Welcome...Selamat Datang...

Padi organik petani hasil pendampingan kami

Padi Rojolele organik

Lokomotif tua di kota kecil Cepu, Blora

Lokomotif tua yang sekarang kadang-kadang digunakan untuk kereta wisata di lingkunagn perhutani Cepu-Blora.

SATE BUNTEL KHAS SOLO

Lezat dan bikin kita ketagihan.

Jajanan khas Jawa

Jajanan khas Jawa ini sekarang sering disajikan dalam acara formal maupun informal. Lengkap, rasanya bervariasi dan sehat.

Para peserta LDK di Tawangmangu

Latihan Dasar Kepemimpinan diikuti oleh sekitar 30 mahasiswa Surakarta di Tawangmangu pada tahun 2011.

Di Tanah Lot Bali

Refreshing di Bali pada tahun 2010, bersama teman-teman dosen.

Sabtu, 12 Oktober 2013

Jokowi Menggairahkan Pemilu 2014

Elektabilitas Jokowi yang semakin meroket menunjukkan betapa besarnya harapan masyarakat terhadap tokoh ini. Menunjukkan pula kerinduan rakyat negeri ini akan seorang pemimpin yang bisa memahami mereka. Diprediksi bahwa pemilu 2014 akan terasa menggairahkan apabila Jokowi bersedia dicapreskan. Dicapreskan bukan mencapreskan karena Jokowi tidak pernah mengungkapkan keinginan untuk menjadi presiden tapi suara rakyat yang terus mengarah ke dia untuk bersedia menjadi presiden.

Situasi ini tentu akan berbeda dengan pemilu-pemilu sebelumnya. Diperkirakan bahwa jumlah golput akan turun drastis kalau Jokowi bersedia dicapreskan. Rakyat sangat berharap pada tokoh fenomenal ini. Selama ini tingkat golput tinggi karena rakyat merasa bahwa pemilu tidak akan membawa perubahan nasib mereka karena tidak ada tumpuan harapan baru terhadap figur pemimpin yang bisa membawa perubahan. Pemilu hanya sekedar formalitas demokrasi tanpa arti.

Dengan pencapresan Jokowi, PDI-P juga sudah bisa dipastikan tidak perlu terlalu sibuk kampanye karena Jokowi sudah merupakan nilai jual yang dahsyat. Rakyat akan berbondong-bondong memilih untuk memenangkan PDI-P dengan harapan agar Jokowi bisa diajukan sebagai presiden dan mereka pilih. Hampir semua pengamat politik mengamati fenomena ini. Jokowi akan merupakan mesin pengumpul suara yang luar biasa dalam pemilu 2014.

Bagi media masa, dengan keikutsertaan Jokowi dalam pencapresan juga akan merupakan berkah tersendiri. Pemberitaan tentang Jokowi dan para capres pesaingnya akan selalu ditunggu oleh siapapun sehingga media masa akan sangat dibutuhkan. Pasti ini nilai tambah ekonomi tersendiri bagi perusahaan media masa.

Akhirnya kegairahan rakyat terhadap pemilu 2014 kuncinya tinggal hanya pada PDI-P dan Jokowi. Rakyat butuh pemimpin mereka yang baru yang seperti yang mereka harapkan. Rakyat negeri ini sudah semakin cerdas, mereka hanya akan datang ke Tempat Pemungutan Suara kalau mereka yakin bahwa mereka akan mengalami perubahan nasibnya lewat suara yang mereka berikan. Selamat menyongsong pesta demokrasi dengan penuh harapan akan hadirnya perubahan dan perbaikan terhadap nasib rakyat kecil.

Salam damai penuh cinta.
***
Solo, Sabtu, 12 Oktober 2013
Suko Waspodo
antologi puisi suko
kompasiana
pepnews

Jumat, 11 Oktober 2013

Jakarta Tidak di Pulau Jawa

Sudah lama sebenarnya uneg-uneg ini ingin saya ungkapkan tetapi tertunda, namun pada sore ini akhirnya saya tuliskan karena terpacu oleh satu artikel di Kompasiana. Artikel yang berisi harapan agar pemerintah membangun jalan Jakarta ke Jawa agar setiap kali melakukan perjalanan mudik menjadi lancar.

Saya merasa risih dengan penyebutan Jawa tersebut. Dalam konteks artikel tadi Jawa yang dimaksud adalah Jawa Tengah.  Mengapa menyebut wilayah Jawa Tengah dengan Jawa saja? Hal ini sering juga saya dengar dari orang-orang di Jakarta kalau menyebut Jawa Tengah selalu hanya Jawa saja. Mengatakan akan ke Solo, Purwokerto, Jogya atau tempat lain di Jawa Tengah selalu dengan kalimat Saya akan pergi  ke Jawa. Bukankah ini aneh dan keliru?

Hal ini perlu dibenahi.  Apakah Jakarta bukan berada di pulau Jawa? Atau pelajaran Geografi kita perlu dibenahi? Pasti tidak. Yang perlu dibenahi adalah kita yang menggunakan penyebutan dengan kata Jawa itu. Kerancuan arti tidak bisa dibiarkan. Dalam hal ini para pendidik pada sekolah di Jakarta harus selalu mengingatkan kesalahan ini pada para peserta didik demikian juga media masa juga terus membantu membenahi penggunaan istilah ini. Saya akan pergi ke Jawa Tengah. Saya akan mudik ke Solo. Saya baru pulang dari Purwokerto. Ini beberapa contoh kalimat yang benar

Sekedar tulisan sederhana untuk membenahi agar semua pengguna sebutan Jawa tadi tak tampak bodoh. Apakah Jakarta tidak di Pulau Jawa?

Salam damai penuh cinta.
***
Solo, Jumat, 11 Oktober 2013
Suko Waspodo

Senja Jingga Sendu















terhempaskan diri pada kehampaan hati
indah mentari pagi berlalu sepi tanpa arti
hari-hari suram kulalui penuh kelu sendiri
tiada merdu sapa manismu hangatkan diri

kicau burung tak mampu hibur sunyi hatiku
yang kuharap hadirmu tuk padukan smaraku
abaikan kata mereka tentang engkau dan aku
hanya kita yang mampu maknai cinta kita satu

terik surya merayap menggapai puncak hari
harapku tak keringkan cinta yang mulai semi
ingin terus kubasahi dengan sejuk bening hati
agar tumbuh tunas kesetiaan cinta kita abadi

namun harapan tinggallah harapan menanti
laksana  kemarau berharap hujan basahi bumi
pintaku kau buka kembali peraduan kasih suci
sambut kebersamaan indah menggapai mimpi

kembara mentari  berganti senja jingga sendu
langkah kehidupanku berpacu dengan waktu
menanti hadirmu dinda juwita belahan jiwaku
hangatkan ratri dengan dekapan penuh rindu

***
Solo, Jumat, 11 Oktober 2013. 5:09 pm
'salam hangat penuh rindu'
Suko Waspodo
pepnews
ilustrasi: yousaytoo.com

Kamis, 10 Oktober 2013

Insomnia



















suara jengkerik menghiasi sepi malam
hatiku sunyi menghitung waktu tanpa arti
bayangan saat indah bersamamu melintas
dalam tarian asmara penuh pesona kala itu
berpagut kita  merenda nafas padukan hasrat
tersenggal dalam gairah yang membuncah

kini semuanya hanyalah ibarat kisah fiksi
yang berlalu tinggalkan nyeri di lubuk hati
tatkala cinta suci dinodai dengan prasangka
karena satu mulut beracun menebar dusta
menutup ruang hati dengan iri dan dengki
menghancurkan kudus cinta berubah duka

namun aku hanya bisa meratap dalam gelap
sejak kau tutup pintu hatimu untuk mengerti
kucoba berharap pada keajaiban hadir maaf
untuk memahami yang sesungguhnya terjadi

malam merayap memasuki gerbang sunyi pagi
mata tak mampu terpejam menahan rasa pedih
menyongsong esok hari yang semakin tak pasti
karena kau tak mau lagi menerima tulus cinta ini

***
Solo, Rabu, 9 Oktober 2013. 12:13 am
'salam hangat penuh cinta'
Suko Waspodo
pepnews
ilustrasi: grieftastic

Selasa, 08 Oktober 2013

Kutulis Puisi Cinta















kutulis saja deretan kata indah sarat makna
berbagi bahagia bagi yang menginginkannya
tiada maksud untuk mengumbar pesona diri
karena aku adalah aku yang tiada punya arti

bagiku menulis puisi cinta adalah kebutuhan
untuk berbagi keindahan bukan kebencian
salahkah kalau aku hanya ingin berbagi cinta
karena cinta menghangatkan alam semesta

puisi cinta yang aku tulis pasti ungkapan hati
maksudku hanya menghibur yang gundah diri
aku memilih untuk ungkap segala yang indah
menikmati karunia cinta yang kian merekah

puisi cintaku ungkapan cintaku tuk siapa saja
bukan hanya untuk seseorang yang istimewa
mengapa keindahan syair harus dicemburui
dengan prasangka yang hanya meracuni hati

kutulis puisi cinta kutumpahkan gejolak rindu
memeluk semesta raih kedamaiannya selalu
harapku untai kata puisi cintaku memberi arti
jangan dijahati dengan pikiran penuh dengki

***
Solo, Selasa, 8 Oktober 2013. 10:07 am
'salam hangat penuh cinta'
Suko Waspodo
pepnews
ilustrasi: ArtPics On Fb

Senin, 07 Oktober 2013

Angkatan Parang

sesumbar kejujuran sesaat jabatan didapatkan
sumpah dengan kitab suci hanya sekilas awalan
kala kekuasaan diraih pun menjadi kesetanan
segala cara dihalalkan menumpuk kekayaan

relasi dengan Tuhan hanya sekedar formalitas
yang penting terlihat sebagai manusia pantas
meski perilaku nyata penuh tipu muslihat culas
demi memenuhi nafsu hewani tak kenal puas

kesabaran rakyat jelata pasti ada batasnya jua
kemiskinan semestinya tak harus terus mendera
bila keadilan diterapkan di negeri ini senyatanya
pasti makmur terasakan ke hidup rakyat  merata

hukum biarlah hanya sekedar tumpukan usang
tak penting karena penegaknya tak lagi garang
jangan salahkan bila rakyat kian kuat meradang
hancurkan para koruptor dengan angkat parang

***
Solo, Senin, 7 Oktober 2013. 10:13 am
'salam kritis penuh cinta'
Suko Waspodo

Yang Penting Jokowi

Popularitas Jokowi semakin meroket. Lembaga survey maupun jajak pendapat manapun selalu membuktikan keunggulannya sebagai tokoh yang paling populer sebagai capres pada 2014. Para tokoh lain yang sudah dengan terang-terangan mencapreskan diri maupun dicapreskan jauh tertinggal popularitasnya. Padahal Jokowi belum pernah menyatakan mau dicapreskan apalagi menyapreskan diri sendiri.

Dalam lingkup pemberitaan atau tuilisan Kompasiana sendiri, kita juga bisa mengukur popularitas tokoh fenomenal ini. Tulisan yang dimuat di Kompasiana akan banyak dibaca asalkan menyebutkan Jokowi. Mulai dari hanya sekedar tulisan humor, puisi, reportase dan bahkan sampai analisis pasti akan dibaca banyak orang; yang penting tentang Jokowi. Silahkan anda buktikan dengan mencermati tulisan yang ada di Kompasiana tentang Jokowi, jumlah pembaca yang tertera selalu tinggi.

Pengamatan sederhana dalam lingkup Kompasiana ini menunjukkan betapa Jokowi sangat ditunggu pemberitaan atau bahasannya. Semua hal tentang dia selalu dirindukan. Jadi salah besar kalau masih ada yang menyatakan bahwa pemberitaan tentang Jokowi adalah pencitraan. Penulis di Kompasiana sebagian besar adalah orang-orang yang independen, tak berkepentingan dengan partai apalagi kekuasaan. Jadi kalau mereka menuliskan tentang Jokowi, semuanya murni maksud mereka sendiri tanpa sponsor dari pihak manapun. Maka tatkala tulisan atau reportase tentang Jokowi itu banyak dibaca berarti Jokowi memang sangat tinggi popularitasnya.

Demikianlah tulisan ini mencoba sedikit mengungkapkan pengamatan sederhana tentang popularitas Jokowi dari sisi yang berbeda. Semoga bisa menambah wawasan  tentang tokoh yang fenomenal ini.

Salam damai penuh cinta.
***
Solo, Minggu, 6 Oktober 2013
Suko Waspodo
antologi puisi suko
kompasiana
pepnews