Welcome...Selamat Datang...

Sabtu, 25 Juli 2020

Suatu Malam



















kemarahan membasahi ruangan dengan tiba-tiba
aku sedang memikirkan engkau
membersihkan tas hitamku
aku menemukan dek tarotku, menunggu
di makam timah hijau
aku mengocok dan menangani
wajah salah satu lukisan
aku sudah mengerjakan
wajah merah mencakar

tutup cokelat malam
engselnya tertutup rapat
dan lampu mengarah kendur
dengan fitting kuning
aku menggambar menara
sepuluh pedang
sang pertapa
bentuk lampau, sekarang, masa depan
semua rusak

tetapi siapa yang terkejut?
aku menggagalkan semuanya sendiri
hanya kucing
pisau palet
dan gitar yang kesepian
membawa hidup ke hari
dibuat tipis dengan suram
terapi solipsisme
kesendirian yang tak tertahankan
dan keyakinan
bahwa aku tidak cocok
untuk semua itu

tentu saja, terkadang
depresi membusuk
kembali ke tanah liat yang sakit-sakitan
di mana ia pertama kali mekar
itu digantikan oleh ejekan
mania rendah yang melolong
setengah berharap 
bahwa masing-masing berdenyut
seperti mangkuk bernyanyi
dikombinasikan dengan yang profan
dengung ac

di saat-saat itu
hal-hal dilakukan.
tagihan dibayar
aku menjangkau orang lain
melanggar menguap acuh tak acuh
aku merasa di antara kita masing-masing
aku membelanjakan uang, mengikis bangku
ke bar, pinjam
seorang kenalan selama satu jam
atau minum minuman keras saja
sampai gigiku bernyanyi dan tenggelam

***
Solo, Kamis, 2 Mei 2019. 11:29 pm
'salam damai penuh cinta'
Suko Waspodo
antologi puisi suko
kompasiana
pepnews
ilustr: Edvard Munch

0 comments:

Posting Komentar