Welcome...Selamat Datang...

Padi organik petani hasil pendampingan kami

Padi Rojolele organik

Lokomotif tua di kota kecil Cepu, Blora

Lokomotif tua yang sekarang kadang-kadang digunakan untuk kereta wisata di lingkunagn perhutani Cepu-Blora.

SATE BUNTEL KHAS SOLO

Lezat dan bikin kita ketagihan.

Jajanan khas Jawa

Jajanan khas Jawa ini sekarang sering disajikan dalam acara formal maupun informal. Lengkap, rasanya bervariasi dan sehat.

Para peserta LDK di Tawangmangu

Latihan Dasar Kepemimpinan diikuti oleh sekitar 30 mahasiswa Surakarta di Tawangmangu pada tahun 2011.

Di Tanah Lot Bali

Refreshing di Bali pada tahun 2010, bersama teman-teman dosen.

Kamis, 02 Agustus 2018

Kreativitas dalam Karya Seni Puisi


Meskipun kita dapat mengatakan bahwa gerak jiwa dan pikiran kreatif itu sama, baik dalam ilmu, pemecahan masalah, pendidikan, humor maupun dalam berbagai cabang kesenian, namun antara masing-masing pun terdapat perbedaan yang hakiki. Hal itu terlihat apabila kita menelaah tujuan, motivasi, serta seluk-beluk emosionalnya. Sekarang kita mencoba mengupas karya kreatif dalam kesenian, khususnya puisi.

Kreativitas ilmu dan teknologi bertujuan untuk mencari nilai-guna yang baru, sedangkan kreativitas kesenian bertujuan untuk mencari nilai makna. Sepotong puisi yang bermutu umumnya mempunyai maksud mengungkapkan kehidupan atau keindahan mendalam melalui media bahasa.

Apakah kata-kata atau kalimat yang dipilih oleh penyair itu lahir secara spontan saja? Tentu saja unsur pengilhaman yang spontan selalu ada. Tetapi tidak jarang si penyair harus mencurahkan daya pikirnya untuk mencari, membandingkan, mengubah-ubah susunan, atau untuk menafasi setiap kata atau bunyi yang terungkap. Seringkali dibutuhkan elaborasi atau ikhtiar untuk menyusun. Ternyata, hanya pada benak dan hati yang sudah siap, ilham akan datang.

Seorang penyair mengalami bahwa ia harus bergulat dengan banyak batasan. Gelora gagasan atau terkadang suatu penginderaan dalam batinnya harus dituangkan ke dalam suatu bentuk. Kemudian bentuk itu harus tunduk kepada suatu gaya bahasa, irama, makna yang mungkin bukan hanya satu melainkan bertingkat-tingkat, paduan antara kejelasan dan kesamaran, dan mungkin ada kutub-kutub lain yang saling bertentangan. Ini semua membawa semacam ketegangan kreatif pada diri penyair, dan jika ia berhasil, ketegangan itulah sebenarnya yang memberikan kekuatan atau dinamika pada syairnya.

Marilah kita menyelami sejenak sendi-sendi kreatif sebuah sajak atau puisi.
  • Seringkali terkandung  metafor (perbandingan berdasarkan unsur kesamaan). Contoh yang sederhana: hati yang gundah diibaratkan sebagai hadirnya mendung. Contoh yang lebih mendalam: suatu sikap manusia yang tidak ingin membeda-bedakan sesama dirasakan sebagai sorotan rembulan yang lembut di malam hari; tidak tajam, tidak mengarah ke diskriminasi; ia adalah denyut keibuan yang sejati. Renungkanlah bagaimana perasaan, atau lebih tepatnya kerinduan penyair akan gambaran itu, harus dituangkan dalam sederetan kata-kata yang ditulis atau dibaca.
    Ia mencoba, menulis dan menulis, mengoreksi, menanti sampai datang satu baris pengungkapan yang paling utuh, lalu merumuskan dan merumuskan lagi.
  • Antara bunyi kata dan makna kata, seringkali terdapat pertautan "kehidupan" yang kadang-kadang jelas/gamblang, kadang-kadang tersembunyi. Inilah hakikat yang terus digali  oleh para penyair. Mereka seolah-olah harus kembali ke naluri-naluri purba dalam berbahasa, ketika kesan dari gambaran dan suara-suara alamiah di sekeliling menjadi akar dari gagasan untuk berkomunikasi. Namun penyair juga sekaligus bergerak pada taraf abstraksi bahasa yang tinggi, sebagai keterampilan khas mereka.
  • Suatu puisi juga bisa menunjukkan ketidaklengkapan, seakan-akan menggambarkan ketidakmampuan bahasa untuk mengungkap pesan atau kebenaran yang terpendam. Penyair mengajak penanggapnya untuk ikut "menggapai". Dengan peran-serta ini makna akan dilengkapi.
  • Paradoks atau pertentangan juga sering dimunculkan karena dengan paradoks makna seutuhnya dapat ditangkap.
  • Dalam menghayati sebuah puisi, perasaan kita akan irama sangat dibutuhkan. Tanpa mengikutsertakan rasa irama, penghayatan kita belum penuh. Seperti halnya dengan musik, ada cepat, ada lambat, kadang kuat lalu lemah, tanpa gerak. Kekosongan juga suatu bentuk isi. Begitulah kiranya nafas kehidupan diperagakan.
Jika gelombang perasaan dan penginderaan kita dapat didekatkan dengan denyut orisinal dalam jiwa seniman tersebut, maka setiap kali kita menikmati karya seninya, kita pun ikut mengalami proses kreatif. Selanjutnya sebagai ciri dari suatu karya seni yang baik, kita sebagai penanggapnya yang ikut menyelami tidak akan cepat merasa lelah atau bosan.

Setiap bentuk karya seni, termasuk yang populer, sesungguhnya bertujuan menyegarkan kembali kemanusiaan kita. Untuk itu kita harus bersikap lebih daripada sekedar menghargai keterampilan seniman, karena yang penting untuk dihayati sebenarnya adalah alam perasaannya, gagasannya.

Apabila kita mencoba menjadi penanggap yang aktif, atau mencoba juga untuk ikut mencipta suatu karya seni, dengan sendirinya kepekaan kita pun akan meningkat. Ketajaman dalam menangkap perlambangan atau simbolisme sedikit demi sedikit memperkaya diri kita, dan ini secara umum merupakan  peningkatan daya kreativitas. Semoga.

Salam kreatif penuh cinta.

***
Solo, Senin, 4 Juni 2018
Suko Waspodo 
ilustrasi: wikiHow

Kemesraan Kita di Kota Tua



















kita masuki malam tiada lagi kelam
berpadu hati kita tinggalkan muram
meski telah senja kita tuk bisa jumpa
namun gairah muda tak akan purna
                                                              
warna-warni nuansa hiasi sanubari
kenyataan indah tiada sekedar mimpi
saling menatap kita sepenuh kagum
ungkapkan bahagia dalam bibir kulum

ratri tak mengurangi pesona kota tua
walau ketika itu tiada hadir purnama
nikmati suasana tak lagi sendu sendiri
kugandeng engkau kasih pujaan hati

riuh musik tradisi pengamen jalanan
menghiasi dendang penuh keindahan
menyusup di keramaian kita berdesak
saling menggenggam sekuat kehendak

kemesraan kita terjalin semakin erat
asmara berpagut dalam dekap hangat

***
Solo, Minggu, 3 Juni 2018. 5:42 pm
'salam hangat penuh cinta'
Suko Waspodo
antologi puisi suko
kompasiana
pepnews
ilustr: Sladjana Lazarevic 

Pemikiran Kreatif dan Indera Pendengaran


Tidak perlu diragukan lagi bahwa peran indera pendengaran dalam seni musik dan cetusan-cetusan kreatifnya terus-menerus memperkaya pengalaman musikal kita. Apabila kita berniat menelusuri musik sebagai karya kebudayaan manusia, memang dibutuhkan uraian yang panjang. Namun tidak ada salahnya membahasnya sedikit sebagai tambahan pengetahuan dalam kaitannya dengan pemikiran kreatif.

Musik adalah salah satu cetusan kreativitas manusia yang lebih bersasaran perasaan (emosi) daripada pemahaman. Di satu pihak kita merasakannya sebagai konsumsi atau kenikmatan yang paling abstrak. Tetapi di lain pihak ia pun dekat dengan rangsang jasmaniah melalui saraf-saraf telinga yang lebih terlibatkan daripada saraf-saraf mata.

Perjalanan peradaban manusia untuk menciptakan kenikmatan itu mulai dari suara-suara pra bahasa hingga untaian suara dalam melodi, irama, harmoni, timbre, dan kemudian komposisi dan aransemaen. Itu semua sungguh merupakan perjalanan yang jauh.

Musik sangat mampu untuk mengungkapkan maksud dan makna, namun pada hakikatnya pesan musik itu tidak terbelit oleh konsep-konsep. Pesan dari sepotong musik biasanya mengandung unsur logika yang minimal meskipun kita menangkap ekspresi kemanusiaan yang maksimal.

Ulasan atau pemaknaan tentang kreativitas biasanya memang lebih pada indera penglihatan. Visualisasi memang sangat berperan dalam proses kreatif. Akan tetapi kalau kita mau merangkum seluruh rasa kehidupan, atau menangkap perbedaan samar antara satu maksud dengan maksud lain, atau meraba keintiman antara diri kita dengan dengan lingkungan kita, mungkin peran indera pendengaran akan cukup besar.

Berikut ini dipaparkan beberapa hal untuk merangsang minat kita dalam mendayagunakan persepsi pendengaran secara lebih kreatif, di luar bidang musik yang sudah banyak kita kenali.
  • Renungkanlah bagaimana montir-montir mobil dan motor yang berpengalaman kadang-kadang mengandalkan daya pendengarannya untuk mendeteksi bagian mobil yang kurang beres. Analisis ini berdasar pada timbre suara atau sumber suara, yang telah mereka kenal melalui pengalaman kerja yang lama. Meskipun dewasa ini bengkel-bengkel telah sering menggunakan alat diagnosa mekanis yang modern maupun komputer, tetapi suara mesin-mesin juga dijadikan pedoman.
  • Seorang ahli zoologi mampu untuk lebih mendalami seluk-beluk kehidupan ikan paus melalui rekaman suara-suara yang keluar dari mulut ikan paus tersebut. Tentunya cara aneh tersebut tak mungkin terlaksana tanpa rasa sayang yang besar terhadap makhluk itu. Dan ternyata yang terekam adalah jalinan suara yang kaya, cukup menarik untuk disebut sebagai "musik ikan paus". Cara ini dapat pula diterapkan bagi kicau merdu burung-burung yang hidup bebas.
  • Untuk menciptakan hubungan yang bersifat lebih pribadi antara kita dengan berbagai perkakas yang kita pakai, para perancang telah memanfaatkan pengaruh dari suara. Misalnya dengan menambahkan suara musik pada salah satu instrumennya seperti untuk kotak perhiasan, penyangga telepon, alat pemanggang roti, dan sebagainya. Dengan menggunakan robot kemungkinan penambahan suara, baik sebagai pembawa informasi maupun sebagai pelengkap ekspresi, akan lebih luas lagi.
  • Sebaliknya, keberisikan adalah gangguan yang secara nyata dapat mengurangi pemuasan kebutuhan kita. Karena itu upaya untuk melenyapkan keberisikan itu kita terima sebagai ide inovatif yang besar artinya. Inilah yang menjadi daya tarik dari berbagai perkakas yang direkayasa sebagai silent type. Mulai dari pembangkit listrik sampai penyejuk ruangan, bahkan mesin jahit, dapat dilengkapi dengan peredam keberisikan.
  • Dengan kemajuan pesat teknik perekaman suara dewasa ini, sebenarnya potensi dari suara-suara yang berasal dari dari suatu lingkunagan (apakah itu pasar, toko, tempat-tempat umum lain, atau juga di dalam rumah kita sendiri) dapat lebih diselami dinamikanya. Tentunya bukan dimaksudkan untuk penyadapan suara yang melanggar hukum. Survei melalui suara-suara wajar yang sengaja direkam tersebut mungkin bisa memberikan banyak masukan. Bagaimana tawar-menawar berlangsung di suatu toko, mungkin memberikan ilham tertentu bagi rancangan produk, bagi penataan barang, atau bagi penciptaan iklan. Dalam taraf keilmiahan yang tinggi, contoh deteksi bunyi semacam itu terjadi dengan sinyal-sinyal (gelombang radio) yang ditangkap dari gugus-gugus bintang yang amat jauh letaknya. Dari bunyi ke informasi, begitulah dalilnya.
Demikianlah paparan sederhana sedikit tambahan pemahaman bagi kita tentang bagaimana mengaitkan pemikiran kreatif dengan indera pendengaran. Semoga bermanfaat dan menambah kreativitas kita.

Salam damai penuh cinta.

***
Solo, Sabtu, 2 Juni 2018
Suko Waspodo
https://www.kompasiana.com/sukowaspodo_99/5b12049ccf01b4616c056f42/pemikiran-kreatif-dan-indera-pendengaran
https://tulisansuko.wordpress.com/
ilustrasi: SuperMusic.ID 

Kidung Asmara Sejoli Cinta



















angin gunung membawa kabut sejuk
menaungi ngarai akan hangat mentari
dalam relung sejiwa bertaut memeluk
menikmati urai kerinduan rekat naluri

selaksa pinus menari diiring kicau burung
rumput bergoyang seirama nuansa lengang
terasa tulus sejoli beriring memukau kidung
menjemput kepayang asmara tiada bimbang

bunga ilalang diterbangkan sang bayu
berpasang kupu-kupu bercumbu nan indah
manja sepasang insan berdendang merdu
tembang syahdu mendayu kian mendesah

biru langit senantiasa dibelai putih awan
gairah semesta mengembara tunaikan asa
menyatu bait cinta dibuai kasih pangkuan
berserah mesra mengeja tuntaskan rasa

***
Solo, Rabu, 30 Mei 2018. 6:43 pm
'salam hangat penuh cinta'
Suko Waspodo
antologi puisi suko
kompasiana
pepnews
ilustr: pinterest.co.uk/dark3nstar

Rabu, 01 Agustus 2018

Antara Sertifikasi dan Prestasi


Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) 2018 sudah berlalu dan hasilnya sudah kita ketahui. Secara keseluruhan hasilnya mengalami penurunan. Beberapa pihak mengatakan bahwa tingkat kesulitan soal terlalu tinggi, pihak yang lain lagi mengatakan materi yang yang diujikan belum diajarkan di sekolah. Secara singkat terkesan bahwa pihak guru tidak mau disalahkan.

Kita semua mengetahui bahwa semenjak reformasi gaji Aparatur Sipil Negara (ASN), termasuk para guru, mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Secara khusus para guru dan dosen yang memenuhi kualifikasi, dibuktikan dengan sertifikasi guru dan dosen,  juga memperoleh tambahan tunjangan kesejahteraan yang cukup besar nilai rupiahnya.

Sertifikasi dimaksudkan awalnya adalah untuk meningkatkan kualitas guru dan dosen. Hal ini ditunjukkan dengan keterlibatan mereka dalam seminar-seminar, penelitian, penulisan ilmiah dan pengabdian masyarakat. Untuk memenuhi itu semua tentu saja cukup menyita waktu serta tenaga, dan akibatnya waktu untuk pengajaran dan pendampingan siswa-siswi berkurang.

Seharusnya sertifikasi guru/dosen akan meningkatkan kualitas peserta didik (guru dan siswa), guru mengajar semakin bermutu dan kualitas belajar siswa semakin baik,  tetapi faktanya hanya meningkatkan kesejahteraan (finansial) guru tetapi kualitas belajar siswa menurun. Itu bisa kita lihat dari nilai UNBK yang menurun drastis.

Penurunan kualitas hasil belajar siswa-siswi ini diamati sebagai akibat dari kualitas kegiatan belajar mengajar yang menurun. Para guru sibuk mengejar sertifikasi sedangkan para siswa terbengkalai. Motivasi kerja para guru bukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan tetapi hanya untuk meningkatkan kesejahteraan pribadi.

Semua itu bisa kita lihat dari kegiatan belajar mengajar yang tidak tepat. Tidak terjadi transfer of knowledge  karena para guru tidak mau menjelaskan secara detail materi pelajaran yang mereka ampu dan memaksa para siswa untuk belajar sendiri. Siswa-siswi belum menguasai kemampuan dasar tetapi sudah dipaksa untuk berimprovisasi. Para guru beralasan bahwa inilah penerapan student active learning padahal sesungguhnya mereka merasa capek untuk mengajar karena pikiran dan tenaga sudah terkuras untuk memenuhi tuntutan syarat sertifikasi.

Para siswa belum saatnya untuk secara penuh menganalisis mata pelajaran mereka. Secara psikologis belum saatnya usia para siswa SD sampai dengan SMA/K dituntut belajar dengan sistem seperti di perguruan tinggi.

Memang seharusnya melaksanakan penelitian, penulisan ilmiah, keterlibatan dalam seminar-seminar serta pengabdian masyarakat  adalah kewajiban profesi pengajar, tanpa harus diiming-imingi dengan tunjangan sertifikasi.  Memang tidak mudah, tetapi itulah konsekwensi profesi ini. Jangan menyamakannya dengan profesi lain yang hanya melulu profit oriented , kalau tidak mau disebut matre.

Kenyataan menunjukkan pula bahwa banyak pemenuhan syarat sertifikasi hanya terpenuhi di atas kertas.  Penulisan ilmiah sering bukan karya sendiri, penelitian hanya abal-abal, seminar diselengarakan tidak tepat guna dan pengabdian masyarakat juga hanya seadanya. Hasil yang nyata terlihat adalah peningkatan barang konsumtif para guru, antara lain mampu membeli mobil, motor baru, rumah baru dan bahkan (maaf) isteri baru.  Ironis, para guru semakin sejahtera, para siswa merana.

Sebaiknya peningkatan kualitas para guru melalui sertifikasi ini ditinjau kembali. Peningkatan kesejahteraan melaui kenaikan gaji  atau tunjangan tentu saja baik dan bermanfaat tetapi  harus disertai peningkatan kualitas guru yang utama dalam kegiatan belajar mengajar. Para siswa-siswi tidak boleh menjadi korban. 

Tulisan sederhana ini pasti tidak mengenakkan hati para guru, khususnya penerima tunjangan sertifikasi, tetapi pasti kita semua sepakat bahwa para guru adalah ujung tombak peningkatan kualitas pendidikan. Pendikan yang berkualitas niscaya menjadi kunci utama kemajuan bangsa ini. 

Memang kenyataannya berat tugas para guru. Oleh sebab itu bagi siapa pun yang merasa terlanjur dan merasa berat menjadi guru, sebaiknya berganti profesi lain saja. Masih banyak diantara kita yang mau dan sanggup menjadi guru sejati demi kemajuan para siswa-siswi khususnya serta kemajuan negeri ini pada umumnya. Merdeka !

Salam damai penuh cinta.

***
Solo, Rabu, 30 Mei 2018
Suko Waspodo
ilustrasi: infonawacita.com 

Curhat Seorang Rakyat


Keputusan pemerintah untuk memberikan Tunjangan Hari Raya (THR) serta gaji ke-13, bagi para Pegawai Negeri Sipil (PNS), pensiunan PNS, anggota TNI serta Polri, menjadi perbincangan yang hangat bebarapa hari ini, baik secara off-line alias dari mulut ke mulut maupun on-line di media sosial. 

Banyak yang merasa senang dengan keputusan tersebut namun tidak sedikit juga yang merasa kurang puas lalu terus mengeluh dalam pergunjingan dan mengungkapkannya pula lewat media sosial dan bahkan menuliskannya dalam artikel.

Dipicu oleh situasi itulah kali ini saya ingin menyampaikan curahan hati (curhat) lewat tulisan ini. Curhat saya bukan ingin mengeluh dan bukan pula ingin memprotes karena saya tidak pernah dapat gaji dan THR dari pemerintah. 

Hanya curhat ungkapan keheranan dan berharap dibaca oleh para PNS, pensiunan PNS, anggota TNI serta Polri yang pasti akan segera menerima tunjangan tersebut, secara khusus yang mengeluh dengan nada protes akan besaran tunjangan serta gaji yang akan mereka terima.

Mengapa masih banyak calon penerima yang mengeluh mempermasalahkan besaran THR yang akan mereka terima?  Ada yang merasa terlalu kecil dan tidak memadai untuk memenuhi kebutuhan hari raya mereka. 

Ada yang mengungkapkan dalam tulisan di media bahwa THR yang mereka terima seharusnya tiga kali lipat dan bukan hanya sebesar take home pay yang mereka terima dalam satu bulan. Mereka beralasan bahwa mereka hampir 4 tahun tidak memperoleh kenaikan gaji. Apakah ada keharusan pemerintah menaikkan gaji setiap tahun?

Keluhan mereka sungguh aneh. Bukankah mereka seharusnya bersyukur dengan apa yang akan mereka terima. Apakah mereka tidak mencermati situasi ekonomi yang sedang relatif sulit? Pemerintah pasti tidak mudah mewujudkan THR serta gaji ke-13 ini. Namun demi kesejahteraan mereka yang katanya  "abdi negara"  ini, pemerintah tetap mengupayakannya.

Mereka yang mengeluh dan bahkan seakan memprotes seharusnya melihat juga di sektor swasta. Karyawan swasta tidak semuanya memperoleh THR apalagi gaji ke-13. Banyak perusahaan yang tidak mampu memberikan THR, demi untuk menjaga agar perusahaan tetap berjalan tanpa harus mem-PHK sebagian karyawannya.  Bagi  para PNS maupun anggota TNI serta Polri tentu tidak perlu merasa cemas di-PHK, karena negara tidak akan bangkrut.

PNS, anggota TNI serta Polri sejak era reformasi  telah menerima gaji dan tunjangan yang sangat layak meskipun ironisnya kinerjanya belum optimal dan etos kerja juga relatif belum baik. 

Mereka mungkin tidak menyadari bahwa selama ini apabila gaji mereka naik atau baru ada kabar akan naik saja, harga-harga kebutuhan pokok juga langsung naik. Dampaknya tentu saja para karyawan swasta atau yang tidak menerima gaji dari pemerintah. 

Karyawan swasta kembang kempis dengan gajinya untuk memenuhi kebutuhan hidup karena mereka tidak otomatis mendapat penyesuaian gaji. Perusahaan swasta tentu tidak serta merta mampu menaikkan gaji karyawannya.

Aneh bin ajaibnya yang mempermasalahkan besaran THR serta gaji ke-13 ini termasuk juga mereka yang selama ini nyinyir dengan menyoal besarnya hutang yang ditanggung pemerintahan presiden Jokowi. Mengkritik pemerintahan ini boros tetapi mereka menuntut gaji dan tunjangan yang lebih besar. Sungguh kaum kampret super koplak tak punya otak.

Wahai para penerima gaji serta pensiun dari pemerintah, yang akan segera menerima THR serta gaji ke-13 tahun 2018, bersyukurlah. Masih banyak rakyat negeri ini, termasuk saya, yang tidak seberuntung anda. Nikmatilah kesejahteraan anda dan ijinkan kami senantiasa hanya mampu menelan ludah.

Salam 'ngenes' penuh cinta.                                                                                                           

***
Solo, Sabtu, 26 Mei 2018
Suko Waspodo
ilustrasi: sindonews.com 

Gemuruh Mesin Dunia















gegas insan mengejar cinta bermakna
enggan bermalas mencampakkan asa        
merawat indah ciptaan sepanjang usia
ungkapan sungguh untuk mencapai cita
raih kebaikan sepenuh daya dan upaya
ujian kegagalan tak akan membuat jera
hingga terwujud bahagia dengan sesama

meski sadari maknai hidup tiada mudah
elakkan kecondongan mudah menyerah
senantiasa bergerak ke pencapaian arah
ingat keberhasilan tak cukup berpasrah
nyata berusaha abaikan resah gundah

damba kedamaian singkirkan iri dengki
usir keangkuhan tuk mementingkan diri
nikmati karunia dengan selalu berbagi
ingkari nafsu serakah menjerat nurani
ambisi kuasa tak harus racuni suara hati

inilah gempita gemuruh mesin dunia
gelora semangat peradaban manusia

***
Solo, Sabtu, 26 Mei 2018. 9:46 am
'salam hangat penuh cinta'
Suko Waspodo
antologi puisi suko
kompasiana
pepnews
ilustr: Irene Rice Pereira