Welcome...Selamat Datang...

Jumat, 24 Juli 2020

Hati-Hati Terhadap Politik Mandi Lumpur



Kepalang basah dan sekalian mandi lumpur itulah tampaknya fenomena yang terjadi di kubu O2. Real count KPU saat tulisan ini disajikan sudah mencapai 62 % dengan persentase 55, 91% - 44,09% untuk kemenangan sementara kubu 01 atau Jokowi-Ma'ruf Amin. Meski pengumuman penghitungan total resmi KPU baru akan disampaikan pada tanggal 22 Mei 2019 tetapi kubu 02 terus mengumbar klaim kemenangan di pihaknya.

Di berbagai media kubu 02 terus menebar klaim kemenangan sembari menuduh pemilu kali ini curang secara sistematis, terstruktur dan masif. Yang terbaru mereka membuat pernyataan melalui ijtima ulama.

Mereka menyatakan hal itu dalam Ijtima Ulama 3 di Sentul, Bogor (Rabu (01/05), acara yang disebut pengamat sebagai upaya mendelegitimasi KPU dan hasil pemilu. Dalam kesimpulan acara, Yusuf Martak, Ketua Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Ulama mengatakan, "telah terjadi berbagai kecurangan dan kejahatan yang bersifat terstruktur, sistematis, masif dalam proses penyelenggaraan Pemilu 2019." Prabowo yang juga hadir dalam acara mengatakan bahwa kesimpulan pertemuan "cukup komprehensif dan tegas."

Bahkan sebelumnya AR  dan HRS juga mengancam akan menggerakkan masa, yang mereka sebut dengan people power, apabila hasil pemilu  dilanjutkan dan kemenangan bukan pada Prabowo-Sandi. Dalam hal ini juga tampak kejanggalannya, karena seperti kita ketahui bahwa yang disebut people power adalah gerakan rakyat dari bawah untuk menggulingkan pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada rakyat; sementara people power yang disebut AR dan HRS justru digerakkan oleh politisi busuk. Mereka mencoba menghasut dan menakut-nakuti rakyat.

Situasi inilah yang bisa kita sebut dengan politik kepalang basah. Kubu 02 selama ini tentu saja telah mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. Prabowo dan sekutunya sejak menjadi kubu oposisi hingga sekarang selalu membuat pernyataan-pernyataan yang kontroversial, tanpa data dan cenderung fitnah. Sejak awal mereka sudah menyiapkan diri untuk pantang malu, pantang niat baik dan beringas demi mencapai ambisi kuasa mereka. Maka ibarat sudah terlanjur basah maka tampaknya mereka cenderung sekalian ingin mandi lumpur.

Klaim kemenangan tanpa dasar dan bukti mereka paksakan untuk mencoba melawan lembaga resmi KPU. Bahkan di dalam berbagai kesempatan mereka mengatakan bahwa kalau yang menang Prabowo-Sandi mereka tidak akan mempersoalkan kecurangan yang mereka tuduhkan tetapi kalau yang menang Jokowi-Ma'ruf Amin mereka akan menganggap pemilu ini bukan hanya curang tetapi tidak sah.

Masyarakat harus waspada dan tidak terpengaruh dengan niat inkonstitusional kubu 02. Kecurangan yang sistematis dalam arti sudah dipersiapkan sebelumnya jauh-jauh hari jelas tidak terbukti. Terstruktur dalam arti ada perintah dari atas sampai bawah untuk hanya memilih 01 juga hanya tuduhan mengada-ada. Masif dalam arti terjadi kecurangan dalam jumlah atau persentase besar juga tidak benar karena yang terjadi bukan kecurangan tetapi kesalahan teknis yang jumlahnya hanya sekitar 144 kasus.

Yang lebih menarik adalah hasil survei Litbang Kompas yang menunjukkan tingkat kepuasan masyarakat terhadap pemilu 2019 yang mencapai kisaran 90%. Termasuk kepercayaan mereka terhadap hasil pemilu, siapa pun pemenangnya. Dari hasil survei ini juga bisa kita tarik kesimpulan bahwa sebagian besar umat islam negeri ini jelas tidak gampang terhasut oleh berbagai pernyataan atau hasutan yang mengatasnamakan agama. Jadi dalam hal ini apa yang ditebar oleh kubu 02 tentang kecurangan benar-benar mengada-ada.

Masyarakat wajib mendukung pernyataan KPU yang tidak akan tunduk kepada 02 atau 01 atau kepada pihak mana pun dan hanya akan tunduk kepada hukum dan undang-undang. Kita sebaiknya bijak menunggu hasil hitung resmi KPU dan selalu hati-hati terhadap politik mandi lumpur. Merdeka!

***
Solo, Kamis, 2 Mei 2019. 8:10 pm
'salam kritis penuh cinta'
Suko Waspodo
ilustr: suara.com

0 comments:

Posting Komentar