Welcome...Selamat Datang...

Padi organik petani hasil pendampingan kami

Padi Rojolele organik

Lokomotif tua di kota kecil Cepu, Blora

Lokomotif tua yang sekarang kadang-kadang digunakan untuk kereta wisata di lingkunagn perhutani Cepu-Blora.

SATE BUNTEL KHAS SOLO

Lezat dan bikin kita ketagihan.

Jajanan khas Jawa

Jajanan khas Jawa ini sekarang sering disajikan dalam acara formal maupun informal. Lengkap, rasanya bervariasi dan sehat.

Para peserta LDK di Tawangmangu

Latihan Dasar Kepemimpinan diikuti oleh sekitar 30 mahasiswa Surakarta di Tawangmangu pada tahun 2011.

Di Tanah Lot Bali

Refreshing di Bali pada tahun 2010, bersama teman-teman dosen.

Minggu, 06 Oktober 2013

Pohon Penuh Benalu

Mencermati situasi negeri ini rasanya tak hanya memalukan tapi sudah sangat mencemaskan sekaligus mengerikan. Negeri yang semakin berantakan karena dikelola oleh para koruptor serakah tanpa lagi punya nurani.

Ibarat sebuah pohon, negeri ini sudah menjadi pohon yang penuh benalu, sehingga tak tampak lagi pohon aslinya. Seluruh dahan, cabang dan rantingnya telah ditempeli benalu. Tak tampak lagi jenis pohon aslinya. Seluruh bagian telah dipenuhi tumbuhan parasit ini dan yang lebih dahsyat benalunya berwarna-warni, ada benalu hijau, biru, merah, kuning, hitam dan warna-warni lainnya. Semuanya saling berebut menghisap sari makanan pohon itu sehingga tidak mampu lagi berbuah yang bisa dinikmati.

Kekayaan dan kedaulatan negeri ini telah dijarah oleh penyelenggaranya yang super korup dengan perilaku serakahnya. Para politisi culas hijau, biru, merah, kuning, hitam dan warna-warni yang lain tanpa malu menggunakan jabatan dan pengaruhnya terus menguras uang rakyat. Segala cara dihalalkan meski mereka mengaku bertuhan. Semua peraturan perundangan dan hukum dilanggar meski mereka sejatinya penyusun undang-undang serta hukum itu dan mesti menjaga tegaknya.

Masih pantaskah menyebut diri negara, apalagi negara hukum manakala para penyelengara negaranya dengan terang-terangan melanggar hukum demi memperkaya diri. Masihkah merasa bangga sebagai negara yang agamis manakala segala cara dilakukan dengan penuh kesetanan? Pohon itu tak lagi layak sebagai pohon karena sudah tidak lagi berbuah dan kehilangan jatidiri. Hidupnya tak lagi sehat digerogoti berwarna-warni benalu.

Bagaimanakah untuk menyehatkan pohon itu kembali? Biasanya harus dengan memotong dahan, cabang atau ranting yang berbenalu. Namun masalahnya adalah hampir seluruh pohon beserta daunnya telah dijarah oleh benalu. Kemungkinan lainnya adalah dengan menebang habis pohon itu dan menanam kembali pohon baru.

Bagian manakah tatanan negeri ini yang mesti dibenahi manakala semua lini telah dijalankan dengan korup? Tak ada lagi yang layak dipercaya. Tak ada lagi keteladanan para pemimpinnya. Hampir semuanya telah menjadi penjarah negerinya sendiri. Reformasi yang diharapkan bisa mengurangi benalu yang ada, ternyata sia-sia. Haruskah pohon ini ditebang habis saja. Sungguh mengerikan kalau sampai hal itu terjadi. Benar-benar tak ada lagi harga diri negeri ini.

Kalau semua hukum yang ada sudah tak lagi dihormati maka kemungkinan negeri ini pada saatnya akan tergilas oleh hukum alam. Rakyat berhak untuk menuntut dan menentukan eksistensi negeri ini. Mereka pemilik sah negeri ini. Jika hal itu yang terjadi tak ada yang bisa dan boleh menyalahkannya. Apakah akan terjadi seperti itu? Rakyat yang bisa menjawabnya.

Salam damai penuh cinta.

***
Solo, Minggu 6 Oktober 2013
Suko Waspodo

Meniti Pelangi Cinta















sapamu kembali hadir merdu awali hari
menyejukkan kemarau rasaku kala dini
hapuskan semua  yang merisaukan hati
tembang cinta lembut sendu menghiasi

simponi kedamaian merasuki kerinduan
alunan nada asmara semaikan keindahan
membasuh gundah usang kian tersucikan
kemilau cahaya niscaya pendar ketulusan

sepoi irama alam membelai rindu dendam
halus sentuh kalbu laksana belai manikam
berpagut hasrat kita dalam indah semayam
lupakan masa lalu singkirkan tatkala kelam

hangat kebahagiaan teriring syahdu syair
membuai gejolak naluri dalam bayu semilir
satukan perbedaan cita dalam cinta terukir
meniti indah pelangi cinta kita tanpa akhir

***
Solo, Minggu, 6 Oktober 2013, 08:45
'salam hangat penuh cinta'
Suko Waspodo
pepnews
ilustrasi: zettyzetty
 

Sabtu, 05 Oktober 2013

Berlalu dalam Sunyi












malam terasa sepi mengurung diriku
menerawang anganku pada hadirmu
namun hanya ada ruang kosong di hati
kian terasa nyeri perihku  menggayuti

haruskah hari-hari indah jadi menyiksa
karena tak ada lagi sapamu yang teduh
semenjak engkau berusaha menjauh
salahkah aku yang amat mencintaimu

mengapa harus aku miliki perasaan ini
kalau hanya akan berujung kepedihan
kehampaan kembali hempaskan jiwa
tak berdaya dalam hari-hari tanpa arti

malam serasa tak beranjak menjadi pagi
mata tak bisa terpejam menahan rindu
aku membutuhkanmu  belahan jiwaku
tak ingin hidupku berlalu dalam sunyi

***
Solo, Sabtu, 5 Oktober 2013. 12:46 pm
'salam hangat penuh cinta'
Suko Waspodo
pepnews
ilustr: fineartamerica

Jumat, 04 Oktober 2013

Suffix –ist dan Akhiran –i/wi


Beberapa hari yang lalu terjadi perdebatan yang cukup sengit di Kompasiana terkait dengan artikel saudara Sutomo Paguci yang berjudul Mana Ada Islamis Dukung Jokowi. Perdebatan terjadi terkait dengan penyebutan atau penggunaan kata islamis.

Dalam kesempatan kali ini saya tidak akan mencampuri perdebatan yang terjadi antara saudara Sutomo Paguci dengan penentangnya karena itu adalah wilayah politik dan agama yang sangat sensitif di negara ini. Saya akan membahas aspek bahasanya atau lebih tepatnya masalah penggunaan akhiran –is dalam kata islamis.

Suffix –ist

Suffix atau akhiran –ist hanya ada dalam Bahasa Inggris. Suffix –ist adalah akhiran yang ditambahkan pada noun (kata benda/nomina) tertentu untuk membentuk noun baru yang menyatakan ahli tentang yang dinyatakan oleh noun asalnya. Diserap ke dalam Bahasa Indonesia, kata benda Bahasa Inggris dengan suffix –ist itu ditulis dengan –is.
Contoh:
  • piano + -ist —> pianist —> pianis
  • cartoon + -ist —> cartoonist —> kartunis
  • column + -ist —> columnist —> kolumnis
  • commune + -ist —> communist —> komunis
  • art + -ist —> artist —> artis
  • islam + -ist —> islamist —> islamis
Akhiran –i/wi

Akhiran –i/wi adalah akhiran dalam Bahasa Indonesia yang tugasnya sebagai pembentuk kata sifat (adjektiva) dari kata benda (nomina) tertentu.
Contoh:
  • alam + -i —> alami
  • dunia + -wi —> duniawi
  • hewan + -i —> hewani
  • surga + -wi —> surgawi
  • islam + -i —> islami
Perlu diketahui bahwa dalam Bahasa Indonesia tidak ada akhiran –is melainkan hanya penulisan kata dari Bahasa Inggris yang berakhiran –ist diserap dan ditulis dengan –is seperti contoh di atas. Selain itu ada juga kata-kata dalam bahasa Indonesia yang memakai –is yang bukan akhiran tetapi merupakan terjemahan dari kata-kata sifat Bahasa Inggris yang berakhiran –al.
Contoh: 
  • logical —> logis
  • lyrical —> liris
  • magical —> magis
Demikian tulisan kecil dan sederhana ini semoga bisa sedikit membantu masalah kesalahpahaman dalam memahami penggunaan kata islamis pada artikel yang saya sebutkan di atas khususnya dan pemahaman penggunaan suffix –ist maupun akhiran –i/wi secara keseluruhan.

Salam damai penuh cinta.

***
Solo, Jumat, 4 Oktober 2013
Suko Waspodo
antologi puisi suko
kompasiana
pepnews

Pagar Makan Tanaman

kian miris hati melihat situasi negeri ini
keserakahan dipertontonkan tanpa risi
tak ada jeri pejabat melakukan korupsi
meski dari kanan kiri terus dicaci maki

rakyat telah sandarkan harap padamu
untuk menjaga tegak hukum kita selalu
namun ternyata tak punya malu dirimu
kau embat juga uang yang bukan hakmu

begitu rakusnya engkau dengan nafsumu
nyata tak sedikit uang rakyat untuk gajimu
gemerlap duniawi  butakan mata hatimu
kau pelihara selalu perilaku laknat iblismu

kepada siapa lagi rakyat tumpukan harapan
manakala penjaga hukum telah lupa daratan
jangan salahkan kalau rakyat turun ke jalan
karena nyata pagar telah makan tanaman

***
Solo, Jumat, 4 Oktober 2013. 08:19 am
'salam kritis penuh cinta'
Suko Waspodo

Terima Kasih untuk Elex Media Komputindo dan Kompasiana


Dalam kesempatan tulisan saya kali ini perkenankanlah pertama saya meminta maaf kepada Elex Media Komputindo (EMK) dan Kompasiana karena telah membuat tulisan satire yang keras “Dahsyat! Tulisanku tentang Jokowi Dihargai 155.000 Rupiah”. Tidak ada maksud buruk saya dalam menulis artikel itu, semua hanya karena kecintaan saya kepada EMK dan Kompasiana. Saya tidak ingin EMK sebagai penerbit besar dan Kompasiana sebagai satu-satunya media warga paling terkemuka terkesan melecehkan karya intelektual. Sungguh itu semua hanya untuk menjaga nama baik EMK dan Kompasiana agar buku “Jokowi (Bukan) untuk Presiden” dapat tebit dan beredar dengan lancar tanpa ganjalan dari para penulisnya.

Selanjutnya dalam kesempatan ini pula saya menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada EMK dan Kompasiana yang telah berkenan akan meninjau kembali Surat Perjanjian Penerbitan yang termuat dalam emailnya kepada kami sebagai berikut:

Dear Kompasianer,

Dengan ini kami ingin memberitahukan kepada para penulis buku ”Jokowi (Bukan) untuk Presiden” yang telah terbit pada 16 September 2013 untuk menangguhkan (Hold) Surat Perjanjian Penerbitan (SPP) yang kami kirimkan beberapa waktu lalu.

Hal ini kami lakukan karena beberapa keluhan dari sebagian penulis yang merasa tidak nyaman dengan perjanjian tersebut terutama menyoal nominal honorarium (flat fee/bayar putus) dan durasi pengalihan hak cipta (10 tahun).

Saat ini, kami mencoba meninjau ulang SPP itu dan akan melakukan diskusi dengan pihak penerbit Elexmedia Komputindo selaku penerbit buku tersebut. Kami akan menginformasikan kepada Anda sekalian apabila ada keputusan tentang kesepakatan baru.

Terima kasih

Saya pribadi bisa menerima niat baik dari EMK serta Kompasiana dalam email tersebut dan semoga juga teman-teman kompasianer lain yang menulis di buku “Jokowi (Bukan) untuk Presiden”. Ini semua menjadi pembelajaran yang sangat berharga bagi kita bersama. Semoga kolaborasi ini menjadi langkah awal yang baik dalam kerjasama selanjutnya antara Kompasiana dengan EMK, para penulis dengan Kompasiana maupun para penulis secara pribadi dengan EMK. Mari kita jaga kebersamaan yang baik yang selama ini telah kita jalin dengan Kompasiana dan selanjutnya juga kerjasama yang terus kita langsungkan dengan Elex Media Komputindo.

Akhirnya, sekali lagi terima kasih untuk Elex Media Komputindo dan Kompasiana atas kerjasamanya dalam penerbitan buku “Jokowi (Bukan) untuk Presiden”, semoga menjadi buku yang Best Seller.

Salam damai penuh cinta

Foto: dok. pribadi.

***
Solo, Kamis, 3 Oktober 2013
Suko Waspodo

Kamis, 03 Oktober 2013

Jumpa Kedua
















kusibak kemilau rikma indahmu bergetar hatiku
ada kelembutan terpancar pada wajah teduhmu
jumpa kedua kita semakin kuatkan kerinduan asa
gairah memenuhi dekap erat hangatkan cinta kita

kukecup keningmu lembut kurasakan debar kalbu
ketulusanmu mengalir  yakinkan kita mesti berpadu
meski sadari kebersamaan ini memang tak mudah
namun kebahagiaan kita pasti bukan hal yang salah

kukulum hangat bibir ranum indah merekah basah
tak ingin saat kita berlalu sepi tanpa cumbuan mesra
hapus segala nyeri kepedihan yang pernah singgah
nikmati padu raga dalam belaian penuh gejolak rasa

kupeluk asmaramu dalam ungkap gairah tak bertepi
kerinduan kita tertumpah dalam dekap kuat naluri
saling merengkuh kehendak tuk kian rekatkan cinta
perpaduan rindu kita tak hanya sesaat jumpa kedua

***
Solo, Kamis, 3 Oktober 2013, 09:40
'salam hangat penuh cinta'
Suko Waspodo
pepnews
ilustrasi: ArtPics On Fb