di luar jendela kamarku
berdiri pohon tua yang megah
dia sudah di sana selama beberapa dekade
sama bangganya dengan eksistensinya
dan setiap pagi saat aku bangun
dia hal pertama yang kulihat
konstanta yang indah ini dalam hidupku
luar biasa dan bebas leluasa
aku mampu melihat matahari terbit pagi
mengintip melalui dedaunan hijau suburnya
aku bisa mendengarnya bergerak dengan lembut
di angin musim kemarau yang menghangatkan
dia memiliki kepribadian
bahwa dia ingin dunia melihatnya
dan suasana hatinya selalu berubah
di belakang harga dirinya yang sunyi
dia merespons setiap musim
dengan caranya sendiri yang tidak terkekang
yang harus kita lakukan adalah menatapnya
untuk mengetahui musim apa yang sedang terjadi
di musim hujan dia menjadi segar kembali
saat daun-daunnya mulai mekar
dan di bawah perhatian matahari
kita hampir bisa melihatnya pingsan
dan dalam panasnya musim kemarau
saat kegembiraannya diperbesar
dia tidak pernah terlihat lebih cantik
semua dihiasi dengan keniscayaan
dan ketika pergantian musim datang
dan hawa dingin melayang di atas angin
dia lebih suka mengenakan lebih banyak nada bersahaja
dan melakukan apa yang dia inginkan
dia berdiri di sisiku sepanjang hari-hariku
dia memperhatikan aku tertawa dan menangis
dia mendengarkan dengan penuh perhatian
sementara aku sudah merenungkan hidupku
dan ketika aku melihat dia penat dan lelah
terkadang aku akan duduk bersamanya
dan selama bertahun-tahun kami berbagi bersama
akan datang kembali ke pikiran
tetapi kami berdua kuat dan benar
kami telah menjadi teman terdekat
dan kami akan mengatasi setiap badai
bersama sampai akhir
***
Solo, Minggu, 26 Mei 2019. 4:33 pm
'salam damai penuh cinta'
Suko Waspodo
antologi puisi suko
kompasiana
pepnews
ilustr: Bahadur Singh
0 comments:
Posting Komentar