Koalisi adalah persekutuan,
gabungan atau aliansi beberapa unsur, dimana dalam kerjasamanya, masing-masing
memiliki kepentingan sendiri-sendiri. Aliansi seperti ini mungkin bersifat
sementara atau berasas manfaat. Dalam pemerintahan dengan sistem parlementer,
sebuah pemerintahan koalisi adalah sebuah pemerintahan yang tersusun dari
koalisi beberapa partai sedangkan oposisi koalisi adalah sebuah oposisi yang
tersusun dari koalisi beberapa partai.
Dengan mengacu pada pengertian
koalisi di atas lalu bagaimanakah sejatinya maksud pembentukan koalisi permanen
oleh kubu Prabowo-Hatta? Pertama yang perlu kita cermati bahwa koalisi biasanya
berlaku pada sistem pemerintahan parlementer dan kurang tepat bagi sistem
presidensiil. Kedua, pembentukan koalisi permanen oleh kubu Prabowo-Hatta
dibentuk sebelum ada kejelasan siapa yang akan memimpin pemerintahan. Belum
jelas siapa yang akan menang menjadi presiden negeri ini. Padahal sebuah
koalisi idealnya dibentuk setelah pemerintahan baru terbentuk.
Koalisi Permanen Merah Putih,
demikian nama koalisi permanen kubu Prabowo-Hatta, diresmikan pada Senin, 14 Juli 2014 dan
ditandatangani di hadapan para petinggi partai pengusung Prabowo-Hatta. Penanda
kesepakatan untuk membangun koalisi yang lebih solid, menghadapi kemungkinan
kemenangan Pilpres 2014 nanti. Satu per satu petinggi partai pendukungnya itu
menyampaikan pidatonya.
Prabowo sendiri diangkat sebagai
Ketua Pembina Koalisi Permanen Merah Putih. Koalisi ini beranggotakan Partai
Gerindra, PAN, PKS, PPP, PBB, Partai Golkar dan Partai Demokrat. Ketujuh partai
ini merupakan pengusung pasangan Prabowo-Hatta pada Pilpres 9 Juli lalu.
Mereka meyakini, melalui Koalisi
Permanen Merah Putih ini pemerintahan Prabowo-Hatta nanti akan lebih efisien
dan lebih solid. Yang terpenting adalah koalisi ini akan menjaga dan
menjalankan amanat Pancasila dan UUD 45.
Dalam Koalisi Permanen Merah
Putih ini, posisi Prabowo tetap memegang pucuk pimpinan. Sama seperti di Partai
Gerindra. Dia akan menjadi Ketua Dewan Pembina Koalisi Permanen Merah Putih.
Prabowo mengatakan, pembentukan
Koalisi Permanen Merah Putih untuk mengawal NKRI, Bhineka Tunggal Ika, dan
menjamin adanya pemerintahan yang efisien, stabil dan bisa membawa suatu
perbaikan untuk bangsa dan negara.
Itulah yang terjadi di dalam
tubuh kubu Prabowo-Hatta. Dengan pembentukan koalisi tersebut seolah mereka
ingin menunjukkan bahwa mereka sudah yakin akan memenangi pilpres kali ini,
namun sesungguhnya justru sebaliknya menyiratkan rasa ‘takut’. Ketakutan
Prabowo dan Gerindra akan kehilangan ‘teman politik’ nya dalam pilpres kali ini
karena mereka dikalahkan oleh pasangan Jokowi-JK.
Perjalanan hidup Koalisi Permanen
Merah Putih baru berlangsung 3 hari, ketakutan-ketakutan baru mulai terlihat
pada para elite partai di dalam kubu Prabowo-Hatta. Real Count sementara hasil pilpres oleh KPU semakin menunjukkan
kemenangan pada kubu Jokowi-JK dan ini membuat ‘galau’ para elit partai di
Koalisi Permanen Merah Putih. Bahkan terkesan mulai ketakutan dan mereka
memperhitungkan tidak akan memperoleh keuntungan di koalisi tersebut karena
Prabowo-Hatta kalah. Maka mulai muncul kasak-kusuk dan perpecahan dan ada
kecenderungan untuk menyeberang ke kubu pemenang Jokowi-JK.
Inilah politik, tidak mengenal
kawan abadi namun hanya ada kepentingan abadi. Koalisi Permanen Merah Putih
memang hanya koalisi ketakutannya Prabowo, maka kita tunggu saja apa yang akan
terjadi dengan koalisi ini paska penetapan hasil pilpres pada tanggal 22 Juli
2014.
Salam damai penuh cinta.
***
Solo, Kamis, 17 Juli 2014
Suko Waspodo
0 comments:
Posting Komentar