Welcome...Selamat Datang...

Rabu, 06 Juli 2022

Pokoke Jokowi


Sudah lama saya tidak menulis tentang Jokowi. Saat sahabat saya ini menjadi walikota Solo, Gubernur DKI dan saat dua kali kampanye  'nyapres', saya sangat sering menulis tulisan pendek sederhana dan beberapa puisi tentang dia.

Saya bukan 'somebody special' apalagi busernya tetapi memang saya mengenalnya sebagai teman yang baik. Saya bukan orang yang dapat keistimewaan, hanya sebagai rakyat jelata yang secara ekonomi pas-pasan. Saya bukan ASN yang mendapat kenikmatan gaji yang relatif nyaman dan lebih baik. Saya hanya dosen swasta dengan pendidikan secukupnya saja.

Saya bukan aktifis partai, saya hanya mantan pendamping aktifis mahasiswa era reformasi di Solo dan penghubung dengan para aktivis di Jakarta dalam menggiring lengsernya Soeharto. Jujur saya merinding kalau mengingat keberhasilan gerakan mahasiswa 1998 itu. Tetapi jujur juga saya paling sakit hati dengan kelakuan Amien Rais yang mengotori peristiwa bersejarah tersebut. Sakit hati semakin berkembang menjadi kebencian dengan kelakuaannya yang bak Sengkuni hingga saat ini.

Sebagai warga negeri ini yang sudah tidak muda lagi, saya memang pernah mengalami era tujuh presiden negeri ini. Soekarno hanya saya alami saat masih balita, Soeharto 32 tahun dan saya merasakan tidak nyamannya politik negeri ini dengan segala kelicikan dia. Megawati dan Habibie saya tidak punya kesan istimewa. Gus Dur berkesan sebagai presiden yang sangat pluralis. SBY berkesan banget dengan prestasi korupsinya yang woow serta produktifitasnya sebagai pencipta lagu, meski saya belum pernah mendengar satu pun lagunya. Jokowi sudah pasti paling berkesan banget dengan segala prestasinya, kejujurannya, kepiawaian manuvernya yang ksatria dan tentu saja kerja kerasnya.

Mengapa saya harus mengatakan hal-hal tersebut di atas? Ini semua untuk melatar belakangi mengapa saya jadi pengin nulis tentang Jokowi lagi. Apa salah dia sehingga BEM UI, Ketua Umum PB HMI MPO dan demo mahasiswa (yang sudah berlangsung atau yang sedang direncanakan) selalu memfitnah dia? Mengapa para kadrun, Amien Rais, Rocky Gerung, Rizal Ramli, SBY, AHY, Ibas dan para politisi busuk lainnya, selalu setiap kali mengkritik ujungnya selalu menyalahkan Joko Widodo? Pokoke selalu ujungnya Jokowi yang dikambinghitamkan, padahal apa yang mereka nilai sebagai negatif terhadap kebijakan Jokowi tidak pernah terbukti. Ini semakin jelas bahwa mereka memang gerombolan pemfitnah.

Jika kita mencermati segala sepak terjang para politisi busuk tersebut selama pemerintahan Jokowi sesungguhnya hanya didasari iri hati yang berkembang menjadi kedengkian. Mereka yang merasa punya kemampuan dan visi politik hebat tetapi nyatanya tidak dikehendaki rakyat. Mereka hanya pintar bersilat lidah dan serakah. Sementara Jokowi dengan segala kepolosan, kesederhanaan serta kerja kerasnya terbukti dicintai rakyat. Karena dia memimpin dan mengabdi untuk rakyat dengan hati bukan dengan ambisi pribadi. Dan terbukti negeri ini semakin maju.

Apabila di era pandemi COVID-19 yang dialami secara global ini ada mereka yang terus memfitnah Jokowi, itu menunjukkan bahwa mereka memang cupet pikir dan tidak punya sense of crisis. Memangnya mudah mengelola pandemi yang menimpa negeri dengan jumlah penduduk terbesar ke empat di dunia. Sementara si Anis, kebanggaaan para kadrun, yang hanya mengelola penduduk Jakarta saja tidak becus.

Sudahlah, kalian para politisi busuk jangan hanya merecoki Jokowi yang sedang bekerja. Mending kalian belajar politik yang baik kalau ingin memimpin negeri ini. Tak perlu kalian paksa turun dari jabatan presiden, Jokowi pasti turun sendiri di 2024 nanti. Silahkan kalian menyiapkan diri untuk pilpres 2024 nanti meskipun saya sangat yakin bahwa kalian tidak kan mampu menarik simpati rakyat dengan rekam jejak kalian yang busuk.

Bagi para mahasiswa yang merencanakan demo menggulingkan Jokowi, kalian sebaiknya belajar untuk tidak memakai pempers dulu. Juga biasakan untuk tidak menggantungkan sapu tangan penghapus ingus. Kalian bisa belajar di perguruan tinggi juga masih banyak yang menggantungkan beasiswa dari pemerintah. Berkacalah dengan kemampuan analitis kalian yang masih cetek dan mau saja ditunggangi oleh para kadrun dan politisi busuk.

Bagi para penegak hukum (di era presiden Jokowi ini saya pendukung total TNI dan POLRI) jangan ragu untuk menindak para pemfitnah, perusuh serta para politisi busuk yang berniat makar. Ini urusan harga diri negara RI yang berdaulat, tak cukup diselesaikan dengan selembar kertas bermeterai 10 ribu rupiah.

Pokoke Jokowi, bagi saya dia tetap presiden negeri ini yang terbaik. Saya yakin bahwa dia akan menjadi benchmark untuk presiden mau pun kepala daerah negeri ini saat ini dan selanjutnya. Rakyat sudah tahu dan cerdas, bahwa pemimpin negeri ini minimal harus seperti Jokowi. Merdeka !!!

***
Solo, Sabtu, 24 Juli 2021. 7:36 pm
'salam kritis penuh cinta'
Suko Waspodo
antologi puisi suko
illustr: Grid.ID

0 comments:

Posting Komentar