Welcome...Selamat Datang...

Padi organik petani hasil pendampingan kami

Padi Rojolele organik

Lokomotif tua di kota kecil Cepu, Blora

Lokomotif tua yang sekarang kadang-kadang digunakan untuk kereta wisata di lingkunagn perhutani Cepu-Blora.

SATE BUNTEL KHAS SOLO

Lezat dan bikin kita ketagihan.

Jajanan khas Jawa

Jajanan khas Jawa ini sekarang sering disajikan dalam acara formal maupun informal. Lengkap, rasanya bervariasi dan sehat.

Para peserta LDK di Tawangmangu

Latihan Dasar Kepemimpinan diikuti oleh sekitar 30 mahasiswa Surakarta di Tawangmangu pada tahun 2011.

Di Tanah Lot Bali

Refreshing di Bali pada tahun 2010, bersama teman-teman dosen.

Kamis, 07 Agustus 2014

Kemenkominfo Nyaris Tanpa Prestasi

Hari ini, Senin, 4 Agustus 2014, Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Tifatul Sembiring , di hadapan jajarannya  dalam acara Halal bi Halal, memohon maaf pada pejabat dan karyawan di lingkungan kementeriannya menjelang purnatugasnya sebagai menteri.

"Saya pribadi memohon maaf yang sebesar-besarnya jika selama hampir lima tahun di kominfo ada kebijakan-kebijakan yang kurang berkenan terkait dengan keputusan-keputusan selama saya menjadi menteri,"  kata Tifatul 

Ia mengatakan pada akhir masa jabatannya, apabila ada prestasi yang layak selama dirinya di Kemenkominfo maka itu merupakan prestasi seluruh karyawan Kemenkominfo. Tifatul menegaskan tidak akan mengklaim kesuksesan apapun di bidang kominfo sebagai prestasi bagi pribadinya selama bertugas sebagai Menkominfo.

Pernyataanya sungguh ironis dan memalukan karena kenyataannya tidak ada prestasi yang sangat  berarti di kementeriannya.  Paling yang dia banggakan adalah pemblokiran situs-situs porno, meskipun kenyataannya juga tidak mungkin bisa tuntas. Sedangkan hal-hal lain yang menyangkut penertiban situs-situs berita maupun blog-blog yang berisi pemutarbalikan fakta, fitnah dan hasutan yang membahayakan NKRI  hampir tak pernah dia sentuh.

Ketika rakyat negeri ini tengah terus belajar untuk berdemokrasi yang semakin baik dan didukung oleh teknologi informasi yang kian canggih, kementeriannya justru terus mengadakan pembiaran terhadap perilaku kotor cyber crime, khususnya di kancah politik. Kita semua tahu saat kampanye pileg yang lalu hingga pasca pilpres saat ini perilaku kotor para pengguna situs abal-abal sangat massive. Hampir tidak ada penertiban sama sekali.

Yang paling aktual tentu adalah tujuh portal berita yang memalsukan nama media nasional ternama di Indonesia. Tujuh portal mirip blog yang  memakai nama mirip dengan media berita liputan6.com, detik.com, tempo.co, antaranews.com, tribunnews.com, inilah.com dan kompas.com. Kalau jejaring sosial media tidak berteriak-teriak tentang kasus ini mungkin Tifatul tidak akan tahu atau sengaja pura-pura tidak tahu. Padahal  pemutarbalikan fakta oleh tujuh portal tersebut sungguh berbahaya dan memalukan masyarakat pers Indonesia.

Sungguh Kemenkominfo di bawah kepemimpinan Tifatul Sembiring sangat minim prestasi atau bahkan nyaris tidak memiliki prestasi yang berarti. Padahal seharusnya bisa menjadi ujung tombak pencerdasan bangsa melalui optimalisasi pembangunan dan penataan di bidang IT. Tapi inilah faktanya, 5 tahun tanpa ada manfaat yang bisa kita nikmati dari kementerian ini. Malahan justru cyber crime yang kian merajalela.

Salam kritis penuh cinta.

***
Solo, Senin, 4 Agustus 2014
Suko Waspodo

Senin, 04 Agustus 2014

Kumbang Rindu Wangi Kembang













engkau hadir dalam mimpiku semalam
membawa harum cinta yang lama diam
seakan nyata dirimu di peraduan jingga
berpagut kita nikmati keindahan asmara

tersentak sadarku engkau tiada nyata
diriku terhempas dalam jurang kecewa
meratapi diri selama ini terlalu cinta diri
seolah mampu menjalani hariku sendiri

maafkan khilafku telah abaikan tulusmu
kuikuti angkuhku menuruti rindu bisu
nyata tanpamu hidup terasa tak berarti
terkurung sepi waktu serasa tak bertepi

ingin kuraih kembali asa cinta kita padu
harapku kau buka kembali pintu hatimu

sirami trubus cinta kita pernah bersemi
tumbuh cinta sejati tak sekedar mimpi

kumbang sejatinya rindu wangi kembang
pastikan hasrat menyatu tiada sumbang

***
Solo, Senin, 4 Agustus 2014. 9:17 am
‘salam hangat penuh cinta’
Suko Waspodo

Kekejaman Kita











tatkala sore itu
kupandangi langit merah
bersama pohon
kicauan burung
dan hamparan hutan
semua terasa  sangat indah
tak akan pernah kulupakan

apabila pagi hari tiba
aku menatap mentari
aku mendekati bibir sungai
aku mendengar nyanyian burung
riuh jernih mendamaikan
kurasakan dinginnya air
kumaknai  kebesaran alam

manakala  waktu mulai berganti
dan aku tumbuh dewasa
kupenuhi hariku meraih asa

ketika aku kembali
dalam hening kini
ada yang salah kurasa
alam ini tidak seperti dahulu
hijau menjadi merah
jernih menjadi keruh hitam
aliran menjadi kering kerontang
canda unggas telah tercekat bisu

alamku telah berubah
aku tidak bisa lagi mendengar kicauan
aku bahkan tidak merasakan dingin
aku hanya merasakan panas dan gersang
aku sulit tuk menghirup segar udara

alam kita telah tercampak
rusak karena ulah kita
kekejaman kita

***
Solo, Minggu, 3 Agustus 2014. 6:08 pm
‘salam hangat penuh cinta’
Suko Waspodo

Jumat, 01 Agustus 2014

Kangen Kita Rekatkan Cinta



















ada desir rindu kian menghangat
meski hanya lewat sapa mesra sesaat
sadari diri terpisah dalam jarak dan waktu
namun yakin akan ketulusan cinta kita padu

rasa kangen semakin rekatkan asmara kita
saling memeluk dalam bayang pesona
bercumbu kita dalam balutan sepi
belai hasrat peraduan imajinasi

selalu ada hadirmu dalam hatiku
mendamaikan asa kita tepiskan ragu
perpaduan rasa  kita pupuk senantiasa
kian kuatkan hasrat tuk kembali berjumpa

saatnya nanti kita nikmati nyata dekapan
dalam gejolak gairah diri terlampiaskan
naluri manusiawi tak lagi hanya mimpi
bersatu dalam indah cinta nan abadi

***
Solo, Jumat, 1 Agustus 2014. 11:12 am
‘salam hangat penuh cinta’
Suko Waspodo

Gara-gara Jokowi, ‘Wong nDeso’ Masuk Tipi

Sebagai rakyat kecil biasa seperti saya tentu hal yang sangat mustahil bisa masuk dalam pemberitaan media televisi. Seingat saya, hanya pernah masuk di acara TVRI pada sekitar tahun 1975, saat itu masih SMP, grup ansamble musik kami ikut memeriahkan acara pemilihan bintang radio dan TV.  Namun sore ini mimpi wong ndeso seperti saya untuk masuk di acara TV kesampaian, bahkan di acara Prime Time News Metro TV.

Semua ini terjadi gara-gara Jokowi. Bermula tadi pagi sampai siang, kami para alumnus angkatan pertama SMA negeri Solo tahun 1980, menghadiri acara Open House presiden terpilih Joko Widodo di Gedung Graha Saba Buana Solo. Jokowi memang teman seangkatan kami di SMA negeri 6 dan kami memang sangat akrab, maka tentu saja kami menyempatkan hadir sekalian reuni.

Antusias warga memang luar biasa, meski sehari sebelumnya, Selasa 29 Juli 2014 sudah ada acara Open House di rumah Jokowi di Sumber Solo yang dihadiri oleh banyak sekali warga Solo, namun acara pagi hingga siang tadi di Graha Saba Buana sungguh dahsyat, dihadiri lebih dari lima ribu orang. Kami berada diantara ribuan orang itu tetapi tentu saja bergerombol sesama alumnus SMA negeri 6 angkatan 1980. Pada saat itulah kami didatangi crew televisi Metro TV dan diwawancarai seputar pertemanan kami dengan Jokowi dan kesan-kesan kami serta kenangan kami bersama Jokowi saat masih SMA.

Mendapat kesempatan diwawancari oleh Metro TV tentu membanggakan. Apalagi saya yang ndeso ini membayangkan akan masuk dalam pemberitaan yang ditonton oleh banyak orang dari seluruh Indonesia dan mungkin juga di luar negeri. Selanjutnya kejadian yang menggelikan sekaligus menyenangkan terjadi pada sore harinya. Selagi santai di rumah ada beberapa teman lewat BBM dan SMS memberitahu bahwa saya terlihat di acara Prime Time News Metro TV dalam pemberitaan tentang acara Open House Jokowi.

Dasar saya yang rakyat kecil dan wong ndeso, sekali masuk di pemberitaan TV saja sudah menghebohkan.  Mungkin karena saya orang biasa yang membuat peristiwa tersebut menjadi aneh. Seandainya saya seorang artis atau public figure mungkin tidak akan terjadi kejadian heboh dikabari BBM dan SMS gara-gara masuk acara televisi. Gara-gara Jokowi, wong ndeso masuk Tipi (TV). He…he…he…

Salam hangat penuh cinta.

***
Solo, Rabu, 30 Juli 2014
Suko Waspodo

Siapa pun Bisa Menjadi Presiden

Pemilihan presiden secara langsung oleh rakyat di negeri ini sudah lewat dan penetapan pemenangnya, Joko Widodo-Jusuf Kalla, oleh KPU juga sudah dilakukan. Meski masih menyisakan tuntutan kubu Prabowo-Hatta ke MK namun bisa dipastikan bahwa Joko Widodo akan tetap memenangi pilpres dan menjadi presiden ke 7 Republik Indonesia.

Terpilihnya Jokowi menjadi presiden mengawali lembaran sejarah baru kepemimpinan negeri ini. Presiden pertama Soekarno, dari kalangan teknokrat aktifis, diangkat menjadi presiden oleh para founding father negeri ini yang merupakan pencapaian perjuangan kemerdekaan. Bung Karno menjadi presiden selama 20 tahun dan tanpa melalui pemilihan presiden kembali bahkan nyaris dia mengukuhkan diri menjadi presiden seumur hidup.

Soeharto, saat itu Pangkostrad, diangkat sebagai pengendali pemerintahan melalui Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) pada tahun 1966 yang dikeluarkan oleh presiden Soekarno, meskipun sampai saat ini catatan sejarahnya masih simpang siur kebenarannya mengenai Supersemar itu. Situasi saat itu sedang terjadi pertikaian besar-besaran di negeri ini karena ulah PKI dan para elit politik.  Soeharto menjadi presiden selama 32 tahun melalui 6 kali pemilu legislatif yang selalu dimenangi oleh Golkar (sekarang Partai Golkar) sebagai mayoritas tunggal di parlemen  dan selalu memilih Soeharto menjadi presiden kembali. Kemudian Soeharto lengser, karena gerakan reformasi pada tahun 1998, dan digantikan oleh Habibie yang sebelumnya menjabat sebagai wakil presiden.

Pada tahun 1999 dilakukan pemilu legislatif pertama di era reformasi dan selanjutnya dipilih KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur sebagai presiden. Inilah awal era presiden dari kalangan sipil dan politisi. Namun Gus Dur hanya memerintah selama 20 bulan, karena hubungannya yang tidak harmonis dengan TNI, Partai Golkar dan elit politik lainnya Gus Dur digoyang oleh parlemen dan akhirnya MPR memberhentikannya sebagai presiden dan menggantikannya dengan Megawati Sukarnoputri.

Selanjutnya negeri ini menerapkan pemilihan presiden secara langsung sejak tahun 2004 dan dimenangi oleh Susilo Bambang Yudoyono yang juga memenangi kembali pilpres 2009 dengan kendaraan politik Partai Demokrat. Tampilnya para politisi sebagai kandidat presiden kian kuat pada era ini.

Pilpres tahun 2014 ini mencatat sejarah baru, pilpres yang sebelumnya selalu diikuti lebih dari 2 pasangan capres-cawapres, kali ini hanya diikuti oleh 2 pasang. Yang paling menarik adalah munculnya tokoh pemimpin baru yang fenomenal, Joko Widodo alias Jokowi. Jokowi bukan dari kalangan politisi dan ketua partai politik meskipun dia diusung oleh PDI-P.

Tampilnya Jokowi menjadikan demokrasi di Indonesia kian marak dan berkualitas. Dia berasal dari rakyat biasa, bukan dari keluarga politisi. Sebelumnya tidak pernah menjadi aktifis partai saat dia terpilih sebagai walikota Surakarta pada tahun 2005 dan terpilih kembali pada tahun 2010. Baru menjabat sebagai walikota Surakarta selama 2 tahun pada perode kedua tahun 2012, dia kemudian terpilih sebagai gubernur DKI Jakarta. Kepemimpinannya yang senantiasa jujur, sederhana, rendah hati dan merakyat akhirnya membuat dia dicapreskan oleh rakyat melalui PDI-P dan akhirnya terpilih menjadi presiden ke 7 negeri ini.

Jokowi menjadi idola baru bagi semua kalangan, terlebih kalangan rakyat jelata. Gambaran menjadi presiden harus dari kalangan politisi terhapus sudah. Siapapun bisa menjadi presiden asalkan dicintai oleh rakyat. Dicintai oleh rakyat berarti harus punya perilaku yang jujur, rendah hati dan sederhana. 

Selamat berjuang Jokowi, tetaplah menjadi teladan bagi rakyat. Kami kawal kepemimpinanmu dengan penuh semangat.

Salam damai penuh cinta.

***
Solo, Rabu, 30 Juli 2014
Suko Waspodo

Berbagi namun Tetap Rendah Hati


Setiap tahun menjelang dan saat Idul Fitri pasti banyak orang kaya di negeri ini yang berbagi zakat fitrah kepada kaum dhuafa. Para orang kaya yang berbagi semakin banyak tetapi yang menerima zakat juga semakin banyak. Entah jumlah kaum miskin memang semakin banyak atau banyak orang yang sebenarnya tidak miskin tetapi mengaku miskin. Akibatnya acara pembagian zakat fitrah menjadi kacau karena terjadi saling berdesakan berebut pembagian dan biasanya selalu menelan korban, pingsan dan bahkan ada yang sampai meninggal dunia.

Semua ini terjadi karena cara pembagiannya yang tidak tepat. Selama ini yang terjadi adalah para orang kaya mengundang kaum dhuafa ke rumahnya, maka yang terjadi adalah saling berdesakan dan menelan korban. Cara pembagian seperti yang selama ini adalah cara pembagian yang hanya cenderung untuk pamer kekayaan dan kesombongan. Nuansa melecehkan dan merendahkan sangat kental terasa. Penerima zakat fitrah diperlakukan seolah sekumpulan pengemis.

Pembagian zakat fitrah seharusnya bisa dilakukan dengan cara mendatangi kaum miskin. Disinilah justru letak makna ibadahnya. Dengan mendatangi kaum miskin berarti kita telah bersikap rendah hati dan sekaligus bisa mengetahui bagaimana kesulitan hidup mereka serta pasti zakat fitrahnya juga tepat sasaran. Selain itu juga nuansa kekeluargaan tercipta dan bukan nuansa kesombongan. Solidaritas nyata terjalin.

Berbagi zakat fitrah bukanlah ajang untuk pamer kekayaan diri melainkan justru untuk melatih kerendahan hati. Tuhan mengajarkan ‘jika tangan kananmu memberi, tangan kirimu jangan sampai tahu’. Selamat berbagi dengan tetap rendah hati.

Salam damai penuh cinta.

***
Solo, Rabu, 30 Juli 2014
Suko Waspodo