Welcome...Selamat Datang...

Sabtu, 21 September 2013

Mentalitas Jalan Pintas


Tito akan belajar, besok ada ulangan Kimia yang rumit-njlimet. Belum lagi bu Nunik, guru kimianya, orangnya judes dan mukanya asem terus seperti asam sulfat. Kalau siswa-siswinya dapat nilai merah, matanya melotot keluar, seolah-olah mau melarutkan siswa atau siswi oknum itu dalam asam khlorida. Kembali ke Tito, dia lagi akan mulai belajar, teman-temannya pada datang dan mengajak dia main ke mall dan sekaligus nonton film superhero yang lagi laris-larisnya. Tentu saja, wajah pemeran Man of Steel lebih menarik Tito daripada bu Nunik yang asem mukanya itu. Tito langsung mengucapkan goodbye pada buku-buku kimianya. Langsung cabut, nonton film. Pulangnya malam, badan capek, ngantuk. Tapi di meja rumus-rumus reaksi kimia masih menanti Tito. Tito kebingungan, lalu ambil jalan pintas. Mengapa susah-susah belajar. Ia mengambil kertas kecil lalu disalinnyalah seluruh rumus penting dengan rapi. Besoknya di kelas ia selipkan kertas kecil itu di ikat pinggangnya. Beres, pikirnya. Ternyata soal-soal ulangan direkayasa sedemikian rupa oleh bu Nunik, sehingga siswa-siswi harus berpikir cepat, kreatif dan hafal banyak rumus.Tito gelagapan, berkeringat dingin, dia tidak paham dengan soal-soal itu, ia sibuk mencari rumus yang pas pada kertas contekannya itu. Nah, bu Nunik yang gerak bola matanya melebihi kecepatan reaksi nuklir itu langsung menangkap basah Tito. Tentu saja kertas ulangannya langsung dapat gambar telor merah, besar sekali.

Ada satu contoh kisah lain lagi. Mirna suatu kali putus cinta dengan pacarnya yang cowok Boys Band yang imut luar biasa. Susah mendapatkannya, sekarang malahan putus. Hancur lebur perasaannya dan sakit hatinya. Apalagi sekarang ia sering melihat cowok Boys Bandnya itu selalu bergandengan tangan kemana-mana dengan cewek Girls Band yang masih baru. Merasa diri dicampakkan dan tak berarti lagi, Mirna minum obat tidur sekaligus 10 butir. Mengapa bisa begitu ya? Bisa saja, dunia sudah dipandang Mirna gelap melulu. Jadi untuk mendapatkan “terang dan tenang” ia mengambil jalan pintas obat tidur over dosis, agar RIP (Rest In Peace). Mengerikan.

Dari peristiwa Tito dan Mirna itu kita berhadapan dengan yang disebut mentalitas jalan pintas, atau istilah kerennya by pass. Mentalitas jalan pintas dalam menghadapi masalah. Yakni suatu kecenderungan mengambil jalan pintas dalam berusaha dan dalam memecahkan masalah.

Berani Mengambil Masalah

Penangkal mentalitas ini berbunyi: berani mengambil masalah. Banyak orang kalau menghadapi masalah malahan lari menghindar. Atau mau segera selesai lewat jalan pintas. Mungkin kamu juga cenderung demikian. Memang kamu bisa mengambil jalan yang terbaik untuk menyelesaikan masalah, tetapi jalan yang terbaik bukan harus jalan pintas. Kebanyakan masalah perlu diselesaikan secara bertahap, tidak bisa langsung begitu saja.

Banyak orang takut menghadapi masalah. Mengapa harus takut? Satria-satria abad-abad yang telah lalu menunjukkan ketangguhannya dalam menghadapi masalah. Entah itu dalam hal perang membela kebenaran, contohnya: Jeanne d’Arch (pahlawan puteri dari Perancis). Entah itu dalam hal ilmu (listrik), contohnya: Thomas Alpha Edison. Entah itu dalam hal penemuan (kimia), misalnya: Marrie dan Pierre Currie. Entah itu dalam bidang filsafat hidup, umpamanya: Yudhistira yang sangat jujur. Dan masih banyak lagi. Masalah yang mereka hadapi tidak ringan tetapi mereka punya keberanian untuk menghadapinya, tidak cepat takut atau menghindar, sungguh tahan uji dan tidak mengambil jalan pintas.

Kamu tidak perlu merasa takut. Manusia mana yang bisa lepas bebas dari masalah? Tidak ada kan? Sebenarnya berat ringan masalah itu tergantung dari cara kamu memandangnya. Maka bermentallah ksatria, berani. Berani menghadapi dan menyelesaikan masalah step by step, bertahap. Apabila demikian kamu akan menjadi tangguh. Hidupmu masih terbentang luas, tidak usah mengambil jalan pintas.

Mari kita jalani hidup ini dan menghadapi segala masalah yang mungkin terjadi sehingga kita menjadi pribadi yang tahan uji.

Salam damai penuh cinta.

***
Solo, Sabtu, 20 Juli 2013
Suko Waspodo

0 comments:

Posting Komentar