Welcome...Selamat Datang...

Selasa, 17 September 2013

Lembar Kerja Siswa (LKS), Pembodohan dan Bisnis Berkedok Pendidikan


Penggunaan LKS di sekolah merupakan bentuk pembodohan. Mengapa demikian? Karena para murid maupun siswa/i hanya belajar menjawab soal pertanyaan dengan jawaban yang sudah diarahkan, multiple choices. Mereka tidak pernah belajar mempertajam penalaran mereka dengan soal uraian. Selanjutnya, soal-soal yang digunakan juga itu-itu saja, hanya diambil secara acak dari soal-soal tahun-tahun sebelumnya.

Dalam kegiatan belajar mengajar pun, berlangsung proses pembodohan. Para peserta didik tidak mengalami proses peningkatan kecerdasan maupun ketrampilan. Guru cenderung hanya memberikan LKS dan menyuruh para siswa atau murid mengerjakannya. Penyelesaian hanya menurut kunci jawaban yang ada. Guru tidak menjelaskan materi pelajaran melainkan hanya mengajarkan cara menyiasati penyelesaian soal LKS. Guru juga menjadi tidak kreatif karena jarang membuat materi soal pertanyaan sendiri.

LKS ini juga merupakan bentuk bisnis berkedok pendidikan. Setiap mata pelajaran/bidang studi harus ber-LKS, bahkan bisa lebih dari satu macam LKS dari percetakan yang berbeda. Setiap siswa/murid harus memiliki (membeli) LKS. Sekolah dan para guru pasti selalu didatangi dan dirayu oleh percetakan melalui para salesman/saleswoman untuk menggunakan LKS buatan mereka, dengan iming-iming “komisi” untuk setiap LKS yang digunakan. Akibatnya siswa/murid dibebani dengan biaya pembelian LKS. Bukankah ini penindasan?

Kita mesti kritis terhadap kenyataan ini. Sekolah (formal) diselenggarakan mestinya untuk mencerdaskan rakyat (manusia), bukan menjadikan mereka obyek bisnis. Negara ini sudah dikelola oleh para makelar, demikian juga institusi pendidikan formal kita. Untuk mengembalikan tujuan pendidikan yang sebagaimana mestinya tidak ada cara lain kita mesti hancurkan makelarisasi pendidikan ini. Langkah awalnya dengan menghapuskan penggunaan LKS yang bukan hasil kreatifitas guru yang bersangkutan. Semoga apa yang saya ungkapkan ini bisa menjadi bahan refleksi kita bersama.

Salam damai penuh cinta.

***
Solo, Minggu, 22 April 2012
Suko Waspodo
kompasiana
antologi puisi suko
ilustrasi: kompasiana

0 comments:

Posting Komentar