Welcome...Selamat Datang...

Minggu, 22 September 2013

Tiga Tingkat Pengertian Ketaatan


Kamu pasti pernah dengar kata taat dan kata ini pasti berasal dari orang-orang yang sudah pada “tua” atau orang yang lebih dewasa dari kamu-kamu yang masih remaja. Kamu pasti merasa tidak nyaman mendengar kata yang satu ini, terutama kalau kata ini dipakai senjata para orangtua untuk “menyerang” kamu-kamu yang bandel. Kalau sudah begini, dunia rasanya sempit sekali. Karena tuntutan ketaatan rasanya seperti jala raksasa yang mengurung kamu dalam cengkeramannya.

Kamu tentu heran, mengapa kata itu selalu muncul kalau kamu sedang ada persoalan dengan orangtuamu. Rasanya kata itu sungguh menuntutmu untuk tetap jadi anak kecil yang sangat “taat” karena takut. Nah, agar tidak terjadi kesalahpahaman yang berkepanjangan antara kamu dengan orangtuamu, ada baiknya untuk melihat lebih dalam lagi apa sesungguhnya makna ketaatan itu.

Ada tiga tingkat pengertian ketaatan yang dapat kamu pahami di sini:

Pertama, Ketaatan Tingkat Biologis. Ketaatan ini ada hubungannya dengan cara kerja tubuhmu. Umpamanya saja, kamu sedang asyik bermain basket. Setelah dua jam pelajaran lari ke sana kemari sambil berteriak-teriak, pastilah cairan tubuhmu keluar banyak dalam bentuk sweat (keringat). Akibatnya otakmu pasti memerintahkan rasa haus untuk muncul untuk menanggulangi kekurangan cairan pada tubuh. Kalau sudah begini pasti kamu cepat-cepat cari minum. Ini berarti kamu taat seratus persen pada otakmu.

Kedua, Ketaatan Tingkat Sosial. Manusia itu adalah makhluk sosial. Makhluk yang hidupnya bermasyarakat, mempengaruhi dan dipengaruhi masyarakat. Pada tingkat ini ketaatan berhubungan dengan aturan-aturan masyarakat, baik tertulis maupun tidak tertulis. Contohnya: kamu diundang pesta ulang tahun sweet seventeen si Tania di Santika hotel. Pasti langsung teman-temanmu pada bingung cari busana yang pas dengan situasi dan kondisi undangan pesta itu, padahal tidak ada aturan tertulis tentang cara berpakaian dalam pesta itu. Pas hari H-nya ada yang memakai night gown yang hitam pekat dan ketat, yang cowok pakai dasi yang bermotif klasik atau yang berwarna menyolok, ada juga yang memakai busana batik. Di tengah suasana yang anggun ini kalau ada salah satu temanmu yang tidak mau taat dengan peraturan tak tertulis tentang berpakaian waktu pesta dan datang dengan pakai piyama loreng-loreng; pasti dia ditertawakan oleh teman-teman yang lain dan dipandang sinis oleh mereka yang konservatif. Inilah akibat buruknya kalau kamu tidak taat pada tingkat ini.

Ketiga, Ketaatan Tingkat Rohani. Manusia itu juga makhluk religius. Artinya dari awalnya memang manusia punya rasa berhubungan dengan Tuhan-nya. Pada tingkat ini manusia bertemu dengan aneka macam aturan agama atau moral. Manusia dituntut untuk taat bukan melulu untuk memenuhi aturan itu, tetapi demi kebaikan manusia itu sendiri. Misalnya, ada perintah Tuhan “Jangan mencuri!” Kalau kamu memaksa terus melakukan pencurian demi kesenangan pribadi, walaupun suara hati nurani berseru-seru melarangmu, kamu jatuh ke dalam dosa. Pada tingkat ini jika kamu tidak taat, ganjarannya cukup menggetarkan, yakni dosa, hanya Tuhan yang bisa menghapusnya.

Dari ketiga hal di atas dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa sikap taat itu wajar. Karena manusia tidak akan dapat hidup dengan tenang tanpa ketaatan.

Demikianlah dengan memahami tiga tingkat pengertian ketaatan ini diharapkan kamu tidak parno lagi dengan ketaatan dan secara wajar bersedia taat. Semoga.

Salam damai penuh cinta.

***
Solo, Minggu, 21 Juli 2013
Suko Waspodo

0 comments:

Posting Komentar