Welcome...Selamat Datang...

Padi organik petani hasil pendampingan kami

Padi Rojolele organik

Lokomotif tua di kota kecil Cepu, Blora

Lokomotif tua yang sekarang kadang-kadang digunakan untuk kereta wisata di lingkunagn perhutani Cepu-Blora.

SATE BUNTEL KHAS SOLO

Lezat dan bikin kita ketagihan.

Jajanan khas Jawa

Jajanan khas Jawa ini sekarang sering disajikan dalam acara formal maupun informal. Lengkap, rasanya bervariasi dan sehat.

Para peserta LDK di Tawangmangu

Latihan Dasar Kepemimpinan diikuti oleh sekitar 30 mahasiswa Surakarta di Tawangmangu pada tahun 2011.

Di Tanah Lot Bali

Refreshing di Bali pada tahun 2010, bersama teman-teman dosen.

Jumat, 25 Juli 2014

Amarah Alam



















dingin membalut malam-malam kita
seakan menuai hutan-hutan yang bisu
sepoi angin membelai wajah purnama  
tak mampu menghapus gundah kian kelu

musim tak lagi bisa dikelabui
dengan bait-bait indah puisi
kalau ingin semaunya berganti
siapapun tak akan mampu menghalangi

dan kita juga yang jadi penyebabnya
merusak semesta dengan beringas
menghalau rimbun rimba raya
tinggal sisakan alam merana meranggas

memperdaya bumi bagai milik pribadi
menguras habis isinya tanpa  kompromi
tak adakah terbersit dalam sudut hati
alam adalah sahabat sejati yang abadi

bumi kian panas menghebat tak terkira
seolah ingin hanguskan kita yang kejam
kita yang kian tamak oleh angkara murka
serakah tak pernah berhenti menjarah alam

jangan salahkan musim
jangan salahkan dingin menggigil
atau panas yang kian menyengat
karena alam telah menjadi korban

nyata kesombongan kita
telah merenggut harmoni semesta
membuat porak poranda persada
yang semakin lemah renta

***
Solo_Kudus, Kamis, 17 Juli 2014
‘salam hangat penuh cinta’
Suko Waspodo & Dinda Pertiwi

Jumat, 18 Juli 2014

Koalisi ‘Takut’ Permanen

Koalisi adalah persekutuan, gabungan atau aliansi beberapa unsur, dimana dalam kerjasamanya, masing-masing memiliki kepentingan sendiri-sendiri. Aliansi seperti ini mungkin bersifat sementara atau berasas manfaat. Dalam pemerintahan dengan sistem parlementer, sebuah pemerintahan koalisi adalah sebuah pemerintahan yang tersusun dari koalisi beberapa partai sedangkan oposisi koalisi adalah sebuah oposisi yang tersusun dari koalisi beberapa partai.

Dengan mengacu pada pengertian koalisi di atas lalu bagaimanakah sejatinya maksud pembentukan koalisi permanen oleh kubu Prabowo-Hatta? Pertama yang perlu kita cermati bahwa koalisi biasanya berlaku pada sistem pemerintahan parlementer dan kurang tepat bagi sistem presidensiil. Kedua, pembentukan koalisi permanen oleh kubu Prabowo-Hatta dibentuk sebelum ada kejelasan siapa yang akan memimpin pemerintahan. Belum jelas siapa yang akan menang menjadi presiden negeri ini. Padahal sebuah koalisi idealnya dibentuk setelah pemerintahan baru terbentuk.

Koalisi Permanen Merah Putih, demikian nama koalisi permanen kubu Prabowo-Hatta, diresmikan pada Senin, 14 Juli 2014 dan ditandatangani di hadapan para petinggi partai pengusung Prabowo-Hatta. Penanda kesepakatan untuk membangun koalisi yang lebih solid, menghadapi kemungkinan kemenangan Pilpres 2014 nanti. Satu per satu petinggi partai pendukungnya itu menyampaikan pidatonya.

Prabowo sendiri diangkat sebagai Ketua Pembina Koalisi Permanen Merah Putih. Koalisi ini beranggotakan Partai Gerindra, PAN, PKS, PPP, PBB, Partai Golkar dan Partai Demokrat. Ketujuh partai ini merupakan pengusung pasangan Prabowo-Hatta pada Pilpres 9 Juli lalu.

Mereka meyakini, melalui Koalisi Permanen Merah Putih ini pemerintahan Prabowo-Hatta nanti akan lebih efisien dan lebih solid. Yang terpenting adalah koalisi ini akan menjaga dan menjalankan amanat Pancasila dan UUD 45.

Dalam Koalisi Permanen Merah Putih ini, posisi Prabowo tetap memegang pucuk pimpinan. Sama seperti di Partai Gerindra. Dia akan menjadi Ketua Dewan Pembina Koalisi Permanen Merah Putih.

Prabowo mengatakan, pembentukan Koalisi Permanen Merah Putih untuk mengawal NKRI, Bhineka Tunggal Ika, dan menjamin adanya pemerintahan yang efisien, stabil dan bisa membawa suatu perbaikan untuk bangsa dan negara.

Itulah yang terjadi di dalam tubuh kubu Prabowo-Hatta. Dengan pembentukan koalisi tersebut seolah mereka ingin menunjukkan bahwa mereka sudah yakin akan memenangi pilpres kali ini, namun sesungguhnya justru sebaliknya menyiratkan rasa ‘takut’. Ketakutan Prabowo dan Gerindra akan kehilangan ‘teman politik’ nya dalam pilpres kali ini karena mereka dikalahkan oleh pasangan Jokowi-JK.  

Perjalanan hidup Koalisi Permanen Merah Putih baru berlangsung 3 hari, ketakutan-ketakutan baru mulai terlihat pada para elite partai di dalam kubu Prabowo-Hatta. Real Count sementara hasil pilpres oleh KPU semakin menunjukkan kemenangan pada kubu Jokowi-JK dan ini membuat ‘galau’ para elit partai di Koalisi Permanen Merah Putih. Bahkan terkesan mulai ketakutan dan mereka memperhitungkan tidak akan memperoleh keuntungan di koalisi tersebut karena Prabowo-Hatta kalah. Maka mulai muncul kasak-kusuk dan perpecahan dan ada kecenderungan untuk menyeberang ke kubu pemenang Jokowi-JK.

Inilah politik, tidak mengenal kawan abadi namun hanya ada kepentingan abadi. Koalisi Permanen Merah Putih memang hanya koalisi ketakutannya Prabowo, maka kita tunggu saja apa yang akan terjadi dengan koalisi ini paska penetapan hasil pilpres pada tanggal 22 Juli 2014.

Salam damai penuh cinta.

***
Solo, Kamis, 17 Juli 2014
Suko Waspodo

Menang namun Tetap Rendah Hati

Penetapan hasil pilpres pada tanggal 22 Juli 2014 sudah semakin dekat, Real Count versi KPU, versi kawalpemilu.org maupun Timses Jokowi hampir mendekati angka sama dan relatif stabil, Jokowi-JK  pada angka 52 koma sekian persen dan Prabowo-Hatta pada 47 koma sekian persen. Angka-angka itu juga tidak jauh berbeda dari hasil Quick Count oleh 8 lembaga survei.

Suasana kemenangan sudah terasakan di kubu Jokowi-JK dan para pendukungnya bahkan jauh semenjak hitung cepat ditayangkan dan menunjukkan keunggulan pada kubu mereka. Dan suasana itu menjadi kian kental saat ini tatkala Real Count juga semakin bisa dipastikan menunjukkan pada kemenangan pasangan capres no. 2 ini.

Sebagai masyarakat yang beradab dan cerdas sudah sepantasnya kalau kita tetap rendah hati dalam memperoleh kemenangan. Tidak perlu merayakannya dengan pengerahan massa yang hanya akan menimbulkan suasana panas dan mungkin bisa berujung kekacauan. Hendaknya kita merayakannya dengan sujud syukur bahwa kita telah boleh melaksanakan proses demokrasi dan mendapatkan seorang pemimpin yang kita harapkan.

Kemenangan dalam pilpres ini berarti awal dari perjuangan besar untuk membuat negeri ini menjadi semakin baik dibawah kepemimpinan presiden yang baru. Rakyat harus tetap berperan aktif dan kritis terhadap pemimpinnya.

Jokowi-JK yang akan memenangi pilpres kali ini punya tanggung jawab untuk mewujudkan apa yang mereka janjikan untuk memajukan negeri ini. Para pendukungnya juga tak bisa hanya berpangku tangan setelah merayakan kemenangan. Bersama rakyat, mereka harus memberi sumbang-saran terhadap pemimpin yang telah mereka pilih dan lebih penting lagi senantiasa mengkritisi kebijakanya agar tidak menyimpang dari amanat rakyat.

Kekalahan pada kubu Prabowo-Hatta tidak harus disikapi dengan amarah dan kemudian membuat kekacauan. Kecewa tentu saja merupakan hal yang wajar namun perjuangan menata negeri ini tidak hanya bisa dilakukan dengan berperan di dalam pemerintahan, berjuang sebagai kubu oposisi melalui koalisi permanen juga merupakan tindakan yang mulia dan bermanfaat bagi bangsa dan negara.

Oleh sebab itu, marilah masing-masing kubu bersatu kembali dan selanjutnya memposisikan diri pada peran masing-masing dalam melanjutkan pembangunan negeri ini. Negeri ini membutuhkan suasana yang kondusif penuh kebersamaan. Suasana dimana masyarakat semakin sadar politik dan berperan serta aktif  dalam memperbaiki nasib rakyat.

Selamat menyambut presiden yang baru untuk menuju Indonesia hebat.

Salam damai penuh cinta.

***
Solo, Kamis, 17 Juli 2014
Suko Waspodo

Sesaat Jumpa Satukan Cinta



















kau terbang menjumpaiku penuh rindu
dalam indah hari bersenandung syahdu
kusambut hadirmu penuh kehangatan
berpadu rasa dalam gairah kebersamaan

nyata sudah kita saling sapa penuh asa
tak lagi ada jarak memisahkan raga kita
hasrat sua terwujud dalam padu dekapan
saling berpagut nikmati kangen kemesraan

dingin malam tak lagi terasa menyiksa
asmara kita hadirkan gairah membara
sepoi angin ratri jadi saksi padunya hati
tak ingin lagi lewati waktu dalam sepi

belaian lembut ungkapan rasa sayang
luluhkan ragu yang pernah terbayang
cinta sejati semakin merona bersemi
menyatu dalam janji saling menyayangi

indah malam segera beranjak menjadi pagi
meski gejolak rasa tak ingin tinggalkan diri

saat perjumpaan kita begitu cepat berlalu
namun hati kita telah terpatri menjadi satu

***
Solo, Rabu, 16 Juli 2014. 11:32 pm
‘salam hangat penuh cinta’
Suko Waspodo

'Waton Suloyo'

Waton suloyo adalah ungkapan bahasa Jawa. Waton artinya asal-asalan atau seenaknya sendiri sedangkan suloyo artinya bertikai atau perang. Ungkapan bahasa Jawa ini mendadak hadir dalam pikiran saya setelah tulisan saya di Kompasiana bertajuk ‘Prabowo dan TV One Memang Beda’ dikomentari oleh seorang kompasianer remaja Aryananda Ranggabuana.

Arya mencermati tentang makna kata atau ungkapan ‘beda’ yang sebenarnya punya makna positif tetapi menjadi bermakna negatif dalam kasus perilaku Prabowo dan TV One. Saya sangat setuju dengan komentar Arya dan dalam tulisan ini saya akan sedikit berbagi pemahaman tentang makna positif dan negatif dari ‘beda’ tersebut.

Sesungguhnya ‘beda’ memang bermakna positif. Tuhan menciptakan setiap manusia, hewan, tumbuhan dan bahkan benda mati pun tak ada yang sama alias ‘beda’. Dari sekian banyak manusia ciptaan-Nya tak ada satupun yang sama persis, bahkan meskipun  dua manusia yang terlahir kembar sekalipun. Demikian juga dengan ciptaan Tuhan yang lain, tak ada sepasang pun yang persis sama. ‘Beda’ adalah sebuah keniscayaan.

Dalam karya cipta dan perilaku manusia, ‘beda’ juga bermakna positif. Manusia yang mampu membuat karya cipta yang beda atau lain daripada yang lain pasti manusia yang kreatif. Berani melawan arus juga bermakna beda yang positif. Dalam situasi saat ini kita bisa mengambil contoh pada pribadi Jokowi. Pada situasi para pejabat negeri ini yang pongah, serakah dan sombong dia berani ‘beda’ dengan menjadi sosok pemimpin yang rendah hati, jujur dan merakyat.

Lalu bagaimana dengan makna ‘beda’ yang negatif? ‘Beda’ yang negatif artinya waton suloyo, seenaknya sendiri, mau menang sendiri dan cenderung mengajak bertikai. Contohnya adalah apa yang terjadi dengan perilaku TV One dan Prabowo Subianto seperti yang saya tuliskan dalam artikel saya terdahulu yang saya sebutkan di atas.

Kita memang boleh ‘beda’ dan bahkan itu suatu keniscayaan namun tentu tidak boleh kemudian seenaknya sendiri yang cenderung menimbulkan pertikaian atau merugikan pihak lain.  Tatanan kehidupan manusia menjadi amburadul dan terjadi peperangan disana-sini juga akibat dari manusia yang waton suloyo serta memaksakan kehendak.

Demikianlah sedikit sharing saya tentang makna ‘beda’. Semoga dapat semakin memperkaya wawasan kita.

Salam damai penuh cinta.

***
Solo, Sabtu, 12 Juli 2014
Suko Waspodo

Prabowo dan TV One ‘Memang Beda’

Prabowo Subianto dan TV One mempunyai perilaku yang sama dalam pilpres kali ini. Sama-sama bersemboyan dan berprinsip ‘Memang Beda’.

Semenjak Prabowo resmi mencapreskan diri berpasangan dengan Hatta Rajasa dan Partai Golkar, khususnya Abu Rizal Bakrie, resmi juga masuk dalam koalisi pendukung Prabowo-Hatta, maka TV One yang merupakan  stasiun televisi milik Abu Rizal Bakrie sangat gencar memberitakan aktifitas Prabowo. Mulai sebelum resmi masa kampanye dan semakin massive saat kampanye bahkan hingga saat usai pilpres seperti saat ini.

Sesuai dengan semboyannya ‘Memang Beda’, pemberitaan tentang Prabowo dan koalisinya selalu positif dan nyaris tanpa bad news. Sementara media lain sering memberitakan tentang kampanye hitam yang menimpa Jokowi, yang sangat mungkin dilakukan oleh pihak Prabowo dan koalisinya,TV One nyaris tidak pernah memberitakannya. Namun apabila ada sedikit perilaku yang kadang nyeleneh dari Jokowi dalam keseharian maupun dalam kampanye serta acara debat, meskipun itu bukan suatu hal yang buruk dan merugikan orang lain, pemberitaan dan pembahasannya oleh TV One selalu gencar dan menjelekkan Jokowi. TV One ‘Memang Beda’ karena mengabaikan kejujuran.

Saat penayangan hasil Quick Count pun, sejak tengah hari Rabu, 9 Juli 2014 hingga saat ini, TV One memang beda. Hampir semua stasiun televisi memberitakan dan menayangkan hasil Quick Count yang menunjukkan kemenangan pada Joko Widodo-Jusuf Kalla tetapi TV One menayangkan hasil  Quick Count yang memenangkan Prabowo-Hatta.  Hasil Quick Count yang menunjukkan kemenangan pada Jokowi-JK ditunjukkan oleh 8 lembaga survei, yakni: Indikator Politik, Poltracking, Populi Center, Lingkaran Survei Indonesia, Litbang Kompas, Radio Republik Indonesia, Saiful Mujani Research and Consulting, dan Cyrus yang bekerja sama dengan Center for Strategic and International Studies. Sementara itu 4 lembaga survei, Puskaptis, Indonesia Research Center, Lembaga Survei Nasional, dan Jaringan Suara Indonesia  menyatakan hasil Quick Count-nya pada kemenangan Prabowo-Hatta. Padahal disinyalir 4 lembaga survei terakhir ini melakukan pembohongan pada hasil Quick-Count-nya.

Prabowo seperti TV One, juga ‘Memang Beda’. Sikap bedanya itu seolah terinspirasi dari kegemarannya memelihara kuda. Kuda di dalam penggunaannya sering dikenakan ‘kacamata kuda’ dan perilaku politik Prabowo juga seolah seperti kuda yang diberi kacamata. Tanpa peduli kanan-kiri tentang apapun.

Sejak berkecimpung dalam politik Prabowo seolah mengabaikan masa lalunya yang besar kemungkinan melakukan pelanggaran HAM, terutama menyangkut penculikan mahasiswa dan para aktifis pada tahun 1998. Dalam memilih koalisi partai pendukungnya dalam pilpres kali ini juga tak peduli dengan rekam jejaknya. Hampir semua pengurus partai koalisinya memiliki latar belakang yang buruk. Mulai dari kasus korupsi, manipulasi dan persoalan kemanusiaan lumpur Lapindo.  Sebagian ormas pendukungnya juga sering terlibat dalam kekerasan bernuansa SARA.

Prabowo nekat mendeklarasikan diri sebagai pemenang dalam pilpres kali ini meskipun hanya berdasar dari hasil Quick Count 4 lembaga survei yang diragukan kejujuran dan kredibilitasnya. Itulah sikap beda Prabowo yang membuat suasana tegang pada masyarakat dalam menunggu pengumuman hasil Real Count oleh KPU pada tanggal 22 JUli 2014 nanti. Prabowo ‘Memang Beda’, seperti mengenakan ‘kacamata kuda’.

Mari kita tunggu pengumuman resmi hasil pilpres oleh KPU sambil terus mengawal keamanan hasil penghitungan suaranya. Pemilu yang tertib dan jujur merupakan salah satu bentuk kemenangan rakyat dalam berdemokrasi.

Salam damai penuh cinta.

***
Solo, Jumat, 11 Juli 2014
Suko Waspodo

Selamat Berjuang, pak Jokowi

Pada saat penulisan artikel ini, penghitungan suara pemilih yang masuk untuk pilpres 9 Juli 2014 versi Quick Count sudah mencapai lebih dari 90%, suara pemilih ke Joko Widodo-Jusuf Kalla sebanyak 52,47% dan ke Prabowo-Hatta sebanyak 47,53%. Penghitungan suara versi Quick Count selama ini setiap kali pemilu tidak pernah jauh berbeda dengan versi penghitungan manual oleh KPU, maka tidak mengherankan kalau tadi Ketua Umum PDI-P Megawati sudah berani mendeklarasikan kemenangan dan yakin bahwa pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla akan memimpin Republik Indonesia selama tahun ke depan.

Memang pengumuman siapa yang akan unggul dalam pilpres kali ini masih harus menunggu hasil penghitungan versi KPU namun kita yakin bahwa dari hasil penghitungan Quick Count sudah bisa diprediksi bahwa Jokowi-JK akan memenangi pilpres kali ini. Untuk itu ada baiknya kita melihat kembali sekilas siapa sesungguhnya Jokowi, calon presiden kita yang fenomenal ini. Tentu saja versi dari yang penulis ketahui.

Penulis mulai mengenal Joko Widodo (Jokowi) ketika kami sama-sama belajar di SMA negeri 6 Solo pada tahun 1977-1980. Dia merupakan orang muda yang cerdas karena selalu unggul dalam belajarnya namun sekaligus pribadi yang sederhana dan rendah hati. Tapi disisi lain, seingat penulis, dia bukanlah tipe orang muda yang gemar berorganisasi dan berkegiatan kesiswaan pada waktu itu. Tapi ternyata di kemudian hari pengalaman dia seusai pendidikan di SMA menempa bakat kepemimpinannya.

Selanjutnya kami  tidak ada komunikasi lagi karena kesibukan kuliah kami masing-masing yang beda Perguruan Tinggi dan beda kota serta kesibukan kami dalam karir masing-masing. Penulis mengetahui lagi perjalanan hidup dia saat dia mencalonkan diri sebagai Walikota Solo. Ternyata selama ini dia sibuk di dunia bisnis setelah menyelesaikan studinya di Fakultas Kehutanan UGM. Cukup mengejutkan bagi penulis mengetahui dia mencalonkan diri sebagai Walikota dan ternyata berbekal pengalaman dia menata bisnisnya membuat dia mampu memenangkan dirinya sebagai Walikota Solo. Tentu juga berkat dukungan masa yang cukup besar dari PDI-P  Solo di bawah kepemimpinan Rudyatmo yang selanjutnya menjadi pasangan dia sebagai wakil walikota Solo.

Selama satu setengah periode dipimpin oleh duet Jokowi-Rudy, kota Solo berkembang menjadi kota budaya, pariwisata dan vokasi  yang paling diperhitungkan di Jawa Tengah dan bahkan di Indonesia.  Kemampuan manajemen dan naluri bisnis Jokowi serta dipadu dengan penggalangan rakyat kecil oleh Rudyatmo dengan PDI-P nya membuat duet kepemimpinan ini sukses menata kota Solo.

Kota yang sempat menjadi korban amuk masa dan penjarahan pada tahun 1998 serta kepemimpinan yang amburadul di era walikota Slamet Suryanto berubah menjadi kota yang semakin tertata Berseri Tanpa Korupsi di era duet Jokowi-Rudyatmo. Yang paling fenomenal tentu penataan para pedagang kaki lima yang nyaris tanpa konflik berkat pola kepemimpinan mereka yang berpihak ke rakyat kecil. Di sisi lain pembangunan pusat-pusat bisnis , pembangunan beberapa mall dan apartemen, juga berlangsung dengan lancar.

Keberpihakan kepada rakyat kecil ditunjukkan dengan pembangunan, penataan dan revitalisasi pasar tradisional yang masih terus berlangsung hingga saat ini. Sarana hiburan dan bisnis bagi rakyat kecil juga disediakan dengan penyelenggaraan Sunday Market di komplek Stadion Manahan serta Car Free Day di sepanjang jalan Slamet Riyadi Solo di setiap minggu pagi. Penyediaan sarana biaya pengobatan dan biaya operasional sekolah juga merupakan ujud kepedulian  kepada rakyat miskin.

Even-even kelas dunia rutin diselenggarakan di kota Solo, misalnya SIEM, SIPA, Solo Batik Carnival dan juga konferensi-konferensi tingkat dunia juga beberapa kali di selenggarakan di Solo. Inilah yang menyebabkan para investor tidak segan berinvestasi di kota Solo yang pada ujungnya menciptakan banyak lapangan kerja bagi penduduknya.

Kawasan-kawasan yang semula banyak dihuni  secara liar berhasil direlokasi dengan lancar nyaris tanpa konflik. Kawasan taman kota ditata kembali dengan rapi dan semakin menghijaukan kota yang ini semua merupakan cita-cita kota Solo yang ingin menjadi City of Garden.

Berbekal keberhasilan menata kota Solo, pada tahun 2012 Jokowi melesat mencalonkan diri sebagai Gubernur  DKI Jakarta dan berhasil memenangkannya dengan duet kali ini bersama Basuki (Ahok).  Kemenangan yang cukup fenomenal karena pasangan ini bukanlah penduduk Jakarta.

Mencermati proses keberhasilan  Jokowi-Ahok memenangkan diri sebagai Gubernur dan wakil Gubernur DKI Jakarta sungguh menarik. Kita semua tahu Jakarta merupakan barometer perpolitikan nasional dan bersemayamnya para politisi praktis maka sungguh tidak mudah bagi Jokowi untuk memenangkannya.  Berbagai isu SARA dihembuskan oleh pesaingnya tapi tak menyurutkan langkahnya menuju DKI satu.

Pola kepemimpinannya yang humanis dan pluralis membuat Jokowi dicintai oleh para pendukung dan pemilihnya.  Kemenangannya menunjukkan bahwa kepemimpinan yang berpihak kepada rakyat niscaya juga dicintai oleh rakyat. Terlihat betapa antusiasnya para pendukungnya menyalurkan aspirasinya lewat dukungan yang luar biasa terhadap Jokowi. Hampir sepanjang tahun 2012 adalah tahunnya Jokowi.

Media masa cetak, elektronik, internet serta jejaring sosial hampir sepanjang tahun memberitakan Jokowi  dan hampir semuanya positif.  Pemberitaannya bahkan nyaris mengalahkan citra Presiden SBY. Citranya sebagai pemimpin yang dicintai rakyat kecil tak terbantahkan dengan bukti kemenangannya sebagai Gubernur DKI Jakarta.  Terbukti juga bahwa sudah bukan jamannya lagi isu SARA digunakan sebagai kendaraan politik. Rakyat sudah semakin cerdas memilih pemimpinnya.  Pembuktian pula bahwa kemenangan dalam pemilihan kepala daerah tidak selalu berkat dukungan partai mayoritas. Kita banyak belajar berdemokrasi dalam setiap kemenangan Jokowi , baik sebagai Walikota Solo maupun  Gubernur DKI Jakarta.

Jokowi adalah figur pemimpin yang kita butuhkan saat ini. Berpihak kepada rakyat kecil yang lemah dan tersingkir namun sekaligus berorientasi  global dalam bidang ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, petahanan dan keamanan serta lingkungan hidup. Maka sungguh tepatlah kalau rakyat kemudian berharap banyak pada Jokowi untuk tidak hanya memimpin Jakarta tetapi memimpin Indonesia sebagai presiden.

Keinginan rakyat menemukan jalannya setelah Jokowi dicapreskan oleh PDI-P pada pilpres 2014 ini. Setelah melalui kampanye yang panjang  yang cukup melelahkan dan kadang tersakiti oleh fitnah maka pada hari ini, Rabu, 9 Juli 2014 Jokowi bersama pasangannya Jusuf Kalla memenangi pilpres dan harus siap mengemban tugas sebagai presiden dan wakil presiden RI untuk kurun waktu 5 tahun ke depan.

Pada Jokowi selama ini kita mendapati sosok pribadi yang sederhana, rendah hati, humanis dan sekaligus pluralis yang pada ujungnya dicintai oleh rakyat. Maka dengan terpilihnya Jokowi sebagai presiden RI ke-7 rakyat berharap banyak terhadap perbaikan nasibnya, terutama rakyat kecil yang selama ini terabaikan.

Selamat mengemban tugas baru sebagai presiden pilihan rakyat, pak Jokowi. Selamat berjuang untuk mewujudkan Indonesia hebat yang semakin menyejahterakan rakyat. Masa depan bangsa dan negara ini tergantung pada pola kepemimpinanmu. Kami akan mengawal kepemimpinanmu dan tetap senantiasa kritis terhadap kebijakan pemerintahanmu nanti karena kami  ingin bangsa dan negara ini menjadi kian berdaulat, adil dan makmur.

Salam damai penuh cinta.

***
Solo, Rabu, 9 Juli 2014
Suko Waspodo