Welcome...Selamat Datang...

Minggu, 22 September 2013

Dorongan untuk Main Kambing Hitam

Menurut kisah dalam Kitab Suci, Eva jatuh ke dalam godaan sampai makan buah terlarang karena dibujuk oleh si ular yang cerdik. Kemudian Eva menggoda Adam. Adam pun ikut-ikutan makan buah larangan Tuhan. Setelah peristiwa itu pada suatu pagi, seperti telah biasa dilakukan, Tuhan turun ke Taman, tempat kedua manusia pertama itu tinggal. Dalam waktu pendek saja terbongkarlah rahasia dosa mereka.

“Adam, apakah engkau makan dari buah pohon yang Aku larang engkau makan?” tanya Tuhan.

“Perempuan yang Engkau tempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan,” jawab Adam.

Kemudian Tuhan berpindah tanya kepada Eva: “Apakah yang telah engkau perbuat ini?”

Dengan muka cemberut, Eva menjawab: “Ular itu yang memperdaya aku, maka kumakan.”

Kepandaian kakek dan nenek kita yang pertama untuk melemparkan kesalahan dan dosa sendiri kepada orang lain ini, telah mereka wariskan kepada kita cucu-cicit mereka.

Adam dan Eva tidak menyangkal perbuatan salah dan dosa mereka. Tetapi mereka mencoba mengurangi bebannya. Kita juga sering berbuat seperti Adam dan Eva. Pada suatu saat kita dibebani oleh rasa salah dan dosa karena perkataan, perbuatan dan tindak-tanduk kita. Kita tertekan oleh bebannya. Untuk mengurangi beratnya tekanan salah dan dosa itu, tanpa pikir panjang kita melemparkan kesalahan dan dosa itu kepada orang lain. Kalau perbuatan ini sudah menjadi kebiasaan kita, banyak kemungkinan kita telah dikuasai oleh dorongan untuk main kambing hitam.

Istilah kambing hitam diambil dari kebiasaan orang Yahudi kuno. Di kalangan mereka, pada masa itu, ada kebiasaan untuk menyembelih kambing hitam sebagai korban silih dosa. Selanjutnya dengan matinya si kambing itu, dosa umat dihapus. Hal yang sama dibuat oleh mereka yang menjadi korban dorongan untuk main kambing hitam. Dorongan untuk main kambing hitam dapat menular kemana-mana. Dalam suatu keluarga terjadi suatu hal yang tidak enak. Maka mudah saja keluarga itu mengambinghitamkan salah satu anggota keluarga yang paling lemah, atau pembantu yang tidak tahu menahu. Dalam suatu persatuan sepakbola, kesebelasannya mengalami kekalahan parah dalam suatu pertandingan. Maka bukan hal yang mengherankan kalau kita mendengar orang mengemukakan alasan: iklim jelek, wasit tidak bermutu, atau lawan yang licik, sebagai pangkal kekalahan itu. Dalam suatu negara terjadi kegagalan besar dalam salah satu “policy”. Dalam hal yang penting ini pun kita tidak usah terkejut kalau mendengar orang bilang: ah, semua itu akibat sabotase, perbuatan unsur-unsur subversif entah luar atau dalam negeri.

Orang-orang yang menjadi mangsa dorongan untuk main kambing hitam dalam lubuk hati mereka sangat menginginkan rasa bersih, rasa ringan, rasa tidak tertekan oleh salah dan dosa. Mereka ingin agar jiwa mereka benar-benar murni. Untuk mencapai maksud mereka, kecuali melemparkan sumber kesalahan pada orang lain, mereka juga bersandiwara. Dengan gencar mereka suka mengecam, mengutuk, segala hal yang dianggap sebagai penyelewengan, kebobrokan atau kemaksiatan. Hal-hal yang dikecam itu mungkin betul. Tetapi tujuan mereka melontarkan kecaman itu bukan terutama untuk memperbaiki situasi, melainkan untuk mengurangi rasa salah dan dosa mereka. Karena tidak jarang terjadi, justru hal-hal yang mereka kutuk itu, mereka perbuat sendiri. Untuk mencapai tujuan yang sama, mereka juga sering main suci, main saleh, main bersih. Biar orang lain mendapat kesan demikian.

Bagaimanapun juga beban salah dan dosa tidak akan hilang dengan mengalihkan pangkal salah dan dosa kepada orang lain atau dengan bersandiwara lewat lontaran kutuk-kutuk dan lewat lagak suci. Orang-orang yang mempunyai dorongan kuat untuk main kambing hitam harus mengambil jalan lain. Mereka harus bersedia menerima kesalahan dan dosa mereka, diri mereka sebagai sumber, dan kelemahan mereka sebagai manusia. Dengan menerima kesalahan dan dosa itu, mereka mendapatkan kesempatan untuk memeriksa secara mendalam hakikat kesalahan dan dosa mereka: dalam bidang apa mereka telah bersalah dan berdosa, seberapa parah kesalahan dan dosa itu, apa yang mendorong mereka berbuat demikian, sejauh mana mereka betul-betul terlibat dalam kesalahan dan dosa itu, dan lain-lain. Dengan menerima diri sendiri sebagai pangkal kesalahan dan dosa, mereka mempunyai titik tolak untuk lebih mengenal diri sendiri dan kelemahan mereka. Dengan menerima diri sebagai manusia yang lemah yang dapat bersalah dan berdosa, mereka mempunyai landasan untuk menjadi rendah hati dan dapat menerima kesalahan dan dosa dengan lapang hati, tanpa putus asa, tetapi dengan jujur sambil tetap ada niat untuk memperbaiki diri.

Kecuali tidak menyelesaikan masalah, orang-orang yang terlalu mudah main kambing hitam juga harus menyadari bahwa main kambing hitam itu merugikan orang lain. Tindakan ini dapat mencemarkan nama, menekan, dan memojokkan orang lain. Semua ini melanggar perikemanusiaan dan cinta kasih.

Demikianlah, dengan menangani secara langsung rasa salah dan dosa mereka serta dengan memperhitungkan tindak main kambing hitam bagi orang lain, sedikit demi sedikit mereka dapat sembuh dari dorongan yang menekan jiwa dan merugikan orang lain. Hidup ini sudah susah. Kita tidak perlu menambah kesusahan pada diri sendiri dan pada orang lain.

Salam damai penuh cinta.

***
Solo, Minggu, 28 Juli 2013
Suko Waspodo

0 comments:

Posting Komentar