Welcome...Selamat Datang...

Minggu, 22 September 2013

Menghadapi Persoalan sebagai Tantangan Kreatif


Kita semua sering menghadapi persoalan. Ada yang besar, ada yang kecil; ada yang pelik, ada pula yang mudah untuk dipecahkan. Tetapi tidak semua persoalan dapat dan perlu dipecahkan secara kreatif. Ada persoalan yang timbul karena kita kekurangan informasi, dan pemecahannya dengan jalan mencari informasi tersebut. Ada persoalan yang timbul karena keengganan berusaha, dan hanya bisa diatasi dengan dorongan mental yang kuat.

Ada pula persoalan yang aneh, yaitu kita sendiri tidak tahu persoalannya apa, walaupun merasakan ada yang tidak beres. Untuk yang terakhir ini, kreativitas diperlukan, yaitu untuk menemukan dan merumuskan persoalan.

Sebenarnya cukup banyak persoalan yang pemecahannya tidak terbatas pada apa yang kelihatannya merupakan jalan yang biasa. Kalau dihadapi sebagai tantangan kreatif, kita mengarah kepada pemecahan yang jitu, karena kemungkinan-kemungkinan yang tadinya tak terpikirkan menjadi tersingkap.

Dalam permainan sepakbola misalnya, gol cukup sering dibuat oleh gerakan pemain bukan dari tengah, tetapi dari samping atau dari pinggir lapangan yang “jauh” dari gawang. Dikenal pula pemain “tanpa bola”, yang dalam irama gerakan team, bisa sangat efektif.

Kalau anda seorang guru, persoalan yang paling sering muncul adalah: bagaimana caranya agar siswa-siswi anda lebih mudah dan cepat menerima pelajaran. Anda berusaha untuk menghadapi masalah mengajar itu sebagai tantangan kreatif. Sebaiknya pikiran anda tidak dibatasi oleh hal-hal yang sudah biasa atau lazim saja. Mungkin anda mencoba merencanakan humor, puisi atau nyanyian yang dikaitkan pokok pelajaran tertentu. Hukum-hukum ilmu alam yang susah dihafal, dapat dibuat menjadi segar dan mudah melekat di otak dengan jalan diberi melodi lagu tertentu dan dinyanyikan. Pernahkah anda mendengar seorang guru yang mengadakan surat-menyurat dengan siswa-siswinya secara teratur, untuk lebih mengetahui isi hati mereka? Ini merupakan pendekatan baru. Singkatnya, kalau pikiran mau meninggalkan gambaran klise tentang mengajar yang hanya dilakukan secara formal di depan kelas saja, tidaklah sukar untuk menggali ide-ide yang efektif.

Hal tersebut bisa dimulai dengan cara-cara mengajak siswa-siswi ikut serta dan lebih aktif dengan pokok pelajaran tertentu, sampai memanfaatkan dinding kelas sebagai semacam media. Indonesia masih sangat kekurangan guru-guru yang kreatif.

Untuk mengatasi kekurangan ruang di rumah, anda dapat memikirkan secara kreatif bagaimana membagi ruang itu secara efisien tetapi tetap apik untuk dilihat. Atau anda bisa mencoba dengan gagasan yang revolusioner: membuat dinding ruang yang dapat dilepas-lepas, sehingga ruang dapat diperbesar atau diperkecil sesuai kebutuhan. Masalah dekorasi rumah memang penuh dengan tantangan untuk berkreasi. Lampu itu letaknya tidak selalu di atas, tetapi bisa juga di bawah (seperti yang dipakai di taman, atau lantai bertangga dalam gedung bioskop, kalau lampu utama dipadamkan). Anda bisa menciptakan kesan-kesan dekoratif yang unik.

Memasak, bagi para ibu sering terasa sebagai kerja rutin. Padahal dalam memasak terkandung kemungkinan variasi yang banyak sekali. Daging cincang kalengan yang tadinya hanya dipakai untuk teman roti atau nasi goreng, ternyata bisa diolah kembali menjadi 20 macam masakan.

Menulis surat, bagi banyak orang terasa sebagai beban yang berat. Padahal sepucuk surat adalah sarana yang sederhana untuk menuangkan gairah berkreasi kita secara luas. Seringkali surat itu diisi dengan basa-basi atau kabar tentang diri kita saja. Mengapa dibatasi untuk fungsi itu saja?

Kita bisa lebih menguraikan pandangan-pandangan kita terhadap berbagai masalah, mengisinya dengan macam-macam lelucon atau gambar-gambar (bukan sekedar tulisan saja), atau ide-ide lain. Format surat pun bisa dibuat beragam (tentu bukan untuk surat resmi). Tidak ada batasan untuk membuat surat yang komunikatif kecuali mungkin dari kemalasan atau keengganan kita sendiri.

Di mana-mana memang banyak masalah. Di kantor, di rumah, kampus, organisasi, lingkungan tetangga, dan sebagainya. Namun, begitu kita mau menghadapinya secara kreatif, beratnya beban persoalan itu sudah akan berkurang sedikit. Di sini terlihat hakikat dari kreativitas, yaitu bertalian erat dengan kegembiraan dalam bekerja dan belajar. Semangat bermain yang sehat dalam diri anak-anak dapat terus dilanjutkan sampai usia tua.

Tidak ada persoalan yang tidak dapat terpecahkan apalagi kalau kita mau mengoptimalkan kreativitas kita. Semoga sharing sederhana ini bisa sedikit memberi pencerahan dan manfaat bagi kita.

Salam damai penuh cinta.

Sumber bacaan: The Act of Creation by Arthur Koestler
***
Solo, Senin, 22 Juli 2013
Suko Waspodo

0 comments:

Posting Komentar