Welcome...Selamat Datang...

Padi organik petani hasil pendampingan kami

Padi Rojolele organik

Lokomotif tua di kota kecil Cepu, Blora

Lokomotif tua yang sekarang kadang-kadang digunakan untuk kereta wisata di lingkunagn perhutani Cepu-Blora.

SATE BUNTEL KHAS SOLO

Lezat dan bikin kita ketagihan.

Jajanan khas Jawa

Jajanan khas Jawa ini sekarang sering disajikan dalam acara formal maupun informal. Lengkap, rasanya bervariasi dan sehat.

Para peserta LDK di Tawangmangu

Latihan Dasar Kepemimpinan diikuti oleh sekitar 30 mahasiswa Surakarta di Tawangmangu pada tahun 2011.

Di Tanah Lot Bali

Refreshing di Bali pada tahun 2010, bersama teman-teman dosen.

Selasa, 16 Oktober 2018

Demi Rakyat



















kembali kita nikmati riuh pesta demokrasi
untuk melanjutkan kisah negeri tercinta ini
panggung bergengsi para politisi unjuk diri
asal bukan sekadar ajang tuk kuasa ambisi

kepulauan indah loh jinawi gemah ripah
bukan sarana untuk umbar nafsu serakah
jika kita hanya ingin senantiasa menjarah
bersiaplah kan terjadi pertumpahan darah

bila ingin berperan menjadi wakil rakyat
tiada tempat tuk membentuk koalisi bejat
tiada perlu tuk kuat berdebat penuh sesat
masyarakat tak butuh segala tipu muslihat

kita memerlukan pemimpin yang terpuji
yang mengerti kebutuhan eloknya negeri
menjaga keberagaman anugerah indah ini
dengan penuh semangat dan setulus hati

saling beradu prestasi adalah keniscayaan
menebar nyinyir fitnah adalah kebodohan
siapkan kemampuan untuk mencerdaskan
kesejahteraan untuk semua adalah tujuan

demi rakyat segala daya upaya kita perbuat
maka kita semakin hebat dan bermartabat


***
Solo, Minggu, 23 September 2018. 8:04 am
'salam damai penuh cinta'
Suko Waspodo
antologi puisi suko
kompasiana
pepnews
ilustr: sarmatas 

Memimpikan Bidadari



















engkau hadir di mimpi dengan kereta kencana
ditarik enam ekor kuda sembrani memesona
turun dari mega putih berarak menawan
terpancar molek parasmu sangat rupawan

langkahmu laksana bidadari menari gemulai
turun dari kereta kusambut senyummu membuai
ada gamang kuberanikan diri menggandengmu
aku bukan pangeran yang pantas menyentuhmu

namun engkau sesungguhnya puteri sejati
menggenggam uluran tanganku sepenuh hati
bukan tinggi hati yang engkau perlihatkan
tetapi ketulusan yang terbalut keindahan

memasuki keindahan taman hasrat naluri
berpeluk mesra kita di peraduan mewangi
dibasuh cahaya rembulan dan kerlip bintang
serasa ke kahyangan gairah kita melayang

dalam rengkuh hangat kesyahduan asmara
engkau dan aku menyatu dalam cumbu bahagia


***
Solo, Jumat, 21 September 2018. 9:41 pm
'salam hangat penuh cinta'
Suko Waspodo
antologi puisi suko
kompasiana
pepnews
ilustr: Samarel Art 

"Tandai" Para Caleg Mantan Napi


Dengan berat hati kita harus menerima kenyataan diperbolehkannya mantan napi korupsi menjadi calon legislatif di pileg yang akan datang. Setelah melalui polemik dan perdebatan panjang dengan alasan apa pun akhirnya inilah yang harus kita hadapi.

Maka para caleg mantan napi akhirnya boleh ada di dalam daftar caleg di pemilu 2019 nanti. Sungguh memprihatinkan, di satu sisi kita harus mewujudkan negara yang bebas dari korupsi, di sisi lain para mantan koruptor dibiarkan merajalela dengan kehendaknya.

Saya bukan orang yang ahli hukum tetapi saya memahami dan menaati hukum. Saya bukan orang yang memahami politik praktis atau menjadi politisi namun saya memahami tentang tujuan politik yang pada dasarnya mulia.

Sebagai rakyat biasa saya tercengang melihat situasi ini. Bagaimana mungkin kepentingan rakyat yang lebih besar dikorbankan hanya demi kepatutan aturan hukum serta kepentingan beberapa politisi busuk.

Dalam situasi seperti ini maka selain secara terus menerus mendesak parpol untuk menarik calegnya yang mantan napi korupsi, cara lain untuk memberi tanda di kertas suara menurut saya layak diatur dalam peraturan KPU.  Namun demikian cara ini nampaknya juga akan memunculkan keberatan dari para caleg mantan napi yang merasa diperlakukan secara diskriminatif.

Meskipun demikian seharusnya pihak mana pun harus mendukung KPU yang dalam hal ini membantu pelaksanaan undang-undang yang meminta para mantan napi secara jujur dan terbuka menyampaikan kepada pemilih bahwa yang bersangkutan adalah bekas terpidana.

Terlepas dari semua alasan dan kendala yang ada kita harus jujur mengakui dan mendukung bahwa rakyat berhak untuk memiliki wakilnya yang jujur, berkualitas dan memiliki rekam jejak yang terpuji. Rakyat berhak untuk tidak dipermainkan oleh para politisi busuk.

Oleh sebab itu cara yang patut dilakukan adalah rakyat melakukan kampanye secara aktif dan massive, untuk tidak memilih para caleg mantan napi. Bukan hanya mantan napi korupsi melainkan semua mantan napi kejahatan apa pun.

Sebagai bentuk nyata pendidikan anti korupsi, kita tidak hanya harus memahami peraturan yang ada tetapi harus bergerak aktif.  Kalau tagar 2019 ganti presiden diperbolehkan, padahal  menimbulkan kegaduhan dan berpotensi gerakan makar, maka kita tentu boleh dan harus membuat gerakan "Jangan Pilih Caleg Mantan Napi" dan mungkin layak dipertimbangkan juga gerakan "Jangan Dukung Partai Pendukung Caleg Mantan Napi". 

Saya yakin ini akan menjadi gerakan yang berdampak besar dan mendidik. Potensi kegaduhan mungkin dari partai yang terkena dampak gerakan ini, namun jika mereka mempersoalkan gerakan ini niscaya justru malah akan menurunkan kredibilitas mereka di mata rakyat.

Nah, jika dengan berbagai alasan dan kendala lalu kepentingan rakyat dikalahkan, maka tidak ada jalan lain rakyat yang harus bergerak nyata serentak. Kita tandai para caleg mantan napi. Kampanyekan "Jangan Pilih Caleg Mantan Napi" dan "Jangan Dukung Partai Pendukung Caleg Mantan Napi", lewat media apapun.  Kita butuh bangsa dan negara yang bermartabat, bukan para wakil rakyat atau pejabat yang bejat. Merdeka !!

***
Solo, Jumat, 21 September 2018
'salam kritis penuh cinta'
Suko Waspodo
kompasiana
antologi puisi suko
ilustrasi: TribunNews 

Senin, 15 Oktober 2018

Gerombolan Pengerat













berbaris dengan penuh semangat
gerombolan pengerat mengembat uang rakyat
menggigit sengit hingga sisakan penyakit
dan jelata menjerit atas lapar yang melilit

saat masuk perangkap tak pernah tersekap
bila kunci pintu hanya sekadar pelengkap
bahkan senantiasa tetap bergelimang nikmat
maka tak heran mereka tak takut lagi terjerat

inilah perilaku para tikus negeri ini
berkedok politikus pembela rakyat sejati
berulang kali masuk bui namun berlagak suci
minta dipilih lagi dengan alasan hak asasi

di manakah harga diri bangsa
jika para koruptor dibiarkan merajalela
mestinya hukum selalu jadi panglima
bukan disumpal mulutnya dengan haram harta
atau dikerat palunya dengan taring durjana

dalam lirih aku hanya bisa merintih
berharap rakyat kian cerdas dalam memilih


***
Solo, Kamis, 20 September 2018. 8:33 am
'salam kritis penuh cinta'
Suko Waspodo
antologi puisi suko
kompasiana
pepnews
ilustr: manadopedia 

Enggan Memeluk Benci



















kadang ada rasa gundah di hati
tatkala engkau salah memaknai
atas imajinasi tertuang dalam puisi
lalu kesalahpahaman menguasai diri

saat lamunan hadir dalam kesepian
hanya khayal mampu menghangatkan
akan kurcaci yang merindu bidadari
dalam dingin malam terantuk sunyi

jika aku hanya mampu panggil bayangmu
ijinkanlah aku mengeja deretan bait sendu
agar malam usai hujan tinggalkan kesan
atas debu kemarau yang tersingkirkan

hanya mozaik kata senantiasa menjaga
keniscayaan untuk selalu berbagi asa
karena hanya dengan syair tanpa nada
kucoba untuk sekadar mengikis duka

namun jika engkau belum juga mengerti
senantiasa kemarahanmu aku pahami
biarlah waktu yang akan kian menguji
mengapa aku enggan memeluk benci


***
Solo, Rabu, 19 September 2018. 8:37 pm
'salam hangat penuh cinta'
Suko Waspodo
antologi puisi suko
kompasiana
pepnews
ilustr: AliExpress 

Ijinkan Puisi Cintaku Berlabuh











kesepian ini terasa abadi selalu
tatkala kusadari tiada belahan jiwaku

ramah pagi mestinya terasa lembut
namun hampa serasa hasrat tiada bersambut

kemarau siang pun kian terasa kerontang
karena hanya kesendirian dalam lengang

rona senja mestinya terasa romantis
namun kesunyian nyata mengiris

malam pun berlalu tanpa arti
hanya lamunan asmara mencipta mimpi

di manakah hatimu tertambat
hingga sapaku seakan tiada memikat

tak pernah bosan aku kirimkan pesan
lewat untai indah kata ungkapan perasaan

kekaguman ini senantiasa mengusik diri
akan paras ayumu yang menawan hati

banyak kembang wangi memesona
namun hanya pesonamu yang aku damba

pasti tak sedikit kumbang ingin menyuntingmu
harapku engkau dengar tembang rinduku

andai asaku tiada mampu menyentuh
ijinkan puisi-puisi cintaku berlabuh


***
Solo, Selasa, 18 September 2018. 9:45 am
'salam hangat penuh cinta'
Suko Waspodo
antologi puisi suko
kompasiana
pepnews
ilustr: Rapid River Magazine

Pembelah Batu


Alkisah ada seorang pembelah batu yang tidak puas dengan pekerjaannya. Pada suatu hari dia melewati rumah seorang saudagar kaya. Melalui gerbang yang terbuka dia melihat banyak benda yang bagus dan tamu-tamu penting. Pembelah batu itu berpikir, "Betapa berkuasa saudagar itu." Dia menjadi sangat iri dan ingin agar dia dapat menjadi seperti saudagar itu. Dengan demikian dia tidak lagi hidup hanya sebagai seorang pembelah batu.
Setelah itu, dia begitu terkejut karena dia sudah menjadi seorang saudagar, menikmati barang-barang mewah dan kuasa lebih daripada yang pernah diimpikannya; dia malah menjadi sasaran cemburu dari orang-orang yang kurang kaya dari dia sendiri. Namun segera lewat di depannya seorang pejabat tinggi dengan mengendarai sebuah sedan, diiringi oleh para pengawal dan serdadu yang membunyikan genderang. Setiap orang, betapa pun kayanya, harus tunduk rendah ketika pejabat tinggi itu lewat. Dia berpikir, "Alangkah berkuasanya orang ini. Aku ingin agar aku pun dapat menjadi seorang pejabat tinggi."
Kemudian dia menjadi seorang pejabat tinggi, yang dihantar kemana-mana dalam kursi sedan yang berhias. Pada saat itu hari sangat panas dan dia merasa sangat tidak nyaman dalam kursi sedan yang kaku. Dia memandang ke arah matahari yang bersinar bangga di angkasa, tidak dipengaruhi oleh kehadirannya. Pikirannya, "Betapa berkuasa matahari. Aku ingin agar aku menjadi seperti matahari."
Selanjutnya dia menjadi matahari yang bersinar keras atas setiap orang. Awan topan tebal datang menutup antara dia dan bumi sehingga sinarnya tidak dapat lagi menerangi segala sesuatu yang ada di bawah. Dia berpikir, "Betapa berkuasanya awan topan ini. Aku ingin menjadi awan."
Lalu dia menjadi awan. Tetapi segera dia menyadari bahwa dia didorong oleh sesuatu yang memiliki kekuatan dahsyat; yaitu angin. Dia berpikir,"Alangkah berkuasanya angin itu. Aku ingin menjadi seperti angin."
Dia menjadi angin. Sesaat kemudian, dia bertiup melawan sesuatu yang tidak bisa bergerak, bagaimana pun besar usahanya. Itu adalah sebuah batu yang sangat besar. Dia berpikir,"Alangkah berkuasanya batu karang itu. Aku ingin untuk menjadi seperti sebuah batu karang."
Dia kemudian menjadi sebuah batu karang, lebih kuat dari apa pun yangada di bumi ini. tetapi ketika dia berada di sana, dia mendengar bunyi palu martil pada batu dan dia merasa bahwa dirinya semakin berubah. Dia berpikir, "Apa kiranya yang lebih kuat dari batu karang?" Dia melihat ke bawah dan jauh di bawah sana dilihatnya sosok seorang pembelah batu.
(Dikisahkan kembali dari buku: Stories and Parables for Preachers and Teachers)
***
Solo, Selasa, 18 September 2018
'salam damai penuh cinta'
Suko Waspodo
ilustrasi: newHDmovie