyatnya. Merdeka !

Salam damai penuh cinta.

***
Solo, Minggu, 20 Oktober 2013
Suko Waspodo

Sabtu, 19 Oktober 2013

Politisi Busuk













mulutnya bau bangkai
mengumbar komentar ngawur

asal njeplak tak pakai otak
sok paling benar tanpa dasar
kejar ambisi demi korupsi
tingkah polah selalu serakah
maling teriak maling

rela menjilat  demi  jadi pejabat
menindas rakyat kian kesrakat
dahi mengkilat perilaku bejat
mengumbar kepuasan syahwat

demi nafsu tak kenal malu
tak jemu harta terus diburu
kepalsuan tuk raih tahta semu
pelihara wanita untuk dimadu

lawan politik dihancurkan licik
tak perlu berlaku dengan etik
apalagi sopan santun simpatik
meski  sadar diri pejabat publik

politisi busuk selalu mabuk
penuhi hidup dengan kemaruk
rakyat kecil kian terpuruk
derita hidup terasa menusuk

***
Solo, Sabtu, 19 Oktober 2013. 10:22 pm
'salam kritis penuh cinta'
Suko Waspodo
pepnews
ilustrasi: himakom.fisip-untirta.ac.id


Jokowi Penyebab Kebakaran 1000 Rumah

Menarik, pernyataan  Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR Nurhayati Ali Assegaf  yang menilai, belum ada keberhasilan yang dicapai oleh Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo alias Jokowi dalam membenahi ibukota. Dia bahkan menyinggung terjadinya kebakaran sekitar 1.000 rumah di wilayah Kelapa Gading menjelang satu tahun kepemimpinan Jokowi dan wakilnya Basuki Tjahaja Purnama. Menurut dia kebakaran tersebut sebagai bentuk keteledoran pengelola kota ini, demikian seperti diberitakan oleh Kompas.com, Sabtu 19 Oktober 2013.

Pernyataan Nurhayati ini sungguh mengada-ada dan tidak pantas diucapkan oleh wakil rakyat. Tapi mungkin demi kepentingan partainya yang terpuruk sehingga dia jadi asal bunyi. Sungguh tidak masuk akal kalau setiap musibah yang terjadi di Jakarta lalu ditimpakan pada gubernurnya. Bencana kebakaran yang terjadi masa kepemimpinan gubernur sebelumnya lalu dibandingkan dengan musibah kebakaran saat ini. Kebakaran kan murni keteledoran apalagi kalau itu terjadi karena  listrik hubungan pendek di rumah penduduk, apakah lalu yang disalahkan gubernurnya?  Kalau Nurhayati menuduh semua itu karena keteledoran  pengelola DKI Jakarta alias gubernurnya, tolong tunjukkan dimana kesalahan itu terjadi jangan asal berkomentar.

Menilai keberhasilan Jokowi  sebagai  tak lepas dari kepemimpinan sebelumnya, tentu saja memang begitu.  Demikian pula carut marutnya ibukota ini juga pasti tak lepas ddari pemimpin sebelumnya. Tidak perlu wakil rakyat yang ngomong, siapapun bisa mengatakan seperti itu. Pernyataan yang tidak penting. Lagi pula Jokowi juga tidak merayakan setahun pemerintahannya. Dia tidak pernah menyombongkan diri. Survei yang ada tentang keberhasilan itu juga bukan atas permintaannya.

Tulisan ini bukan bermaksud membela Jokowi seolah tidak boleh disalahkan tetapi secara umum mohon para pejabat ini apalagi sebagai wakil rakyat untuk tidak asal berkomentar. Komentar yang emosional tanpa landasan bukti yang kuat hanya menunjukkan betapa tidak pantasnya dia sebagai wakil rakyat. Pantasnya memang hanya sebagai wakil  mulut partai yang sedang tenggelam.

Tulisan ini hanya ingin meletakkan cara pandang  yang proporsional dalam menilai keberhasilan maupun kegagalan. Selamat melanjutkan tugas pak Jokowi dan pak Ahok. Teruskan pengabdian anda yang tulus untuk rakyat. Abaikan saja mereka yang asal ngomong tanpa landasan yang nyata. Maju terus pantang mundur. Merdeka!

Salam damai penuh cinta.
***
Solo, Sabtu, 19 Oktober 2013
Suko Waspodo